Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

7 Langkah sebelum Menyimpulkan Sesuatu

7 Langkah sebelum Menyimpulkan Sesuatu
Pengurus Bidang Penelitian dan Pengembangan LP Ma’arif PBNU, Deden Saeful Ridhwan saat kegiatan Refreshment Fasilitator Daerah Kementerian Agama di Jakarta, Sabtu (24/9/2022). (Foto: NU Online/M Faizin)
Pengurus Bidang Penelitian dan Pengembangan LP Ma’arif PBNU, Deden Saeful Ridhwan saat kegiatan Refreshment Fasilitator Daerah Kementerian Agama di Jakarta, Sabtu (24/9/2022). (Foto: NU Online/M Faizin)

Jakarta, NU Online
Dalam membuat sebuah keputusan dan melakukan sebuah tindakan, seseorang sering mendasarkannya pada kesimpulan yang dibuatnya. Untuk sampai pada sebuah kesimpulan, terkadang seseorang terburu-buru dan ceroboh tanpa melewati proses-proses yang memang menjadi tahapan dalam pengambilan keputusan. Setidaknya, ada tujuh langkah yang perlu diperhatikan dan dilewati seseorang sehingga tidak mengakibatkan dan memunculkan tindakan yang salah.


Tujuh langkah yang disebut sebagai teori Ladder of Inference (Tangga Inferensi) ini dijelaskan oleh Pengurus Bidang Penelitian dan Pengembangan LP Ma’arif PBNU, Deden Saeful Ridhwan di depan peserta Refreshment Fasilitator Daerah Kementerian Agama di Swiss Bell Hotel Jakarta, Sabtu (24/9/2022).


Tujuh tahapan dalam Ladder of Inference ini mampu membantu dalam mengisi celah pemikiran untuk membuat keputusan berdasarkan kenyataan. Langkah ini juga bisa digunakan untuk menguji pemikiran orang lain apakah ia sudah benar dalam mengambil keputusan.


Dosen FITK Universitas Cendekia Abditama ini menjelaskan tujuh langkah tersebut. Pertama, memahami data-data yang tersedia sebagai modal awal dalam mengambil keputusan. Kedua, memilih data-data yang tersedia dengan cermat dengan menghubungkan pada pengalaman dan keyakinan yang dimiliki.


"Di sinilah kualitas literasi kita diuji dalam memahami data ini. Jika kita tidak memilih mana data yang benar dan mana yang salah, maka literasi kita belum baik. Ada panduannya yang disebutkan dalam Surat Azzumar ayat 18: Alladziina yastami'uunal qaula wa yattabi'uuna ahsanahu. Mereka yang mau mendengarkan keterangan-keterangan dan mengikuti yang terbaik," kata Pengasuh Pesantren Nurul Falah Cililin Bandung Barat ini.


Ketiga, lanjutnya adalah melakukan interpretasi atau memahami arti dari data dan kondisi fakta yang terjadi dengan cara meneliti apa yang dilihat atau didengar. Keempat, mengasumsikan data yang diinterpretasikan berdasarkan asumsi pribadi. Kelima, menarik kesimpulan dari asumsi yang kita buat.


"Dari proses ini kita memasuki tahapan keenam yakni keyakinan yang dikembangkan dari kesimpulan yang kita buat. Semua itu akan bermuara pada langkah ketujuh yakni tindakan yang kita lakukan berdasarkan apa yang kita yakini sebagai sebuah kebenaran," ungkapnya.


Langkah-langkah ini menurutnya penting diketahui dan menjadi pedoman, terlebih di era modern saat ini di mana informasi dan data sangat melimpah. Jika salah dalam memahami data awal dan ceroboh dalam mengambil kesimpulan dari informasi yang diterima, maka bisa dipastikan tindakan yang dilakukan akan banyak terjadi kesalahan.


Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×