Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Kandungan Nutrisi Beras Pengisi Ketupat dalam Kajian Thibbun Nabawi

Kandungan Nutrisi Beras Pengisi Ketupat dalam Kajian Thibbun Nabawi
Salah satu kandungan nutrisi beras yang penting bagi kesehatan adalah karbohidrat. Karbohidrat dari makanan pokok merupakan sumber energi utama yang menghasilkan tenaga.
Salah satu kandungan nutrisi beras yang penting bagi kesehatan adalah karbohidrat. Karbohidrat dari makanan pokok merupakan sumber energi utama yang menghasilkan tenaga.

Munculnya ketupat menjelang lebaran dari tahun ke tahun telah menyita perhatian ibu-ibu rumah tangga. Pada hari-hari terakhir di Bulan Ramadhan, para ibu tidak lupa menyelipkan ketupat dalam daftar belanjaannya.


Ada yang membeli bahan-bahan komponen ketupat lalu meracik, membungkus, dan memasaknya sendiri di rumah. Tidak sedikit pula ibu-ibu yang membeli ketupat siap olah atau siap saji sehingga lebih praktis. Bagi yang membuat ketupat sendiri, beras yang mengisi ketupat hingga janur sebagai pengemasnya menjadi akrab sebagai pengisi dapur menyambut hari yang fitri.


Meskipun sehari-hari masyarakat Indonesia mengkonsumsi nasi dari beras, tetapi olahan beras menjadi ketupat saat lebaran memang terasa istimewa. Tidak hanya rasanya yang khas, bentuk ketupat dan teksturnya yang unik menjadikan sensasi sajian lebaran yang dihidangkan bersamanya lebih sempurna. Sebagai salah satu bahan yang kaya nutrisi, kedudukan beras sejak dahulu ternyata sudah diakui termasuk makanan pokok yang memiliki banyak manfaat.


Selain sebagai makanan pokok, beras juga dapat digunakan sebagai wasilah pengobatan. Para ulama Islam menuliskan beras ini dalam kitab-kitab pengobatan islami dengan menyebutkan berbagai faidahnya untuk kesehatan. Dalam kitab Thibbun Nabawi, Al-Hafiz Adz-Dzahabi menuliskan tentang khasiat beras sebagai berikut:


“Beras adalah biji-bijian yang paling bergizi sesudah gandum dan memiliki keunggulan. Sebagian orang mengatakan bahwa ia bersifat panas dan kering, sebagian lain mengatakan dingin dan kering. Beras bersifat mengikat bagi usus, tetapi jika dimasak dengan susu, ia kurang menimbulkan sembelit. Jika dimakan dengan gula, ia bisa menghilangkan bengkak-bengkak. Nasi membuat tubuh subur dan menghasilkan lebih banyak sperma. Makan nasi  bisa mendatangkan mimpi yang menyenangkan.” (Al-Hafidz Adz-Dzahabi, Thibbun Nabawi​​​​​, [Beirut, ​Dar Ihyaul Ulum: 1990 M], halaman 73).


Berdasarkan penjelasan di atas, beras memiliki manfaat untuk kesehatan saluran cerna apabila dikombinasikan dengan bahan makanan lain seperti susu. Apabila dikaitkan dengan suasana Idul Fitri, biasanya kaum muslimin di Nusantara mengonsumsi ketupat bersamaan dengan hidangan berkuah santan.


Berdasarkan tradisi tersebut, ada kemungkinan santan digunakan sejak dahulu sebagai pengganti susu untuk menemani makanan pokok dari beras dengan ketersediaan yang lebih mudah ditemukan oleh masyarakat.


Ibnu Sina dalam kitab Al-Qanun fit Thibb juga membahas tentang beras sebagai berikut:


“Beras adalah biji-bijian yang terkenal. Beras bersifat panas dan kering. Sifat keringnya lebih terasa daripada sifat panasnya. Namun, beberapa dokter menganggapnya lebih panas daripada gandum. Beras memberikan nutrisi yang baik tetapi juga menyebabkan kekeringan. Saat dimasak dengan susu dan minyak almond, nutrisinya lebih banyak dan lebih baik.” (Abu Ali al-Husain bin Abdullah bin Sina, Al-Qanun fit-Thibb Book II, Jamia Hamdard, New Delhi, 1998 M: 52-53).


Susu dan minyak almond tidak lazim digunakan oleh masyarakat Nusantara untuk memasak beras. Oleh karena itu, biasanya beras dimasak menjadi nasi dengan air biasa atau air santan. Bila dimasak dengan air biasa menjadi nasi, itulah makanan sehari-hari orang Indonesia. Namun, bila dikonsumsi pada hari lebaran, beras ini dikemas spesial untuk dimasak dalam wujud ketupat. 


Ketupat ini nantinya dikonsumsi bersama dengan hidangan berkuah yang umumnya mengandung santan. Jadi, santan bisa menggantikan susu sebagai kombinasi dalam kuliner lebaran yang melengkapi olahan beras.


Kearifan lokal dalam kombinasi hidangan lebaran seolah menunjukkan bahwa nenek moyang di Nusantara mengetahui bahwa efek beras yang menimbulkan sembelit dapat diantisipasi dengan lemak dari santan.


Pembahasan tentang beras dalam Kitab Thibbun Nabawi juga cukup unik. Meskipun bukan menjadi makanan pokok Bangsa Arab, beras ternyata telah dikenal dengan adanya riwayat yang berkaitan dengannya. Al-Hafiz adz-Dzahabi menuliskan riwayat unik ini sebagai berikut:


“Telah diriwayatkan bahwa tuan dari segala makananmu adalah daging, disusul oleh beras. Ada riwayat marfu’ dari Sahabat Ali yang mengatakan bahwa beras mempunyai daya penyembuh dan tidak mengandung sumber penyakit.” (Adz-Dzahabi, 1990 M: 73).


Beras yang umum dikenal berwarna putih dengan segala varietasnya. Namun, ternyata ada juga beras yang berwarna merah. Beras merah ini memiliki kandungan serat yang lebih tinggi daripada beras putih. Selain itu, beras merah memiliki indeks glikemik yang lebih rendah daripada beras putih sehingga menjadi salah satu pilihan bagi penderita penyakit gula atau diabetes mellitus untuk memenuhi sumber karbohidrat. Selain karbohidrat, beras apapun juga kaya akan vitamin B yang baik untuk kesehatan kulit dan metabolisme tubuh.


Salah satu kandungan nutrisi beras yang penting bagi kesehatan adalah karbohidrat. Karbohidrat atau zat gula yang terkandung dalam beras sering kali dituding sebagai penyebab diabetes. Padahal apabila dikonsumsi dengan jumlah dan waktu yang tepat, penderita diabetes masih boleh mengkonsumsi beras atau olahannya.


Karbohidrat dari makanan pokok merupakan sumber energi utama yang menghasilkan tenaga. Konsumsi karbohidrat yang berlebihan dengan gaya hidup kurang gerak sesungguhnya menjadi penyebab diabetes, bukan semata-mata karena nasi atau beras.


Selain karbohidrat, kandungan lain dalam beras yang bermanfaat untuk kesehatan adalah vitamin B1. Vitamin B1 ini penting untuk mencegah penyakit beri-beri dan menjaga kesehatan tubuh. Bagian yang kaya akan vitamin B1 ada pada kulit ari beras. Agar kandungan nutrisinya tetap terjaga, tidak perlu berulang kali mencuci beras dengan air sebelum dimasak. Cukuplah mencuci beras untuk sekedar menghilangkan kotoran yang mungkin ada sehingga bersih sebelum dimasak.


Apabila beras telah diolah menjadi ketupat maka akan dihidangkan bersama dengan sajian lainnya. Hidangan yang berlemak dan kaya akan kalori saat lebaran perlu diimbangi dengan konsumsi serat yang cukup.


Selain karbohidrat dan lemak, sayur dan buah tetap perlu diperhatikan dalam menu makanan saat lebaran. Sebagai sumber vitamin dan mineral, sayur dan buah juga memberikan manfaat lain dengan menyediakan serat yang dapat mencegah dari konstipasi atau sembelit.


Sebagai bahan makanan pokok di Nusantara, sudah selayaknya kaum muslimin mengetahui manfaat beras ini. Apabila digunakan sesuai dengan kebutuhan, beras yang diolah dengan berbagai wujud menjadi ketupat, nasi, atau olahan lainnya akan memenuhi nutrisi untuk menjaga kesehatan.


Sebaliknya, apabila dikonsumsi secara berlebihan tentu memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Semoga kaum muslimin tetap dapat menjaga nutrisi dan kesehatannya pada saat lebaran dan setelahnya.


Ustadz Yuhansyah Nurfauzi, apoteker dan peneliti di bidang farmasi.



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Kesehatan Lainnya

Terpopuler Kesehatan

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×