Nasional

Terjebak Hubungan Toksik sebelum Menikah, Tinggalkan atau Pertahankan?

Ahad, 13 Agustus 2023 | 13:00 WIB

Terjebak Hubungan Toksik sebelum Menikah, Tinggalkan atau Pertahankan?

Ilustrasi: perilaku toksik menunjukkan emosi yang belum matang, terlepas berapa pun usianya (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online 
Menjalin hubungan dengan seseorang yang dicintai sangatlah menyenangkan. Bahkan, ada pepatah yang mengatakan bahwa cinta itu buta, sampai-sampai tak sedikit orang yang tetap bertahan dalam toxic relationship atau hubungan beracun.


Hubungan toksik dapat meninggalkan bekas luka yang mendalam. Jenis hubungan ini merujuk pada interaksi antara individu yang ditandai oleh pola perilaku negatif, tidak sehat, dan merugikan satu sama lain.

 

Dalam hubungan toksik, sering terjadi dominasi, manipulasi emosional, penyalahgunaan kekuasaan, dan kurangnya penghargaan terhadap batasan pribadi. Komunikasi yang buruk, ketidakseimbangan dalam memberi dan menerima, serta konflik berulang menjadi ciri khas dari jenis hubungan ini. 


Lalu, apa yang dapat dilakukan jika mendapati situasi seperti itu? Pertahankan atau tinggalkan?

 

Menurut Wakil Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKK PBNU), Nyai Nur Rofiah, perilaku toksik seseorang dalam sebuah hubungan menunjukkan bahwa orang tersebut masih berada pada tahap emosi yang belum matang, terlepas berapa pun usianya.

 

"Kalau pacaran kok toksik, menurut saya itu belum siap secara mental untuk menikah walaupun usianya sudah dewasa," kata Nyai Rofiah kepada NU Online, Jumat (11/8/2023).


Sementara dalam konteks pasangan yang sudah berumah tangga, hubungan toksik tersebut sering kali berujung pada tindak kekerasan dalam rumah tangga. Pelaku KDRT, lanjut dia, merupakan pihak yang belum matang secara emosional. "Orang yang melakukan KDRT sebetulnya secara mental belum dewasa itu," ujar dia. 


Doktor lulusan Universitas Ankara Turki tersebut menganggap proses taaruf atau tahap pengenalan pranikah menjadi penting dilakukan sebelum akhirnya memutuskan untuk berlanjut ke jenjang yang lebih serius.


"​​​​Karena itu, mengapa taaruf penting? Karena mumpung belum diikat oleh ikatan pernikahan, makanya kenali dulu. Kalau selama masa proses itu kok, toksik banget menurut saya cepat berhenti dan segera taaruf dengan yang lain,” jabar dia. 

 

"Nggak usah mikir 'Insyaallah kalau sudah menikah nanti berhenti dengan sendirinya'. Nggak semudah itu, kecuali kalau memang sudah siap. Kalau sudah redflag, batal saja demi masa depan yang cerah ceria," imbuh dia. 


3 aspek dalam taaruf
Nyai Rofiah menjelaskan, taaruf tidak bisa dimaknai sebagai proses pengenalan pranikah semata. Lebih dari itu, makna taaruf sendiri sangat luas dan prosesnya pun dijalani bahkan tetap dijalani setelah pernikahan dan selama membangun rumah tangga. 

 

Menurutnya, upaya taaruf yang 'afdal' harus menjangkau tiga aspek yaitu

  1. Taaruf tidak dilakukan hanya pada saat menjelang pernikahan
  2. Taaruf tidak hanya dengan pasangan, tetapi juga kepada diri sendiri
  3. Taaruf tentang persepsi dan perasaan.
 

Artikel ini merupakan hasil kerja sama antara NU Online dan Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag RI.