Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

PCINU Mesir Harap PBNU Bantu Palestina dan Tingkatkan Ekonomi Warga

PCINU Mesir Harap PBNU Bantu Palestina dan Tingkatkan Ekonomi Warga
Rais Syuriyah PCINU Republik Arab Mesir, KH Muhlashon Jalaluddin (kiri), di sela penutupan Muktamar ke-34 NU di Gedung Serba Guna UIN Raden Intan, Lampung, pada Jumat (24/12/2021) kemarin. (Foto: PCINU Mesir)
Rais Syuriyah PCINU Republik Arab Mesir, KH Muhlashon Jalaluddin (kiri), di sela penutupan Muktamar ke-34 NU di Gedung Serba Guna UIN Raden Intan, Lampung, pada Jumat (24/12/2021) kemarin. (Foto: PCINU Mesir)

Bandarlampung, NU Online
Sejumlah harapan datang usai muktamar selesai, salah satunya dari Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Republik Arab Mesir, KH Muhlashon Jalaluddin. Harapannya, PBNU agar segera merancang sebuah langkah positif untuk memainkan peran dalam membantu penyelesaian konflik Palestina.


Pasalnya, kata dia, sebagai negara muslim terbesar, yang pada tahun 2022 nanti memegang presidensi G-20, Indonesia diharapkan memainkan peran yang lebih optimal dalam mendorong berdirinya negara Palestina merdeka.


“Dalam ini, PBNU memiliki peluang yang besar membantu proses mulia tersebut, antara lain merintis terwujudnya rekonsiliasi antarfaksi di Palestina,” katanya di sela penutupan Muktamar ke-34 NU di Gedung Serba Guna UIN Raden Intan, Lampung, pada Jumat (24/12/2021) kemarin.


Menurut dia, Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam mewujudkan persatuan antar-etnis, agama dan golongan sejak zaman rintisan kemerdekaan. Pengalaman ini perlu dibagi kepada generasi muda Palestina, utamanya kader-kader berbagai faksi di sana.


“Kader faksi-faksi ini dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang, akan menjadi tokoh di masing-masing faksi, yang diharapkan bisa benar-benar mewujudkan rekonsiliasi, membangun persatuan demi tercapainya kemerdekaan,” tuturnya.


“Palestina dalam beberapa dekade terakhir melalui mediasi negara-negara terdekatnya, terutama Mesir, telah beberapa kali mencoba mewujudkan rekonsiliasi antarfaksi yang ada. Tetapi, selalu gagal. Untuk itu, mereka perlu menghayati pentingnya persatuan demi mewujudkan kemerdekaan. Dan itu bisa dilakukan oleh Indonesia bersama NU,” tambahnya.


Kemandirian Ekonomi
Sementara, Katib Syuriah PCINU Mesir, Tubagus Mansur menyinggung kemandirian warga seperti yang dicita-citakan pada tema Muktamar, yaitu ‘Kemandirian Warga untuk Perdamaian Dunia’. Ia mengatakan, hal itu urgen untuk segera diwujudkan.


“Kemandirian ekonomi ini bukan hanya ekonomi organisasi. Lebih penting dari itu adalah kemandirian warga NU dengan memanfaatkan peluang bonus demografi Indonesia,” tandasnya.


“PBNU harus menyingsingkan lengan untuk segera menyiapkan berbagai instrumen dalam menghadapi lonjakan angkatan kerja beberapa tahun ke depan. Salah satu program yang identik dengan NU, seperti pengembangan wakaf tunai,” sambung Tubagus Mansur.


Menurut penilaiannya, selama ini PBNU belum serius mengurusi wakaf tunai yang memiliki potensi besar. Sebagai organisasi besar dengan jumlah jamaah jutaan di Indonesia, bahkan dunia, PBNU memiliki potensi mengolektifkan wakaf tunai dari setiap tingkatan kepengurusan mulai ranting hingga pusat. Bahkan, cabang-cabang di luar negeri.


“Ribh (keuntungan) dari ra'sul maal (modal) yang di-istismar-kan/diinvestasikan ini dapat dialokasikan ke berbagai bidang seperti pemberdayaan ekonomi Nahdliyin, penguatan SDM untuk menjadi bibit-bibit unggul di segala bidang, dan berbagai aspek lain yang nantinya dapat mensejahterakan nahdliyin,” terangnya.


Ia menambahkan, jika program wakaf tunai ini dikelola serius oleh tangan-tangan profesional dan amanah, maka akan menghasilan kekuatan ekonomi baru dalam tubuh organisasi NU.


“Tentunya sinergi antar-lembaga dan organisasi adalah suatu keniscayaan agar program wakaf tunai ini dapat terlaksana dengan baik,” imbuh Tubagus Mansur.


Seperti diketahui, kemandirian NU telah dibahas dalam sidang Komisi Organisasi dan menghasilkan berbagai rumusan yang akan menjadi titik pijak kemandirian NU untuk memasuki abad kedua. Salah satunya tentang sistem keuangan dan kekayaan NU.


Selain itu, upaya lain untuk menuju kemandirian NU adalah memberikan pijakan atau klausul tentang Badan Khusus, yakni sebuah badan yang akan dijadikan tumpuan aktivitas NU berorientasi profit atau akvititas sosial yang dapat menambah profit. Misalnya, Rumah Sakit di bawah struktur NU langsung.


Rumusan-rumusan di atas, tadi merupakan bagian dari pasal-pasal yang dihasilkan Komisi Organisasi dan diharapkan mampu menjadi pijakan kemandirian NU ke depan.


Pewarta: Syifa Arrahmah
Editor: Musthofa Asrori



Terkait

Internasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya