Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Pra-Konfercab, PCINU Yaman Diskusikan Manhaj Dakwah NU

Pra-Konfercab, PCINU Yaman Diskusikan Manhaj Dakwah NU
Tarim, NU Online
Sebagai dari acara pra-konferensi cabang (konfercab), Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman menggelar diskusi publik tentang metode dakwah NU dan sikap bijak dalam menghadai perbedaan.

Forum yang berlangsung di aula sakan Dakhili, Universitas al-Ahgaff Tarim, Yaman, Senin (16/1), ini menghadirkan dua narasumber, yakni Ustadz Thohirin Shodiq dengan tema ”Manhaj NU dalam Berdakwah” dan Ahmad Dimyathi dengan tema “Bijak Menyikapi Perbedaan.” Acara diikuti pelajar-pelajar Indonesia yang sedang menempuh studi di Yaman.

Thohirin Shodiq memaparkan kontribusi NU dalam berdakwah dari segi manhaj yang ditempuhnya. Menurut mahasiswa asal Cirebon ini, NU sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial keagamaan selalu proakfif dalam berdakwah. Tak hanya di Indonesia, sentuhan dakwah NU juga menyebar ke dunia internasional.

Ia berpendapat, dalam menjalankan visi-misi dakwah, NU mengedepankan visi integralistik, sebuah konsep pendekatan kepada semua golongan. Untuk mencapai pada tujuan tersebut, NU menerapkan tiga macam pola keterpaduan; ukhuwah islamiyah (persaudaraan antar sesama Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan terkait ikatan kebangsaan & kenegaraan), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan terkait hubungan manusia secara universal). Sedangkan upaya perealisasian ketiga pendekatan tersebut tercermin dari sikapnya yang menjunjung tinggi sikap rahmatan lil ’alamin, tawasuth (moderat), tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan amar ma’ruf nahi mungkar.

”Dengan memegang metode bilmau’idhah walhasanah dan beberapa prinsip yang telah disebutkan, maka dakwah Nahdliyyin dengan mudah diterima dan berkembang di tanah air,” ujarnya.

Sementara Ahmad Dimyathi lebih menekankan adanya sikap yang bijak dalam menyikapi sebuah perbedaan. Lanjutnya, perbedaan merupakan sunnatullah yang tak bisa dilenyapkan dari kehidupan ini. Bahkan sudah ada sejak sebelum manusia ini dicipatakan.

Ia menjelaskan, dalam pengkategoriannya, perbedaan itu terbagi kepada perbedaan terpuji dan tercela. Perbedaan terpuji yang terjadi di tubuh umat Islam khususnya, merupakan salah satu keistimewaan syariat Islam. Karena dengan adanya perbedaan tersebut justru menunjukkan kekayaan khazanah syariat Islam yang fleksibel, lintas zaman dan tempat.  

Sedangkan perbedaan yang harus diwanti-wanti adalah perbedaan tercela. Menurut mahasiswa semester VII itu, perbedaan tercela secara global terdapat pada; perbedaan dalam ushuluddin, perbedaan yang berdasarkan hawa nafsu dan pembangkangan, dan perbedaan di luar lingkup ijtihad.

Sementara itu, kebijakan yang harus dipegang dalam menanggapi perbedaan tercela itu bisa ditempuh dengan beberapa hal, di antaranya melakukan kroscek dan klarifikasi, menjelaskan titik kelemahan dan kebathilannya, melakukan nahi-munkar dengan mau’idhah hasanah, berdiskusi serta menjauhi kata-kata yang menyerang, dan yang terakhir adalah tidak serampangan menvonis kafir.

“Salah satu kebijakan dalam dalam mengambil sikap yaitu melakukan klarifikasi dan kroscek terlebih dahulu, sehingga dapat meminimalisir terjadinya permusuhan,” ujarnya.

Berlanjut ke sesi pertanyaan, salah satu audiens, M. Burhanuddin menyoal perihal sikap NU yang menurutnya terkesan tidak terlalu membela dalam aksi-aksi bela Al-Qur’an di Indonesia beberapa waktu lalu. Narasumber pertama, Thohirin menjelaskan bahwa ketidakikutsertakan NU dalam aksi tersebut bukan bermakna NU tidak mempunyai ghairah kepada Islam. Namun, sebagaimana diketahui, tidak semua pihak setuju dengan aksi tersebut.

Oleh karena itu, menurutnya, dalam hal ini pihak NU memilih jalan moderat (tawasuth). Selanjutnya PBNU juga tetap tidak tinggal diam. Bahkan ia terus berupaya dan berusaha menjalani pendekatan dengan beberapa pihak, termasuk pihak kepresidenan. Di sisi lain, juga tidak mencela atau mencaci pihak yang ikut aksi. Narasumber kedua, Ahmat Dimyathi, mengungkapkan pandangannya dalam menyikapi perbedaan tersebut harus dengan bijak, yaitu dengan tidak saling mencaci dan menyalahi.

Pertanyaan demi pertanyaan dilemparkan oleh audiens kepada dua narasumber tersebut hingga acara berakhir ketika azan dzuhur berkumandang. (Aidil Ridhwan/Mahbib)



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Internasional Lainnya

Terpopuler Internasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×