Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Hijrah itu Membuat Seseorang Semakin Terbuka Hatinya

Hijrah itu Membuat Seseorang Semakin Terbuka Hatinya
Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin didampingi Direktur PD Pontren Ditjen Pendis Kemenag H Ahmad Zayadi dalam Kopdar Akbar Santrinet 2019 di Jakarta. (Foto: NU Online/Hanan)
Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin didampingi Direktur PD Pontren Ditjen Pendis Kemenag H Ahmad Zayadi dalam Kopdar Akbar Santrinet 2019 di Jakarta. (Foto: NU Online/Hanan)
Jakarta, NU Online
Fenomena penggunaan kata ‘hijrah’ sedang digandrungi oleh masyarakat. Khususnya generasi muda yang ada di perkotaan. Namun, penggunaan kata ‘hijrah’ yang sering digunakan pada saat ini dirasa kurang tepat sasaran. Justru mengalami penyempitan makna.
 
Hal ini disinggung oleh Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin saat mengisi kegiatan Kopdar Akbar Santrinet 2019 yang berlangsung di Hotel Artotel Jakarta, Jumat (20/9). Kegiatan ini sendiri diikuti sekitar 100 orang pegiat media dari kalangan santri yang ada di seluruh Indonesia.
 
“Hijrah itu apa sih? Hijrah itu tidak membuat kita hidup semakin eksklusif yang hanya mementingkan ego kita sendiri. Hijrah itu justru harus membuat kita inklusif dan membuka hati kita terhadap keragaman,” ucapnya.
 
Menurut Menag Lukman, saat ini masih banyak yang salah dalam mengartikan kata hijrah. Seperti orang yang sudah meninggalkan maksiat dianggap sudah berhijrah sehingga enggan berhubungan dengan orang-orang yang masih melakukan maksiat. Hal ini merupakan suatu kesalahan.
 
“Seakan-akan mereka yang berhijrah dengan baik itu ketika kita tidak lagi berhubungan dengan orang-orang yang belum berhijrah. Eksklusivitas ini yang dipahami dari makna hijrah. Padahal bukan itu,” sergahnya.
 
“Kita meninggalkan kemaksiatan, lalu kita tidak lagi mau untuk berhubungan dengan mereka-mereka yang masih melakukan maksiat. Persepsi yang berkembang seperti itu, padahal bukan itu semestinya,” tambahnya.
 
Putra bungsu Menag era Bung Karno, KH Saifuddin Zuhri, ini memberikan penegasan bahwa yang seharusnya diberantas itu bukanlah pelaku maksiat. Namun, perbuatan maupun perilaku dari orang yang melakukan maksiat. Sedangkan terhadap pelakunya hendaknya diberikan pengayoman.
 
“Padahal yang harus kita berantas itu kan perilakunya, perbuatannya. Bukan pelakunya, bukan orangnya. Terhadap orangnya, pelakunya itu harus kita ayomi,” bebernya.
 
Untuk itu, ia mengajak kepada para santri, khususnya yang hadir di acara ini untuk lebih kreatif lagi dalam menyampaikan pesan-pesan positif sehingga akan lebih mudah diterima dan dicerna oleh masyarakat awam.
 
“Jadi dituntut kreativitas kita dalam menyampaikan pesan-pesan positif yang akan kita sampaikan sehingga dapat diterima secara mudah. Ini menjadi tantangan kita,” pungkasnya.
 
Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Ditjen Pendis Kemenag H Ahmad Zayadi, Kasubdit PD Pontren Basnang Said, Kasubbag Humas dan Publikasi Ditjen Pendis Sholla Taufiq, dan beberapa tamu undangan lainnya.
 

Kontributor: Ahmad Hanan
Editor: Musthofa Asrori


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×