Daerah

NU Mimika Berduka, Hj Asmawati Tokoh Perempuan Penggerak NU Berpulang

Ahad, 31 Agustus 2025 | 11:30 WIB

NU Mimika Berduka, Hj Asmawati Tokoh Perempuan Penggerak NU Berpulang

Hj Asmawati (keempat) dari kiri bersama grup shalawatnya. (Foto: PCNU Mimika Papua)

Mimika, NU Online
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

 

Telah pulang ke rahmatullah salah satu tokoh perempuan penggerak NU Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Hj Asmawati. Almarhumah wafat pada Rabu malam, 27 Agustus 2025, di Rumah Sakit Charitas, Mimika.


Grup-grup WhatsApp penuh dengan ucapan bela sungkawa dari berbagai kalangan di Mimika Papua Tengah. Kehilangan sosok perempuan sentral penggerak NU Mimika ini menjadi kesedihan mendalam bagi seluruh Nahdliyyin Mimika.

 

Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso mengatakan almarhumah merupakan lulusan Pondok Pesantren Al-Fattah, Siman, Sekaran, Lamongan, Jawa Timur, asuhan KH Abdul Fatah. Setelah menyelesaikan studinya, almarhumah merantau ke Mimika bersama suami tercinta, H Fadlan.


"Pada awalnya, beliau aktif di dunia dakwah, kemudian berhenti dan beralih ke dunia bisnis dengan membuka warung makan di sekitar Bundaran SP2, Kampung Timika Jaya. Sementara itu, suaminya, H. Fadlan, menjadi imam Masjid Al-Ikhlas SP2," kata Sugiarso, Ahad (31/8/2025).

 

Terjun Berdakwah
Sugiarso menerangkan pihaknya mengenal almarhumah sekitar tahun 2017 ketika memulai kegiatan istighotsah berkeliling di berbagai lokasi di Mimika.


"Saat itu saya bersama Ust. Hasyim ada jadwal istighatsah pada malam Minggu di SP6, Kampung Naena Muktipura, dan Minggu paginya istighatsah di Masjid Al-Ikhlas SP5, Kampung Limau Asri, bakda Subuh,” kenang Sugiarso yang juga Ketua Jamaah Istighotsah.


“Malam harinya kami tidak pulang, namun menginap di rumah salah satu warga SP9, Pak Mudayani. Kami berangkat jam 04.00 sebelum Subuh ke Masjid Al-Ikhlas SP5," tambah Ustadz Hasyim Asy’ari, alumnus Pesantren Darussalam Blokagung, Banyuwangi, yang kini menjadi Rais Syuriyah PWNU Papua Tengah.

​​​​​​​

"Saat kami pulang ke Base Camp Bandara Mozes Kilangin, kami mampir di warung H Fadlan yang dikelola bersama Hj Asmawati. Saat itu mereka sedang membuka usaha warung makan,” tambahnya.


Pertemuan ini menjadi media diskusi kegiatan istighotsah yang direncanakan di Masjid Al-Ikhlas SP2, serta berbagai hal terkait ke-NU-an di Mimika.


"Mari sarapan dulu, seadanya saja. Masakan orang desa, mohon maaf jika tidak enak,” tutur Sugiarso menirukan almarhumah kala itu.


Beberapa saat kemudian, almarhumah membulatkan tekad untuk kembali terjun ke dunia dakwah dengan berhenti berjualan. Almarhumah berkomitmen menjalankan amanah dari gurunya untuk menyebarkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah di Mimika. Perjuangan dimulai dengan aktif di kegiatan istighatsah, mengajar di TPQ An-Nahdliyyah SP2, memberikan ceramah, serta mengisi pengajian ibu-ibu majelis taklim di sekitar SP2.


Hampir semua majelis taklim ibu-ibu di Mimika saat itu pernah dihadiri olehnya.Almarhumah dikenal fasih membaca Al-Qur’an, bersuara merdu, dan lantang saat melantunkan shalawat, sebuah kelebihan yang jarang dimiliki penceramah perempuan lain.


Merintis Pesantren
Intensitas kegiatan yang semakin tinggi menguatkan tekad beliau untuk merintis pesantren. Pada tahun 2019, bersama pengurus lain, almarhumah mendirikan Pondok Pesantren Darussalam Mimika yang berlokasi di Km 14, Kampung Mwuare, Mimika Timur. Ia dikenal gigih mengurus operasional pesantren sehari-hari demi keberlanjutannya.


Momen fenomenal lainnya terjadi saat almarhumah menjadi ketua panitia Harlah Muslimat Kabupaten Mimika 2019. Tantangan luar biasa muncul karena kegiatan itu sempat disalahpahami sebagian warga NU sebagai acara yang tidak legal. Namun berkat tekadnya, acara tetap berjalan sukses hingga akhir.

 

Merintis Grup Shalawat Remaja
Dari aktivitas dakwahnya lahirlah sebuah gerakan remaja berupa grup shalawat Ahbaabul Musthofa Mimika. Peran almarhumah dalam mendirikan grup ini diakui ketuanya saat ini, Dicky. Para remaja memanggilnya dengan sebutan “Umi.”


"Latihan pertama gabungan shalawat dilakukan di Aula TPQ An-Nahdliyyah Masjid Al-Ikhlas SP2 pada hari Jumat. Umi membagikan kertas berisi teks shalawat, membacakannya, lalu meminta kami mengikuti dengan suara keras. Setelah itu, kami diminta menampilkan shalawat di grup masing-masing. Inilah cikal bakal Ahbaabul Musthofa,” terang Dicky.


"Saat itu Umi meminta syair Addinu Lana dilantunkan bersama semua grup. Ternyata saya dan Aldi yang bisa melanjutkannya. Sejak saat itu, Umi menunjuk saya dan Aldi sebagai vokalis Ahbaabul Musthofa,” kenangnya sesaat setelah mengantarkan jenazah almarhumah ke pemakaman.

 

Merintis Fatayat NU Mimika
Prestasi lain yang tak terlupakan adalah peran almarhumah dalam pembentukan Fatayat NU Mimika. Tanpa dirinya, Fatayat NU Mimika tidak akan pernah berdiri.

 

Saat itu, pembentukan ranting tidak berdasarkan desa, tetapi masjid atau majelis taklim ibu-ibu. Hj. Asmawati menjadi kunci karena beliau dipercaya banyak majelis taklim. Dengan pengaruhnya, ajakan untuk membentuk Fatayat Ranting selalu disambut baik.


Kesanggupan majelis taklim diperkuat dengan dukungan Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso, dan Wakil Rais Syuriyah PCNU Mimika, Ust. Hasyim Asy’ari. Almarhumah dikenal cair berkomunikasi dengan sesama penggerak NU Mimika, khususnya para sesepuh dan tokoh istighatsah.

 

“Bagi kami, almarhumah bukan hanya teman seperjuangan, tapi guru bagi keluarga kami. Beliau selalu memberi motivasi berkhidmah di NU, sehingga istri saya semangat mendukung kegiatan dan aktif di Fatayat NU Mimika," kenang Bendahara PCNU Mimika, Iswahab.


"Rasa kehilangan warga NU Mimika terbukti hingga malam keempat tahlilan, tak kurang dari 200 jamaah hadir setiap malam mendoakannya. Mereka datang dari berbagai penjuru Timika tanpa diundang sambil membawa sumbangan, sehingga tidak membebani keluarga yang ditinggalkan,” lanjut Iswahab.

 

Menurutnya, hal ini menjadi bukti bahwa bila seseorang berjuang di jalan Allah dengan ikhlas tanpa pamrih, maka Allah akan memuliakannya di dunia dan akhirat.