Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Kiai Anwar Zahid: Bersyukur Bukan di Tahun Baru Saja

Kiai Anwar Zahid: Bersyukur Bukan di Tahun Baru Saja
Dai kondang KH Anwar Zahid saat ceramah dalam Muhasabah Akhir Tahun 2021 dan Jatim Bangkit 2022 yang disiarkan di TV9 Official, Jumat (31/12/2021) malam. (Foto: Tangkapan layar YouTube TV9)
Dai kondang KH Anwar Zahid saat ceramah dalam Muhasabah Akhir Tahun 2021 dan Jatim Bangkit 2022 yang disiarkan di TV9 Official, Jumat (31/12/2021) malam. (Foto: Tangkapan layar YouTube TV9)

Jakarta, NU Online 
Dalam persepsi banyak orang, tahun baru merupakan momen untuk bersyukur karena masih diberi umur panjang untuk hidup di tahun tersebut. Melihat hal ini, dai kondang KH Anwar Zahid mengatakan, bersyukur bukan hanya di tahun baru, melainkan setiap hari. Karena pada dasarnya manusia diberi kesempatan oleh Allah setiap harinya.


“Tahun baru itu sama dengan hari-hari biasa. Kalau pun seseorang bersyukur, karena ia telah diberi kesempatan dan waktu baru oleh Allah. Dan itu tidak harus di tahun baru. Setiap hari adalah waktu dan kesempatan baru yang diberikan Allah kepada manusia yang harus disyukuri,” katanya dalam Muhasabah Akhir Tahun 2021 dan Jatim Bangkit 2022 yang disiarkan di TV9 Official, Jumat (31/12/2021) malam.


Lebih lanjut, kiai asal Bojonegoro, Jawa Timur itu menjelaskan, setiap orang bangun tidur, sebenarnya ia sedang diberi waktu dan kesempatan baru oleh Allah. Maka begitu bangun tidur, ia dianjurkan untuk berdoa dengan diawali dengan kalimat tahmid, yaitu alhamdulillahilladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilahinin nusyur.


“Yang dialhamdulillahi bukan tidurnya, karena pada saat tidur, seseorang tidak melakukan apa-apa. Yang disyukuri adalah karena ia telah diberi kesempatan hidup oleh Allah,” imbuh kiai kelahiran 1974 itu.


Tiga dimensi waktu 
Kiai Anwar Zahid juga menjelaskan tiga dimensi waktu dan bagaimana seharusnya seseorang mengambil sikap pada tiap dimensinya. Tiga dimensi waktu itu adalah masa lalu, masa sekarang, dan masa mendatang.


Berkaitan dengan masa lampau, Kiai Anwar mengajak agar seseorang menyikapi dimensi waktu tersebut dengan menyesali dosa-dosa yang pernah diperbuatnya di masa lalu. Karena pada dasarnya, waktu itu tidak bisa diputar kembali untuk memperbaiki diri.


“Manusia tidak bisa berbuat apa-apa untuknya karena masa sudah lewat dan tidak ada lorong waktu yang bisa membawa kembali ke masa lalu,” ujar Kiai Anwar.


Berkaitan dengan masa sekarang, Kiai Anwar mengajak agar seseorang berhenti melakukan dosa-dosa yang pernah diperbuat di masa lalu. Di sisi lain, ia juga harus terus fokus memperbanyak amal baik.


Sementara berkaitan dengan masa depan, Kiai Anwar mengajak agar seseorang memiliki tekad yang kuat untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan sekaligus bertekad kuat untuk melakukan hal-hal baik.


“Keuntungannya, kalau bertekad kuat demikian, walau pun masa depan seseorang hanya sebentar, usianya pendek, ia akan (tetap) mendapat pahala seperti ketika diberi usia panjang dan melakukan amal-amal kebaikan,” ujar Kiai Anwar.


Mendasari argumennya, Kiai Anwar mengutip hadits Nabi yang artinya, Niat seseorang itu lebih baik daripada perbuatannya. “Niatkan yang baik, pasti yang datang akan baik-baik,” tandasnya.


Kontributor: Muhamad Abror
Editor: Musthofa Asrori



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×