Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Tradisi Lebaran "Sungkem Telompak"

Tradisi Lebaran "Sungkem Telompak"
Magelang, NU Online
Masyarakat lereng barat Gunung Merbabu menjalani tradisi merayakan Lebaran yang disebut sebagai "Sungkem Telompak" bertepatan dengan 5 Syawal 1431 Hijriyah di Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Selasa.

"Secara fisik saat tradisi ini berlangsung, masyarakat dua dusun bertemu dan berhalal bihalal, tetapi secara spiritual mereka menjalankan semangat untuk melestarikan lingkungan terutama mata air ’Telompak’," kata Kepala Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Riyadi, di Magelang.<>

Tradisi itu ditandai dengan kedatangan ratusan warga Dusun Kediten, Desa Pogalan dipimpin Kepala Dusun Sudarno Sardi dan pemuka masyarakat setempat Parto Wiyoto ke Dusun Gejayan, Desa Banyusidi yang diterima oleh Kepala Dusun Sulis Prasetyo dengan didampingi pemuka warga setempat Purwo Sugito.
 
Mereka yang berasal dari Dusun Keditan, sekitar tujuh kilometer ke arah timur Dusun Gejayan itu mengenakan pakaian adat Jawa dan kostum kesenian tradisional "Campur Bawur" antara lain ditandai dengan properti dua payung "songsong" berwarna kuning keemasan, bendera Merah Putih, kuda kepang, tombak, tameng, pedang, dengan tabuhan seperti "truntung", "jedhor", dan kenong tiba di halaman rumah Purwo Sugiyo yang juga juru kunci mata air Telompak sekitar pukul 12.00 WIB.

Ratusan warga setempat menyambut kedatangan warga tetangga dusun tersebut, sedangkan puluhan orang menggelar berbagai macam makanan, minuman, dan permainan anak di kawasan itu.

Sejumlah grup kesenian tradisional Dusun Gejayan seperti topeng ireng, geculan bocah, dan gupolo gunung turut menyambut kedatangan grup kesenian Keditan yang bernama "Jaya Budaya" itu.

Riyadi mengatakan, warga Keditan sejak 1932 hingga saat ini, setiap berlebaran datang ke mata air "Telompak" untuk berdoa dan memasang sesaji seperti tumpeng yang lengkap dengan sayuran, lauk-pauk, hasil bumi, dan bunga mawar warna merah dan putih, serta membakar kemenyan.

Mereka, katanya, sebelum menuju mata air yang berjarak sekitar 1,5 kilometer barat Dusun Gejayan itu bertemu terlebih dahulu untuk meminta izin dengan juru kunci mata air itu Purwo Sugito.

"Ketika itu, tahun 1932 terjadi paceklik di Keditan, mereka tidak bisa menanam apa-apa, tidak ada yang dipanen, air juga tidak ada, musim kemarau berkepanjangan ketika itu, warga setempat kemudian berdoa di mata air Telompak dan mendapatkan petunjuk dari penunggu mata air yang dikenal sebagai Prabu Singobarong," katanya.

Sejak saat itu, katanya, setiap Lebaran warga Keditan menggelar tradisi "Sungkem Telompak". Mereka menggelar kesenian tradisional "Campur Bawur" di mata air itu setelah selesai berdoa dan memasang sesaji dengan dipimpin juru kunci tempat itu.

Warga setempat juga mengambil air dari sumber itu dengan menggunakan tempat khusus untuk dibawa ke dusun setempat. Beberapa di antara mereka membasuh muka dari pancuran di mata air tersebut.

Saat mereka kembali ke Dusun Gejayan, melanjutkan dengan pementasan beberapa kesenian tradisional itu dengan ditonton ribuan warga setempat.      Ia menjelaskan, tradisi itu sebagai karya cerdas leluhur desa setempat.

Hingga saat ini, katanya, tradisi itu sebagai puncak keramaian masyarakat setempat dalam merayakan Lebaran.

"Karena ada tradisi itu, masyarakat kemudian merawat sumber air di Telompak, mereka tidak menebangi pohon sehingga mata air tetap lestari. Tradisi ini telah menjadi pendidikan lingkungan, pendidikan ekologi yang riil dilaksanakan oleh masyarakat sebagai kepandaian lokal," katanya.

Mereka, katanya, juga mengungkapkan syukur kepada Tuhan atas Hari Lebaran dan memohon keselamatan, kesehatan, serta rezeki yang cukup setelah Idul Fitri melalui tradisi tersebut.

Parto mengatakan, warga setempat menjalani tradisi yang telah diwariskan leluhur setempat saat Lebaran.

"Kami sowan pepunden di Telompak, minta berkah kepada Tuhan dan sekaligus berhalal bihalal dengan warga di sini," katanya.

Purwo menyatakan menyambut kedatangan warga Keditan untuk menjalani tradisi itu.

"Secara tulus kami menerima kedatangan warga Keditan ke sini untuk ke Telompak dan halal bihalal dengan warga kami," katanya dalam bahasa Jawa. Tradisi Lebaran  (ant/mad)


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Warta Lainnya

Terpopuler Warta

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×