Nasional

3 Makna Filosofis Ilmu dan Perbedaannya dengan Harta

Ahad, 8 Oktober 2023 | 09:30 WIB

3 Makna Filosofis Ilmu dan Perbedaannya dengan Harta

Pengukuhan 9 Guru Besar pada Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Sabtu (7/10/2023). (Foto: Kemenag/Aziz)

Bandarlampung, NU Online

Kerap kali manusia dihadapkan pada dua pertanyaan pilihan dilematis antara memilih ilmu atau harta. Terkait dengan pilihan ini, Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama RI H Muhammad Ali Ramdhani menjelaskan perbedaan ilmu dan harta.


“Harta itu berat dibawa-bawa, sementara ilmu itu ringan kalau dibawa-bawa. Kalau harta itu dibagi, maka dia akan berkurang. Sementara kalau ilmu dibagi, maka dia akan bertambah,” jelasnya saat hadir pada Pengukuhan 9 Guru Besar pada Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Sabtu (7/10/2023).


“Dan pada sisi lain harta itu harus dijaga, sementara ilmu itu menjaga kita,” imbuh pria yang juga Ketua LP Ma’arif PBNU ini.


Dari perbedaan ini, bisa dipahami bahwa pemberian modal kehidupan kepada generasi penerus dalam bentuk ilmu itu menjadi bagian penting. Dengan ilmu, maka seseorang akan mampu menjalani kehidupan dengan mudah dan lebih adaptif.


Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kata ilmu terdiri dari 3 huruf yang membentuknya. 3 huruf ini memiliki makna filosofis yang penting untuk diingat dan dipedomani. Huruf pertama yang membentuk kata ilmu adalah huruf ‘Ain yang bermakna ‘Illiyyin (tinggi). “Seseorang yang berilmu memiliki derajat,” katanya.


Seseorang yang memiliki ilmu akan dihormati dan diposisikan oleh orang pada tempat yang mulia dan menjadi teladan utama dari sikap dan perkataannya.


Huruf yang kedua adalah Lam yakni Latif (lembut). Seseorang yang memiliki ilmu lanjutnya, bisa dipastikan hidup dengan kelembutan dan memiliki sifat dan sikap yang baik kepada orang lain.


“Pada sisi lain, Latif pun harus dipahami, seorang yang berilmu harus memiliki kelembutan budi dan rasa. Dia yang selalu menyapa dengan diksi-diksi terbaik,” imbuhnya.


Orang yang berilmu tak melahirkan kata-kata kotor dari mulutnya dan senantiasa memiliki wajah yang ramah tidak marah, membina tidak menghina, mengajak tidak mengejek, mengajar tidak menghajar, dan merangkul tanpa pernah memukul.


Huruf ketiga adalah Mim yakni Mulk yang dimaknai sebagai Raja. Orang yang memiliki ilmu bisa dipastikan akan menjadi raja, paling tidak menjadi raja terhadap dirinya sendiri dengan mampu menaklukkan musuh yang paling besar yaitu hawa nafsunya.


“Seseorang yang berilmu, dia akan memiliki derajat yang lebih mulia dibanding dengan orang yang tidak berilmu. Dia akan memiliki kehalusan budi dan rasa dan dia adalah pengendali dirinya dari setiap aktivitas-aktivitas yang tidak dikehendaki dan diinginkan dari sisi manusia sesuai dengan perintah Allah,” jelasnya.


Pada kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan bahwa dengan ilmu, manusia akan bisa beradaptasi dengan baik pada perkembangan zaman. Ia mengingatkan bahwa saat ini perubahan zaman sangatlah cepat terjadi dan memerlukan orang-orang yang berilmu untuk beradaptasi.


Mengutip beberapa teori ia menyebutkan bahwa seluruh spesies di dunia ini akan punah termasuk yang paling cerdas sekalipun, kecuali mereka yang responsif terhadap perubahan. Teori lain menyebutkan bahwa ukuran kecerdasan seseorang itu terletak dari kemampuannya untuk berubah.


“Bahkan Sayyidina Ali ra pernah menyampaikan bahwa ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, sebab zamanmu beda dengan zaman-zaman anak-anakmu,” jelasnya.


Cara menghadapi perkembangan ini adalah dengan merekonstruksi sebuah pengetahuan dengan proses belajar yang tak berhenti. Ia mengajak orang tua dan para pendidik untuk menjadikan generasi pada poros inti perkembangan zaman.


“Bukan orang yang menerima ilmu-ilmu yang lawas sehingga mereka berada pada sudut-sudut perkembangan zaman atau pojok-pojok kemajuan bangsa. Tapi pastikan mereka berada pada poros inti kemajuan bangsa yang bukan sekedar penikmat dari sebuah pembangunan tetapi menjadi pengendali dari sebuah pembangunan,” ungkapnya.