Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Kiai Marzuki Ingatkan Pentingnya Ilmu dalam Proses Menyembelih Hewan

Kiai Marzuki Ingatkan Pentingnya Ilmu dalam Proses Menyembelih Hewan
Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar. (Foto: Istimewa)
Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar. (Foto: Istimewa)

Rembang, NU Online
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Marzuki Mustamar menjelaskan pentingnya menyembelih hewan dengan ilmu.


Menurut Kiai Marzuki, kesalahan dalam bab menyembelih akan membuat seseorang memakan bangkai. Sementara bangkai dalam syariat Islam dihukumi najis dan makan barang najis dilarang agama.


Hal ini disampaikannya saat Maulid Nabi Muhammad dan Haul Masyayikh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (1/10/2022).


“Ilmu penting, terus ngaji. Belajar cara menyembelih. Banyak sekali orang tidak hati-hati dalam penyembelihan. Sehingga sama dengan makan bangkai. Makan bangkai maka mulutnya najis, sebab makan najis. Jika shalat, mulut bekas makan tadi sama saja bawa najis,” jelasnya.


Kiai asal Malang Jawa Timur ini mengatakan, 40 persen proses penyembelihan di pasar Kabupaten Malang yang dipotong adalah bagian di atas jakun. Sehingga sama saja memotong lidahnya ayam.


Ada juga yang memotong di bawah jakun, tapi tidak putus jalannya nafas. Kebanyakan orang di pasar menyembelih ayam hanya dengan mengangkat leher ayam, lalu dipotong sedikit. Kadang di atas jakun, kadang di bawah jakun dan hanya luka sedikit.


Menurut kitab Fathul Mu'in, lanjut Kiai Marzuki, syarat menyembelih yaitu pisau tidak boleh dilepas sebelum jalan nafas dan saluran makan putus keduanya.


“Sunnah menurut mazhab Imam Syafi'i yaitu memotong urat nadi kanan kiri di leher dan tandanya akan keluar darah banyak. Sehingga cepat mati, tidak menyiksa,” imbuhnya.


Kiai Marzuki menjelaskan, seringkali orang jual ayam, ternyata masih ada darah di dagingnya. Ini ada dua kemungkinan, bisa karena menyembelihnya tidak sah atau menyembelihnya sah. Hanya saja, belum mati total dan darah belum keluar semua. Kemudian dimasukkan ke air panas untuk dicabut bulunya. Kalau darah di otot ayam dimaafkan.


Ada juga yang jika dilihat sembelihannya sah, di bawah jakun dan memutus jalur nafas dan makan. Hanya saja, bekas sembelihannya tidak melebar. Ini kemungkinan ayamnya sudah mati lalu lehernya tetap dipotong kayak prosesi penyembelihan.


“Dalam masalah hewan kurban, setelah menyembelih, maka dibiarkan dulu agar keluar darahnya sehingga mati total. Baru mulai dipotong. Jika masih gerak-gerak atau hidup dan sudah mulai dipotong, menurut Kitab Bulughul Maram dihitung bangkai,” tegasnya.


Kiai Marzuki kembali menegaskan, peristiwa di atas menunjukkan betapa ilmu sangat penting dalam bidang apapun mulai ilmu tajwid, fikih, hingga tasawuf. Ibadah tanpa dasar ilmu, tidak jadi ibadah.


“Untuk yang tajwid-nya kurang pas, sowanlah kepada guru. Yang belum betul rukun shalatnya, harus sowan guru untuk belajar fikih, mulai taharah, syarat, dan rukun shalat hingga tata cara sujud,” pesannya.


“Pokoknya saya berpesan, kaum muslimin terus belajar, jangan berhenti belajar. Bagaimana pun, ilmu sangat penting dalam bidang apapun,” pungkas Kiai Marzuki.


Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Musthofa Asrori



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×