Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Rompi Penurun Suhu, Pertolongan Pertama Pasien Heat Stroke  

Rompi Penurun Suhu, Pertolongan Pertama Pasien Heat Stroke  
Rompi  penurun suhu, inovasi pelayanan kesehatan di musim haji 1443 H,untuk penanganan kasus heat stroke yang mungkin terjadi. (Foto: Humas Kemenkes)
Rompi  penurun suhu, inovasi pelayanan kesehatan di musim haji 1443 H,untuk penanganan kasus heat stroke yang mungkin terjadi. (Foto: Humas Kemenkes)

Makkah, NU Online
Pada musim haji tahun 2022, Kementerian Kesehatan memanfaatkan teknologi carbon cool yang didesain menjadi set rompi penurun suhu untuk penanganan kasus heat stroke pada jemaah haji di Armuzna. Rompi ini juga akan digunakan oleh petugas kesehatan yang bertugas di wilayah Armuzna sebagai tindakan pencegahan.


Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr Budi Sylvana, MARS, Senin (27/6/2022) dalam rilis yang diterima NU Online.
 

Heat stroke melansir, dinkes.acehprov.go.id adalah suatu kondisi kegawatdaruratan yang ditandai dengan meningkatnya suhu tubuh mencapai lebih dari 40 derajat Celcius dan adanya gangguan pada sistem saraf.


"Rompi  penurun suhu ini merupakan inovasi pelayanan kesehatan di musim haji 1443 H, untuk penanganan kasus heat stroke yang mungkin terjadi di musim haji 2022 ini," ujar dr Budi.


Sebanyak 10 jaket sudah disiapkan untuk petugas, sementara 20 jaket disiapkan untuk pertolongan pertama pada jamaah heat stroke.


Tim dokter Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, sekaligus tim peneliti Dr dr Rr Suzy Indharty MHA MKes SpBS(K)-Spesialis bedah saraf konsultan tumor otak dosen Fak.kedokteran USU Medan kolaborasi dengan dosen Fakultas Tehnik UNS Solo, mengatakan bahwa pengukuran suhu dan tanda vital jemaah menjadi parameter dalam penggunaan rompi set ini.


"Suhu diukur secara continues, dan akan dihentikan setelah suhu pasien turun mencapai 38 derajat, untuk kemudian diberikan terapi standar lainnya," ujar dr Suzy.


Penggunaan techno cool bukan tanpa sebab. Daya tahan dingin yg lama dan titik leleh menjadi alas alasan utama teknologi ini digunakan.


"Bisa bertahan 8-12 jam, jauh lebih lama dibandingkan dengan penggunaan es atau ice gel, tidak cepat mencair, dan tidak basah," tambahnya.


Dalam penggunaanya, pasien akan dipakaikan rompi lengkap dengan decker untuk meredam saraf-saraf sensorik yang banyak di bagian tubuh terbuka yang tersengat matahari yaitu bagian lengan, paha, dan betis. "Dalam keaadaan darurat, techno cool bisa langsung ditempelkan di tubuh pasien," tambah dr Suzy.


Koordinator Surveilans PPIH Arab Saudi Bidang Kesehatan Prof Rustika memastikan teknologi Ini sangat dibutuhkan untuk penanganan heat stroke pada jamaah haji. Inovasi ini perlu mendapatkan dukungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional agar dapat digunakan secara massal.


"Teknologi dan inovasi baru dalam penanganan heat stroke sangat dibutuhkan. Pengembangan penelitian selanjutnya dilakukan dengan kolaborasi dengan BRIN, bagaimana bisa digunakan selanjutnya karena cuaca terlalu panas di Arab Saudi mencapai 50-60 derajat Celcius dan dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas heat stroke dan komplikasinya," kata Prof Rustika.


Editor: Kendi Setiawan

​​​​​​​



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Internasional Lainnya

Terpopuler Internasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×