Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Kesesuaian PSBB dan Larangan Membahayakan Diri dalam Islam 

Kesesuaian PSBB dan Larangan Membahayakan Diri dalam Islam 
Ilustrasi
Ilustrasi
Jakarta, NU Online
Imam Besar Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar KH Muammar Bakry mengatakan peraturan pemerintah tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan larangan mudik sejatinya sejalan dengan perintah agama untuk menjaga kehidupan manusia. 
 
Ia juga mengatakan, larangan mudik yang diterapkan pemerintah beberapa waktu lalu merupakan bentuk kehati-hatian pemerintah untuk menghidari mudarat yang lebih besar yakni menghindari penyebaran wabah yang mengancam kehidupan umat manusia. 
 
Sehingga menurutnya, kebijakan pemerintah ini adalah bagian dari tujuan utama dari kehadiran syariat Islam yang sesungguhnya yaitu menjaga jiwa manusia dari marabahaya akibat Covid-19.
 
"Oleh karena itu kita selaku umat Islam harus mengikuti apa yang sudah disampaikan pemerintah untuk menjaga jiwa kita. Ini yang harus kita pahami dan sikapi bersama," ujar Wakil Rektor IV Universitas Islam Makassar, Jumat (24/4).
 
Di samping itu, mengikuti peraturan pemerintah merupakan keharusan sebagaimana dituliskan di dalam agama. "Karena yang perlu diketahui posisi kita sebagai umat Islam tentunya ada perintah agama yang harus kita ikuti, pertama itu adalah perintah dari Allah. Yang kedua yaitu perintah dari Rasulullah. Dan yang ketiga adalah perintah ulil amri atau pemerintah sendiri," ujarnya.
 
Ramadhan yang lebih personal 
Ia mengakui, pada bulan suci Ramadhan kali ini akan ada perbedaan dengan Ramadhan sebelumnya. Pada Ramadhan kali ini, umat Islam diimbau agar tidak melaksanakan shalat Tarawih bersama demi mempercepat memutus mata rantai virus Covid-19. Hal itu menyebabkan suasana Ramadhan yang biasa dirasakan akan berbeda saat ini. 
 
Meskipun sedikit berbeda, spirit puasa Ramadhan ini harus tetap sama seperti di bulan-bulan Ramadhan sebelumnya, yakni sebagai ruang untuk melatih diri untuk menjaga nafsu dan membatasi emosi.
 
"Oleh karena itu saya kira ibadah yang kita lakukan pada Ramadhan kali ini sifatnya lebih personal. Puasa Ramadan kali ini dapat dijadikan pelajaran sekaligus ujian bagi umat manusia utamanya umat Islam, untuk menahan nafsunya sehingga nilai dari puasa itu bisa kita wujudkan dalam semua sendi kehidupan kita ini," kata Pemimpin Pondok Pesantren Multidimensi Al-Fakhriyah tersebut.
 
Namun demikian, ia meyakini, kondisi ini mempunyai hikmah tersendiri, termasuk memaknai bulan Ramadhan kali ini sebagai momentum yang lebih intim dengan Sang Pencipta.
 
"Seperti shalat Tarawih dan buka puasa tidak lagi dilakukan secara beramai-ramai. Karena kegiatan kegiatan ibadah yang kita lakukan pada Ramadan kali ini sifatnya lebih personal. Spirit inilah yang harus tetap dibangun oleh oleh umat muslim bahwa kita melakukannya seorang diri tanpa mengurangi makna dari Ramadhan itu sendiri," ujarnya.
 
Perbanyak sedekah dari rumah
Hal lain yang bisa dilakukan dari rumah selama bulan ramadhan di tengah pandemi Covid-19 adalah dengan memperbanyak sedekah. Apalagi sedekah bisa dilakukan melalui sejumlah platform online. Karenanya, ia mengimbau agar umat Islam meningkatkan solidaritas kebersamaan dan gotong royong untuk membantu masyarakat di tengah pandemi ini.
 
"Artinya, dengan zakat dan infak yang kita lakukan selama bulan puasa ini tentu ada pengaruh positifnya kepada masyarakat. Maka itulah satu dari sekian banyak hikmah dari perintah puasa itu sendiri," ujarnya.
 
Pewarta: Ahmad Rozali
Editor: Kendi Setiawan


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×