Home Nasional Warta Esai Khutbah Daerah Cerpen Fragmen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Keislaman Internasional English Tafsir Risalah Redaksi Opini Hikmah Video Nikah/Keluarga Obituari Tokoh Hikmah Arsip Ramadhan Kesehatan Lainnya

Pesantren Jaga Islam dari Dua Sisi, Ilmu dan Akhlak

Pesantren Jaga Islam dari Dua Sisi, Ilmu dan Akhlak
Pesantren jaga Islam dari dua sisi, ilmu dan akhlak. (Foto: Romzi Ahmad).
Pesantren jaga Islam dari dua sisi, ilmu dan akhlak. (Foto: Romzi Ahmad).

Garut, NU Online

Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Garut menyampaikan bahwa pesantren merupakan penjaga Islam di Indonesia. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan penutupan Gebyar Maulid yang dilaksanakan di Lapangan SMK Fauzaniyyah Komplek Pesantren Fauzan RT 05 RW 05 Desa Sukaresmi, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut. (16/10)


Menurutnya, agama Islam hanya bisa dijaga dengan ilmu. Sejarah telah membuktikan bahwa jika Islam hanya dijaga dengan kekuasaan (khilafah), itu tidak bisa bertahan selamanya. Buktinya ketika Islam dijaga oleh Turki Usmani, hanya bertahan sampai tahun 1924 masehi.


Namun Islam dijaga dengan ilmu, sebagaimana rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh panitia Gebyar Maulid, secara tidak langsung hal tersebut merupakan cara menjaga ilmu dengan menyebarkan ilmu.


Menurutnya, sebagaimana nabi, penyebaran Islam dilakukan melalui ilmu, bukan dengan kekuasaan. Walaupun sudut pandang sebagian orang menganggap bahwa nabi merupakan khalifah.


Ia menegaskan, bahwa Islam hanya bisa dijaga dengan dua hal, yakni dengan menjaga dengan ilmu dan menjaga islam dengan akhlak. Tradisi menjaga ilmu dan akhlak basisnya ada di pesantren, sehingga pesantren dipandang sebagai penjaga agama Islam karena menjadi basis penjaga ilmu agama dan penjaga akhlak.


Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Bisnis Syari’ah (STIEBS) NU Garut itu menitip pesan kepada Nahdliyin untuk terus konsisten menjaga tradisi ulama, yaitu dengan terus belajar di pesantren untuk menjaga ilmu dan menjaga akhlak. Ia mengingatkan kepada para santri agar jangan pernah bercita-cita mencari ilmu dengan tujuan untuk menjadi kyai dan ingin dihormati.


Aceng Hilman, sapaan akrabnya, mengisahkan pengarang kitab Fath al Qorib, yakni Syekh Abu Syuja’ yang berusia 160 dan wafat pada tahun 593 H atau 1197 M yang lalu. Kitab yang dikarangnya sampai sekarang masih eksis dikaji di pesantren. Jika kita tahu akhir hayatnya Syekh Abu Syuja, ia menjadi marbot Masjid Nabawi, yang setiap hari membersihkan masjid, menyalakan lampu, dan menjaga diri dari segala hal yang dilarang oleh Allah swt.


“Jika kita menjaga agama dengan ilmu dan akhlak. insyaallah, dengan izin Allah agama Islam akan tetap jaya sampai hari akhir.” Tegas Aceng Hilman


Hadir dalam kegiatan penutupan tersebut, Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziah MWCNU Sukaresmi KH Aceng Muhammad Ali dan KH Aceng Aup Fauzani, Ketua KNPI Sukaresmi Jejen Jaenudin, Sesepuh Pondok Pesantren Mambaul Faizin Cisurupan KH Aceng Dudum Abdusalam, Sesepuh Pondok Pesantren Mukhtarol Faizin KH Aceng Bubuh Hasbullah, Para tamu undangan dan ribuan nahdliyin dari berbagai daerah yang memadati tempat penutupan Gebyar Maulid.


Kontributor: Muhammad Salim
Editor: Syakir NF



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×