Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Di Balik Tradisi Jamuan Ketupat di Perayaan Idul Fitri

Di Balik Tradisi Jamuan Ketupat di Perayaan Idul Fitri
Ilustrasi Ketupat di musim Lebaran Idul Fitri.
Ilustrasi Ketupat di musim Lebaran Idul Fitri.

Jakarta, NU Online
Perayaan Idul Fitri sangat lekat dengan berbagai hidangan makanan. salah satunya ketupat. Menu khas Lebaran ini wajib tersedia saat Idul Fitri tiba. Bukan sebagai hidangan semata, ternyata ketupat memiliki makna filosofis di balik kehadirannya yang senantiasa menghidupkan suasana Lebaran.


Ketupat sendiri terbuat dari beras yang dimasukkan ke dalam selongsong ketupat yang terbuat dari janur lalu dimasak hingga matang. Selain sebagai hidangan jempolan saat Lebaran, ketupat diketahui memiliki banyak makna filosofis.


Janur yang digunakan untuk membungkus ketupat diyakini menunjukkan identitas budaya pesisir yang banyak ditumbuhi pohon kelapa.


Menurut Slamet Mulyono dalam Kamus Pepak Basa Jawa, kata ketupat berasal dari kupat. Kupat memiliki arti ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Kupat juga berarti laku papat yang berarti empat tindakan. Sementara janur adalah kependekan dari kata jatining nur yang berarti hati nurani.


Empat tindakan tersebut meliputi lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Lebaran bermakna telah berakhirnya bulan Ramadhan dan bersiap untuk menyambut.


Selanjutnya, luberan berasal dari kata luber bermakna melimpah yang dalam prosesnya ditunjukkan dengan memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan.


Leburan bermakna melebur dosa dan kesalahan. Sementara laburan berasal dari kata labur atau kapur. Kapur diketahui kerap digunakan sebagai penjernih air maupun pemutih dinding. Laburan bermakna menjaga kesucian lahir dan batin.


Melansir beberapa sumber, tradisi kupatan ini juga dinilai oleh sejarawan asal Belanda Hermanus Johannes de Graaf sebagai simbol perayaan hari raya masyarakat Muslim Nusantara yang sudah ada sejak era Kerajaan Demak di abad ke-15.


Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yang menyebarkan ajaran Islam dengan peran para Walisongo. Adalah Raden Mas Syahid atau Sunan Kalijaga yang pertama kali memasukkan ketupat ke berbagai peringatan hari besar Islam sekaligus mengenalkan ketupat sebagai simbol Lebaran.


Selain dihidangkan pada tanggal 1 Syawal, ketupat juga disajikan lagi di Lebaran Ketupat. Lebaran Ketupat dilaksanakan setiap 8 Syawal atau sepekan usai melaksanakan enam hari berpuasa Syawal.


Tak ayal, ketupat menjadi salah satu menu hidangan yang begitu identik dengan perayaan Lebaran di Indonesia. Selain lezat dan mengenyangkan, ketupat juga kaya akan filosofi yang turut menghidupkan suasana berlebaran menjadi lebih sakral dan khidmat.


Kontributor: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Musthofa Asrori



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×