Internasional

Bermaksud Bantu Warga Sipil Sudan, Uang Relawan PCINU Digasak Pihak yang Bertempur

Ahad, 7 Mei 2023 | 19:00 WIB

Bermaksud Bantu Warga Sipil Sudan, Uang Relawan PCINU Digasak Pihak yang Bertempur

Relawan PCINU Sudan tengah mendistribusikan bantuan dan logistik untuk warga negara Sudan. (Foto: Dok. PCINU Sudan)

Jakarta, NU Online

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan sempat bergerak membantu Warga Negara Indonesia (WNI) dan masyarakat Sudan yang terisolasi akibat perang yang terjadi sejak Sabtu (15/4/2023). PCINU pun menggalang donasi untuk memenuhi kebutuhan WNI dan masyarakat Sudan mengingat stok bahan makanan yang tersedia sangat terbatas.


Sekretaris PCINU Sudan 2020-2021 Hadziq Mubarok menceritakan bahwa ada relawan yang diberhentikan ketika tengah kembali dari pembelian logistik. Saat itu, relawan diperiksa. Mereka mengira relawan WNI itu warga Mesir yang menjadi pasukan.


“Ketika diberhentikan, kita diperiksa dan mengira kami adalah dari pasukan atau warga negara Mesir. Yang mana saat itu sedang ramai pasukan Mesir masuk ke wilayah Sudan,” kata Hadziq kepada NU Online pada Ahad (7/5/2023).


Setelah diperiksa, lanjut Hadziq, ada beberapa dari relawan yang uangnya terkena rampas. “Tanpa pertimbangan panjang akhirnya kami berikan demi keamanan diri kami,” ujar mahasiswa ilmu hadits Universitas Internasional Afrika, Khartoum, Sudan itu.


Padahal, relawan telah menunjukkan identitas bahwa mereka adalah WNI. “Kita sudah sampaikan juga kalau kita dari Indonesia dan perwakilan Pemerintah yang ada di Indonesia. Lagi-lagi dari pihak tersebut sulit,” ujarnya.


Setelah peristiwa itu, pihaknya menjadi lebih berhati-hati dalam bergerak mendistribusikan logistik kepada warga yang berhak. “Kami sudah lebih berhati-hati dalam pergerakan distribusi dan pengadaan logistik. Yang mengakibatkan pendistribusian sedikit terhambat,” katanya.


Tak pelak, karena situasi yang sulit itu, pihaknya hanya dapat menjangkau orang-orang terdekat saja dalam pendistribusian logistik tersebut. “Dan ketika pendistribusian juga kami hanya bisa menjangkau WNI yang ada di sekitaran saja. Karena akses pendistribusian terbilang tidak aman dan berbahaya,” ujarnya.


Perang yang berkecamuk itu tak membuat warga NU dan Indonesia di sana berdiam diri di balik tembok tempat tinggalnya. Mereka justru bergerak untuk membagikan bantuan logistik bagi rekan-rekannya dan warga setempat yang aksesnya terbatas.


“Pada malam pertama, saya dan bersama teman-teman Indonesia yang lain berinisiatif untuk mendistribusikan bantuan, karena pada saat ini banyak akses yang terputus ataupun sulit dijangkau,” kata alumnus Pondok Pesantren Al-Ittihad dan Al-Kautsar Cianjur, Jawa Barat itu.


Panik borong makanan

Di saat konflik seperti itu, masyarakat Sudan pun panik sehingga memborong makanan sebisa-bisanya. Banyak toko dan swalayan yang stok barangnya habis, ludes dibeli karena khawatir semakin lama, konflik semakin membara, mereka kian sulit untuk memperoleh bahan makanan.


“Masyarakat pada saat itu terkena panic buying, toko dan swalayan banyak yang habis stok dagangannya, waktu berbelanja (waktu kemanusiaan) tidak menjamin keselamatan, akses ke sana ke mari banyak yang berbahaya,” ujar pria asal Jakarta itu.


Karenanya, ia merasa banyak sekali pelajaran yang sangat berkesan. Nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan gotong royong menjadi sangat berharga. Tidak kalah juga dengan konsep kehidupan yang telah Islam ajarkan terkait kesabaran, kepasrahan, dan selalu berprasangka baik adalah sebuah kunci dan sangat lebih terasa di kondisi seperti ini. 


“Hal ini juga menyadarkan saya selaku yang diamanahi sebagai bagian keuangan relawan gerakan peduli Sudan, mengerti bahwa ‘tidak selamanya uang dapat menjamin kehidupan/kesenangan’. Karena kondisi Sudan saat ini menuntut kami dalam kondisi yang lumayan menyulitkan,” katanya.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad