Nasional

Dilema Menikah atau Karier, Ini Solusinya menurut Nyai Rofiah

Ahad, 13 Agustus 2023 | 14:00 WIB

Dilema Menikah atau Karier, Ini Solusinya menurut Nyai Rofiah

Ilustrasi: Menikah dan tetap berkarier bukanlah hal yang saling eksklusif, melainkan pilihan yang mungkin untuk dijalani secara seimbang (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online 
Keputusan antara menikah terlebih dahulu atau memprioritaskan karier adalah dilema yang sering dihadapi oleh banyak muda mudi. Di satu sisi, menikah melambangkan komitmen, dukungan emosional, dan pembentukan keluarga yang diidamkan. Namun, di sisi lain, fokus pada karier dapat membuka peluang untuk pertumbuhan profesional, pencapaian pribadi, dan stabilitas finansial. Pertimbangan akan waktu, prioritas, serta tujuan jangka panjang menjadi faktor yang kompleks dalam menjawab pertanyaan ini. 

 

Wakil Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKK PBNU), Nyai Nur Rofiah, menjelaskan bahwa sebenarnya keputusan untuk menikah dan berkarier tidaklah berseberangan, selama dapat dinegosiasikan dengan pasangan. 

 

"Saya mau nikah, tapi harus bisa melanjutkan kuliah sampai dengan selesai. Itu bisa banget. Kalau calon suami setuju, kenapa tidak?" ungkap Nyai Rofiah kepada NU Online, Jumat (11/8/2023).

 

Menurutnya, menikah dan tetap berkarier bukanlah hal yang saling eksklusif, melainkan merupakan pilihan yang mungkin untuk dijalani secara seimbang. Pasangan yang mendukung satu sama lain mampu menciptakan keseimbangan antara komitmen pribadi dan profesional. Dalam konteks ini, perkawinan bisa menjadi landasan bagi pertumbuhan bersama, saling memberi inspirasi, serta berkolaborasi dalam meraih kesuksesan. Dengan komunikasi terbuka, kesepahaman, dan dukungan yang kuat, menjalani pernikahan sambil tetap berfokus pada karier dapat menjadi realitas yang bisa dijalankan.

 

"Kalau bisa dinegosiasikan dengan calon pasangan, kenapa tidak tidak dua-duanya? Kan, tidak selalu harus memilih salah satu. Selama pasangannya oke-oke aja dan mendukung. Semua itu ya nikah dan karier itu muaranya harus pada kemaslahatan keluarga. Itu soal skala prioritas," jabar Dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur'an (PTIQ) Jakarta itu.

 

Terkait skala prioritas, Nyai Rofiah menilai menyusun skala prioritas bersama pasangan sebelum menikah memiliki peran krusial dalam membangun dasar yang kokoh untuk pernikahan yang maslahat. Proses ini akan membantu pasangan untuk saling memahami nilai-nilai, tujuan, dan harapan masing-masing, serta menciptakan keselarasan yang mendalam dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan memiliki pandangan yang serupa tentang hal-hal yang paling penting, pasangan dapat menghindari konflik yang mungkin timbul di masa depan akibat perbedaan dalam prioritas mereka.

 

Ketika pasangan memiliki pemahaman yang mendalam tentang apa yang penting bagi masing-masing individu dan bagaimana mereka dapat mendukung satu sama lain dalam mencapai tujuan tersebut, mereka dapat membangun dasar yang kuat untuk hubungan yang harmonis dalam jangka panjang.

 

"Menyusun skala prioritas. Poinnya adalah bukan soal nikah atau karier lagi, tapi cara pandang terhadap karir dan pekerjaan. Itu yang penting. Semua keputusan baik sebelum maupun setelah nikah adalah harus mempertimbangkan kemaslahatan bersama. Bedanya, kalau sudah nikah yang disebut kemaslahatan bersama ya, kemaslahatan dirinya dan pasangan. Nanti kalau sudah punya anak, berarti harus mempertimbangkan ketiga pihak,” papar dia. 

 

"Jadi, poinnya adalah cara pandangan harus dinegosiasikan,” tutup dia. 


 


Artikel ini merupakan hasil kerja sama antara NU Online dan Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag RI.