Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Kisah Sukses Nyai Solichah Wahid Mendidik Anak-Anak, Pernah Berjualan Beras

Kisah Sukses Nyai Solichah Wahid Mendidik Anak-Anak, Pernah Berjualan Beras
Nyai Solichah Wahid Hasyim bersama anak-anaknya. (Foto: Buku Biografi Wahid Hasyim)
Nyai Solichah Wahid Hasyim bersama anak-anaknya. (Foto: Buku Biografi Wahid Hasyim)

Nyai Sholichah Wahid Hasyim masih menempati rumah di Jalan Matraman Barat atau di Taman Amir Hamzah saat ini. Perasaan sedih kala itu memang menggelayut dalam diri Nyai Sholichah ketika 6 putra-putrinya harus ditinggal wafat KH A Wahid Hasyim.


Saat itu, mereka masih memerlukan kasih sayang seorang ayah. Kiai Wahid meninggal dunia akibat kecelakaan mobil yang menimpanya di Cimahi Bandung saat perjalanan dari Jakarta.


Beban untuk mendidik hingga menyekolahkan keenam anaknya itu betul-betul sangat dirasakan oleh Nyai Sholichah Wahid Hasyim karena tidak banyak peninggalan suaminya selain ilmu dan perjuangan yang tiada tara.


Nyai Sholichah menuturkan, suaminya adalah seorang pejuang yang tentunya tidak banyak perhatiannya pada harta benda, melainkan keikhlasan. Pada saat itu, kisahnya, kondisi dan keadaan negara tidak semaju sekarang.


“Jadi, walaupun menjabat menteri juga tidak banyak uang. Wal hasil, tidak ada persiapan ekonomi apa-apa dan tidak meninggalkan warisan harta yang cukup untuk keperluan hidup dan pendidikan anak-anak,” tutur Nyai Sholichah. (Majalah Risalah Islamiyah, 1977: 28)


Namun demikian, bagi Nyai Sholichah terpenting suaminya telah meninggalkan ilmu pengetahuan dan pelajaran hidup yang sangat berharga untuk bekal anak-anaknya di masa mendatang. Hal ini menjadi keyakinan dirinya dalam setiap usaha yang dilakukannya agar keenam anaknya dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, termasuk ketika Nyai Sholichah membuka usaha jualan beras.


“Dalam usaha dagang beras itu, seingat saya bisa mendapat keuntungan Rp2,50 alias seringgit tiap kuintalnya,” ujar Nyai Sholichah (1977: 29).


Uang satu ringgit kala itu memang bukan uang yang sedikit sehingga usaha dagangnya itu mampu mencukupi bagi kehidupan dan pendidikan anak-anaknya. Usaha dagang beras terbilang sukses, Nyai Sholichah juga berusaha membuka usaha-usaha lainnya, seperti usaha leveransir (semacam jasa penyedia barang, red) bagi pembangunan Tanjung Priok kala itu.


Bagi Nyai Sholichah, meskipun suaminya seorang menteri, pejuang bangsa dan salah satu perumus dasar negara Indonesia, tidak lantas membuatnya bergantung pada sederet kiprah dan prestasi tersebut. Biarlah bangsa Indonesia yang menilai, mengingat, atau bahkan memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi KH Wahid Hasyim. Dalam hal inilah Nyai Sholichah berprinsip bahwa tidak ada usaha yang tidak pantas dalam mencari rezeki halal, tentu asal usahanya halal pula.


Atas kerja kerasnya tersebut, Nyai Sholichah berhasil mencukupi kebutuhan bagi pendidikan keenam anaknya. Apalagi 6 anaknya tersebut terbilang anak-anak yang cerdas dan sholeh. Semua anaknya itu dididik dan disekolahkan di Jakarta untuk pertama kali, kemudian ada yang melanjutkan ke Jawa Tengah (Pesantren Tegalrejo), ITB, dan Mesir.


Pendidikan agama
Dalam hal pendidikan agama, ketika suaminya masih hidup, anak-anak Nyai Sholichah sering mengaji kepada ayahnya sendiri di tengah kesibukannya menjabat sebagai Menteri Agama.


Tradisi shalat jamaah pun diterapkan betul oleh Nyai Sholichah untuk mewujudkan kedisiplinan anak-anaknya. Setiap Maghrib harus berjamaah, lalu dilanjut dengan mengaji Al-Qur’an bersama-sama. Khusus malam Jumat, mereka juga diharuskan membaca tahlil secara berjamaah.


Dalam pandangan Nyai Sholichah, pendidikan agama sangat penting dalam membina moral anak-anak sehingga peran apapun yang dijalani anak-anaknya kelak, mereka tetap terjaga untuk taat kepada Tuhannya.


Selain itu, pendidikan rohani juga mampu menjadikan anak tidak mudah minder (kecil hati) karena Islam mendidik manusia berhati besar tetapi tidak sombong.


Pendidikan berharga yang selalu ditekankan oleh Nyai Sholichah juga terkait dengan berusaha menjadi diri sendiri, beramal dengan karya sendiri, tidak menggantungkan dan membonceng orang lain, terutama membonceng kebesaran orang tua.


Karena menurut Nyai Sholichah, lebih baik menjadi orang besar karena karyanya sendiri daripada menjadi besar karena orang tuanya. Oleh sebab itu, dalam pandangan Nyai Sholichah, bekal akhlak dan ilmu pengetahuan mempunyai peran yang sangat penting.


Saat wafat pada 19 April 1953, KH Wahid Hasyim meninggalkan 6 orang anak yang masih duduk di sekolah dasar. Keenam anak tersebut yaitu Abdurrahaman Addakhil berusia 14 tahun dan baru lulus sekolah dasar saat itu. Konon nama ini berasal dari nama tokoh Bani Umayyah yang mendirikan Daulah Umawiyah di Andalusia.


Kedua, Aisyah berusia 12 tahun dan baru kelas 5 sekolah dasar. Ketiga, Salahuddin Al-Ayyubi yang kini dikenal Salahuddin Wahid berusia 10 tahun dan baru kelas 3 sekolah dasar.


Keempat, Umar Al-Faruq berusia 9 tahun dan baru duduk di kelas 2 sekolah dasar. Kelima, Lily Khodijah yang baru berusia 5 tahun dan masih belajar di taman kanak-kanak. Keenam, Muhammad Hasyim yang saat itu masih di dalam Nyai Sholichah yang baru berusia 3 bulan.


Penulis: Fathoni Ahmad
Editor: Musthofa Asrori



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Fragmen Lainnya

Terpopuler Fragmen

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×