Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

KH Zakky Mubarak Jelaskan Tantangan LDNU di Era Teknologi Informasi

KH Zakky Mubarak Jelaskan Tantangan LDNU di Era Teknologi Informasi
Mustasyar PBNU, KH Zakky Mubarak. (Foto: NU Online/Suwitno)
Mustasyar PBNU, KH Zakky Mubarak. (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zakky Mubarak menghadiri acara serah terima jabatan Lembaga Dakwah (LD) PBNU masa khidmah 2015-2021 kepada kepengurusan masa khidmah 2022-2027 yang berlangsung di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, pada Kamis (19/5/2022).


Kiai Zakky mengatakan bahwa LDNU merupakan salah satu lembaga yang sangat penting di NU. Terlebih dalam menghadapi era derasnya teknologi informasi (IT) sehingga memiliki tantangan sangat berat. Sebab LDNU harus tetap bisa melayani umat dengan melakukan kontranarasi terhadap pandangan-pandangan keagamaan yang merusak.


Karenanya, Kiai Zakky berpesan kepada para pengurus LD PBNU masa khidmah 2022-2027 untuk bisa menulis. Lebih lanjut, ia mengharapkan agar para dai di LD PBNU tidak berorientasi kepada duniawi. 


“Semua anggota LDNU, selain mampu berbicara dan berpidato, harus terus belajar menulis. Dengan tulisan itu kita bisa dibaca banyak orang. Satu tulisan yang saya sampaikan itu diperbanyak sampai ribuan. Jadi ini sangat penting,” ungkap Ketua LD PBNU masa khidmah 2010-2015 ini.


Kiai Zakky kemudian menceritakan kisah pertemuan antara seorang ulama Fudhail bin Iyadh dengan Khalifah Harun Ar-Rasyid. Dari kisah ini, ia berpesan kepada LD PBNU agar dalam berdakwah tidak berorientasi pada hal-hal duniawi.


Suatu ketika Harun Ar-Rasyid memanggil seorang pengawalnya agar ditemani untuk berkunjung ke kediaman seorang ulama.


“Kata pengawalnya, di sini setiap hari ulama datang berkumpul dari berbagai tempat. Kata Khalifah Harun Ar-Rasyid, bukan itu yang saya maksud. Ulama seperti itu, datang kemudian bikin syair memuji. Itu bosen saya. Saya ingin ulama yang betul-betul tergolong minal mukhlisin (orang-orang ikhlas),” kata Kiai Zakky bercerita. 


Kemudian dibawalah Khalifah Harun Ar-Rasyid ke rumah Fudhail bin Iyadh bersama 50 orang rombongan. Mereka tiba selepas shalat isya. Namun Fudhail bin Iyadh menolak untuk bertemu dan mengalihkan pertemuan agar dilakukan keesokan harinya.  


Lalu keesokan hari, Khalifah Harun Ar-Rasyid kembali datang pada pukul sembilan pagi. Kedatangannya itu semata-mata ingin meminta agar mendapat nasihat dari ulama sekaliber Fudhail bin Iyadh. Nasihat langsung diberikan tetapi dengan kalimat yang sangat sederhana. 


“Kalau kamu mau sukses, jadikan seluruh rakyatmu adalah keluargamu sendiri. Orang yang lebih tua darimu, dia orang tuamu. Anak mudanya adalah anakmu sendiri. Orang yang sebaya itu saudaramu. Dengan demikian kamu tidak akan bersikap tidak adil kepada mereka karena itu adalah keluargamu sendiri,” ucap Kiai Zakky membahasakan ulang nasihat Fudhail bin Iyadh kepada Harun Ar-Rasyid. 


Saking senangnya karena mendapatkan nasihat itu, Khalifah Harun Ar-Rasyid kemudian mengambil tas dan mengeluarkan uang logam emas murni sebagai hadiah untuk Fudhail bin Iyadh. Uang itu bukan milik negara tetapi warisan dari orang tua Harun untuk Fudhail.


Uang itu pun dilempar kembali kepada Harun seraya berkata agar diberikan kepada orang-orang yang lebih berhak. Sepeser pun, Fudhail bin Iyadh tidak menerima uang dari Harun Ar-Rasyid. 


Di dalam perjalanan pulang, Khalifah Harun Ar-Rasyid mengeluh. Dia berkata bahwa sesungguhnya yang menjadi raja itu bukanlah dirinya tetapi Fudhail bin Iyadh karena sangat angkuh pada duniawi. 


“Inilah hal-hal yang menjadi sandaran kita, supaya dai jangan orientasinya ke situ (duniawi). Materi itu kecil dan rezeki dari Allah. Banyak saudara-saudara kita yang mencari itu, susah. Yang tidak mencari malah datang dengan sendirinya. Ini yang harus ditegakkan. Dakwah itu harus ikhlas karena Allah. Jangan sampai ada intrik-intrik lain,” tegas Kiai Zakky. 


Atas terselenggaranya serah terima jabatan LD PBNU itu, Kiai Zakky menyampaikan ucapan selamat bekerja kepada pengurus masa khidmah 2022-2027. Ia mengaku akan secara penuh mendukung berbagai kegiatan dakwah yang dilakukan LD PBNU. 


Pada kesempatan ini, hadir Ketua LD PBNU masa khidmah 2022-2027 KH Abdullah Syamsul Arifin beserta jajarang pengurus lainnya. Hadir pula Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Musthofa dan Ketua PBNU KH Ahmad Fahrurrozi (Gus Fahrur). 


Acara ini juga dihadiri oleh para ketua LD PBNU dari masa ke masa, di antaranya KH Nuril Huda, KH Syukron Ma’mun, KH Maman Imanul Haq, dan KH Agus Salim HS. Acara yang dirangkai dengan halal bihalal ini dihadiri pula oleh para pengurus LD PWNU se-Indonesia secara daring. 


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×