Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Gus Baha: Rasulullah Tegur Shalat Lama, Tak Pernah Tegur Shalat Pendek

Gus Baha: Rasulullah Tegur Shalat Lama, Tak Pernah Tegur Shalat Pendek
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Bahauddin Nur Salim. (Foto: NU Online/Suwitno)
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Bahauddin Nur Salim. (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Bahauddin Nur Salim mengaku pernah menceritakan suatu hadits Nabi kepada seorang kiai yang shalatnya begitu khusyuk dan lama. Ia menyampaikan, bahwa Rasulullah saw tidak pernah menegur orang yang shalatnya pendek, tetapi justru menegur kepada sahabat yang shalat lama.


“Nabi tuh tidak pernah menegur orang yang shalat cepat. Yang ada tuh sanad menegur shalat lama,” ujar kiai yang akrab disapa Gus Baha itu saat Dauroh Ilmiyah Merawat Tradisi Sanad Keilmuan Ulama Nusantara di Yayasan Al-Fachriyah, Tangerang, Banten, pada Senin (8/8/2022).


Diceritakan demikian, kata Gus Baha, sontak kiai tersebut tertawa. Gus Baha mengungkapkan bahwa meskipun tampaknya hal tersebut merupakan laku yang kurang baik, tetapi ia tetap memiliki sanadnya.


“Saya punya sanad. Ada gak sanad Nabi menegur shalat pendek, yang ada menegur shalat panjang,” terang Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Lembaga Pendidikan Pengembang Ilmu Al-Qur’an (LP3IA) Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah itu.


Lebih lanjut, Gus Baha menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw menyebut sahabat yang mengimami shalat dengan cukup lama itu sebagai munaffir (meresahkan hati). “Shalat yang terlalu lama itu munaffir. Kamu bikin orang tidak nyaman,” katanya.


Meskipun demikian, Gus Baha menekankan bahwa segala hal tersebut harus memiliki sanadnya.


Sanad

Soal sanad itu, kata Gus Baha, memang terkadang lewat melalui orang yang tidak cocok. Dulu, jelasnya, ada sahabat bertanya mengenai boleh tidak mencium istri pada saat Ramadhan. “Apakah puasanya sah? (mencium istri saat Ramadhan) Kebetulan yang ditanya Maimunah. Kalau kita ndak ngalamin. Coba tanya Aisyah yang potensi mengalami,” terang Gus Baha.


“Aisyah, gimana hukumnya lelaki mencium istrinya pada saat Ramadhan?”


“Dijawab Aisyah, qabbalani Rasulullah wa huwa shaim (Rasulullah menciumku dan beliau dalam keadaan berpuasa). Yang lainnya gak bisa jawab wong nggak ngalamin,” jelas Gus Baha.


Sehebat apapun istri Rasulullah, tidak tahu mengenai perang Rasulullah. Pun Sayyidina Abu Bakar tidak mengetahui keseharian Rasulullah. Sementara ada seorang pelayan yang sehari-hari membantu Rasulullah sangat mengetahui keseharian Rasulullah. “Anas 10 tahun tidak pernah ditanya (oleh Rasulullah) apa yang kamu kerjakan,” katanya.


Pewarta: Syakir NF
Editor: Muhammad Faizin



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×