Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Tanpa Penerangan Listrik, Kiai Muhtar Syiar Islam di Pedalaman Kotawaringin Barat

Tanpa Penerangan Listrik, Kiai Muhtar Syiar Islam di Pedalaman Kotawaringin Barat
Kiai Muhtar saat mengajari Al-Qur'an kepada anak-anak di Desa Sungai Dau, Arut Utara, Kotawaringin Barat (Kobar). (Foto: NU Online/Suhud)
Kiai Muhtar saat mengajari Al-Qur'an kepada anak-anak di Desa Sungai Dau, Arut Utara, Kotawaringin Barat (Kobar). (Foto: NU Online/Suhud)
Kotawaringin Barat, NU Online
Kiai Mukhtar (57) warga Desa Sungai Dau, Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng) tak putus asa menyebarkan agama Islam meskipun tanpa penerangan listrik. Sosok Kiai Muhtar sendiri tidak banyak dikenal oleh masyarakat dari desa lainnya karena profesinya sebagai petani perkebunan. 
 
Desa Sungai Dau yang sebelumnya dengan nama Bina Desa adalah merupakan desa pemekaran dari Desa Sambi pada tahun 2008 lalu. Letak desa ini paling ujung di Kabupaten Kobar dan berbatasan dengan Kabupaten Seruyan dengan jumlah penduduk berkisar 50 KK. Jarak tempuh perjalanan darat menuju desa ini dari kota kabupaten sekitar 5 hingga 6 jam dengan medan yang cukup sulit. 
 
"Alhamdulillah sekarang hampir 50 persen sudah memeluk agama Islam," ucap Muhtar saat ditemui kontributor NU Online di kediamannya, Ahad (8/8) siang. 
 
Ia menjelaskan dengan berjalannya waktu pada tahun 2019 berdirilah Masjid An-Nur dan mulai banyak yang masuk agama Islam hingga bisa dipergunakan sebagai tempat belajar agama dan membaca Al-Qur'an.
 
Mengingat sudah ada tempat Ibadah, lanjut Muhtar, maka pada Jumat lalu, sudah dilaksanakan shalat Jumat pertama kalinya. Karena selama ini warga shalat Jumat di desa tetangga melewati jalan yang terjal serta berdebu dengan jarak 8 kilometer.
 
Dikatakannya, sering kali shalat maghrib dan isya' hanya menggunakan lampu pelita, mengingat di desa ini belum ada listrik PLN. Hal itu dikarenakan tidak ada biaya untuk membeli BBM untuk genset guna penerangan rumahnya dan masjid. 
 
Selain menjadi imam masjid, Muhtar juga merangkap menjadi guru ngaji, adzan dan juga belajar shalat. Semua itu ia lakukan karena masih banyak yang belum tahu, terlebih pada remaja dan anak-anak. 
 
"Da'wah agama Islam itu butuh kesabaran. Tidak perlu terburu-buru, yang penting semuanya jalan," tandas Muhtar. 
 
Kades Santo, melalui Abdurrahman yang merupakan Sekdes Sungai Dau mengatakan pada bulan Agustus ini rencananya jaringan PLN sudah dipasang. Hal itu sesuai program pemerintah tahun 2021 ada dua desa yang dialiri listri yaitu Desa Sungai Dau dan Sambi. 
 
"Rencananya bulan Agustus ini sudah terpasang jaringan listrik PLN untuk dua desa," jelas pria asal Kabupaten Lombok NTB yang sudah lama berdomisili di desa tersebut. 
 
Dikatakannya, setelah listrik masuk di desanya akan dilanjutnya pada pengajuan jaringan telepon yang saat ini belum ada sinyal. 
 
"Di desa ini tidak ada sinyal HP. Jadi tidak bisa komunikasi. Setelah ada listrik baru kami ajukan penguat jaringan," pungkasnya. 
 
Kontributor: Suhud Mas'ud
Editor: Syamsul Arifin


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×