Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Lebaran di Sudan, Warga Indonesia Suka dengan Minuman Khasnya

Lebaran di Sudan, Warga Indonesia Suka dengan Minuman Khasnya
Warga NU di Sudan pada perayaan Idul Fitri 1443 Hijriah. (Foto: istimewa)
Warga NU di Sudan pada perayaan Idul Fitri 1443 Hijriah. (Foto: istimewa)

Jakarta, NU Online

Lebaran di Sudan tak berbeda dengan Indonesia yang kaya dengan berbagai macam hidangan. Hal yang menjadi pembuka biasanya adalah manisan. 

 

"Yang menarik dan unik berbagi manisan," ujar Hibatullah Zain, A'wan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan, kepada NU Online pada Jumat (6/5/2022). 


Di depan toko, katanya, banyak yang menjual itu. Masyarakat Sudan belanja manisan sejak lima sampai tiga hari sebelum lebaran. Menurutnya, salah satu suguhan wajib di hari besar Islam. 


Manisan itu juga, cerita Hibatullah, yang pertama kali disuguhkan Syekh Mukhtar, seorang Mursyid Tarekat Samaniyah Hasyimiyah, saat ia sowan kepadanya. "Saya sowan ke Guru Syekh Mukhtar. Yang disuguhkan pertama kali pasti permen," ujarnya. 


Sementara itu, makanan khas Lebaran di Sudan yang juga tersaji sepanjang bulan Ramadhan adalah asidah. Makanan ini terbuat dari tepung yang dimasak sampai airnya habis hingga menjadi semacam jelly.


Ada juga makanan yang berkuah. Makanan ini disebut roup, terbuat dari susu dan sambel kacang. Ada pula tagalea yang terbuat dari tumbuhan okra dan memiliki cita rasa yang asin. Sementara makanan yang manis juga ada, dikenal dengan sebutan syi'riyah. Makanan ini memiliki bentuk seperti mie dan manis.


Sementara itu, Hibatullah menyampaikan bahwa banyak orang Indonesia yang menyukai minuman khas lebaran yang disebut khulmur. Dinamai khulmur karena minuman ini memiliki rasa yang manis (khulwun) sekaligus pahit (mur). Campuran rasa itu memberikan sensasi yang segar. 


Ketua PCINU Sudan 2020-2021 itu juga menyampaikan bahwa Sudan memiliki tradisi silaturahim ke sanak famili, tetangga, dan handai taulan. Karenanya, pada hari-hari awal hingga lima hari selepas lebaran, jalanan sepi dan sulit untuk mencari angkutan umum. "Karena semuanya ziarah ke tetangga dan keluarga masing-masing," ujarnya. 


PCINU Sudan sendiri itu menggelar takbiran di sekretariat pada malam lebaran. "Kita semalaman takbiran di PCINU Sudan. Kadang-kadang kita bakar ayam ikan sate untuk mengobati kerinduan Indonesia," katanya. 


Pada hari lebarannya, PCINU menggelar halal bihalal. Seluruh warga NU di Sudan, baik mahasiswa dan pekerja berkumpul di sekretariat. "Habis shalat langsung kumpul. Ngobrol bareng. Itu selepas shalat Id," ucapnya. 


PCINU Sudan juga menggelar Open House. Beberapa organisasi primordial dan alumni pondok pesantren bersilaturahim. Ada juga tradisi sowan dari satu angkatan keberangkatan baru ke senior angkatan keberangkatan lama. 


Sebelum ada Covid-19, seluruh warga Indonesia mengikuti shalat Id bersama di KBRI. Ada sekitar 500 orang berkumpul. Selepas shalat, warga Indonesia saling bersilaturahim dan makan makanan khas lebaran Indonesia.


Namun, sampai tahun ini sejak pandemi Covid-19 melanda, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) belum membolehkan KBRI untuk menggelar acara serupa, kecuali terbatas untuk beberapa orang saja.


Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Internasional Lainnya

Terpopuler Internasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×