Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Kata Budayawan tentang Pemikiran Kebudayaan Gus Dur

Kata Budayawan tentang Pemikiran Kebudayaan Gus Dur
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Jakarta, NU Online
Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi menuturkan, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memiliki perhatian yang tinggi terhadap kebudayaan. Sebab bagi Gus Dur, kata Zastrouw, kebudayaan menjadi ciri untuk membedakan antara manusia dan makhluk lainnya, seperti hewan, malaikat, dan jin.

"Manusia tidak akan menjadi manusia lagi kalau dia sudah mengabaikan faktor kebudayaan," kata Zastrouw kepada NU Online melalui sambungan telepon, Selasa (17/12), saat ditanyakan pandangannya tentang pemikiran kebudayaan Gus Dur.

Menurut dia, konsep kemanusiaan Gus Dur dalam konteks kebudayaan adalah menggali nilai-nilai kemanusiaan. Untuk itu, Gus Dur tidak mengkonfrontasi antara tradisionalitas dan modernitas. Misalnya dengan menempatkan tradisionalitas sebagai subordinat dan modernitas sebagai dominan. Sebab jika keduanya dikonfrontasi, maka dapat mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Menempatkan posisi keduanya secara seimbang atau sejajar itu menyebabkan Gus Dur berpikir secara rasional, positivistik, dan modern.

"Bagi Gus Dur itu tidak bisa. Kebudayaan itu tidak mengenal hierarki gitu. Tradisionalitas dan modernitas ya harus didudukkan secara seimbang, bukan konfrontatif dan subordinatif. Tapi seimbang dan hubungannya komplementer," kata pria yang juga menjadi dosen Pascasarjana Unusia Jakarta itu.

Namun di sisi lain, Gus Dur juga memasukkan atau mengeksplorasi  nilai-nilai spiritualitas sebagai bagian dari kebudayaan. Menurutnya, Gus Dur ingin mengembalikan bahwa konstruksi kebudayaan Nusantara itu pertautan antara rasionalitas dan spiritualitas. Sementara selama ini, kaum modern tidak mengakui spiritualitas sebagai bagian dari kebudayaan. Bagi mereka, kebudayaan adalah segala cipta, rasa, dan karsa yang bersumber dari rasionalitas.

"Selama ini kan spiritualitas tidak diakui oleh kaum modernis. Yang diakui kaum modernis hanya rasionalitas. Tapi bagi Gus Dur, spiritualitas itu bagian dari kebudayaan. Makanya Gus Dur selain bicara hal-hal yang rasional, ujung-ujungnya tetap ziarah kubur, berbicara tentang kiai khos. Gus Dur kan ingin ngomong saat ziarah kubur bahwa rasionalitas dan modernitas itu sebagian. Yang sebagian ada di sini (makam, spiritualitas)," terangnya.

Sebagaimana diketahui, peringatan Haul ke-10 Gus Dur akan dilaksanakan di kediamannya di Ciganjur, Jakarta Selatan pada Sabtu, 28 Desember 2019. Haul tahun ini mengusung tema 'Kebudayaan Melestarikan Kemanusiaan'. Rencananya, haul diisi oleh KH Ahmad Mustofa Bisri, KH Husein Muhammad, Penyanyi Eny Sagita dan Erie Suzan, Komika Mamat Al-Katiri, dan Cengkir Geding Kediri. Selain di Ciganjur, pelaksanaan haul juga diselenggarakan di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur pada Sabtu, 21 Desember 2019.

Pewarta: Husni Sahal
Editor: Muchlishon


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×