Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Menuju Arah Baru PBNU, Gus Ulil Sarankan Kader NU Baca Buku Gus Yahya

Menuju Arah Baru PBNU, Gus Ulil Sarankan Kader NU Baca Buku Gus Yahya
Ketua Lakpesdam PBNU, Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) mengatakan KH Yahya Staquf (Gus Yahya) telah memberikan pemaknaan yang sangat baru terhadap sejarah berdirinya NU. Selama ini kebanyakan warga dan kader NU kurang imajinatif dalam mengenang berdirinya NU.  (Foto: NU Online/Suwitno)
Ketua Lakpesdam PBNU, Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) mengatakan KH Yahya Staquf (Gus Yahya) telah memberikan pemaknaan yang sangat baru terhadap sejarah berdirinya NU. Selama ini kebanyakan warga dan kader NU kurang imajinatif dalam mengenang berdirinya NU.  (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online
Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) menyarankan kepada seluruh kader NU se-Indonesia untuk membaca buku karya Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) berjudul Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama atau yang juga disingkat PBNU. Hal ini dilakukan dalam rangka menuju arah baru PBNU di bawah komando Gus Yahya. 


Menurutnya, Gus Yahya telah memberikan pemaknaan yang sangat baru terhadap sejarah berdirinya NU. Selama ini, kata Gus Ulil, kebanyakan warga dan kader NU kurang imajinatif dalam mengenang berdirinya NU. 


"Kita selama ini ketika membaca sejarah Komite Hijaz itu kan sekadar sebagai perkara mempertahankan ziarah kubur di Hijaz dan persoalan Saudi tidak menghapus pengajaran madzhab empat di Masjidilharam. Jadi imajinasi kita memang agak parsial atau sektarian," katanya dalam Kajian Ramadhan Nusantara yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama  Indonesia (Unusia) dan NU Online, di lantai 5 Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, pada Jumat (15/4/2022) siang.


Takwil Gus Yahya tentang sejarah berdirinya NU itu, menurut Gus Ulil, sama sekali belum pernah dikemukakan orang lain secara tertulis. Cara Gus Yahya memaknai sejarah NU itu bukan hanya sekadar urusan ziarah kubur dan empat madzhab di Arab Saudi. 


"Bukan masalah furu’iyah, tapi masalah lebih besar yaitu peradaban. Membaca sejarah NU seperti ini, belum ada sebelumnya. Pembacaan ini atas dasar husnuzan beliau," ungkap Gus Ulil. 


Takwil atas dasar prasangka baik kepada para muassis atau pendiri NU yang dilakukan oleh Gus Yahya itu, menurut Gus Ulil, sangat penting untuk bekal membangun gerakan. Di dalam buku itu, Gus Yahya sedang berupaya membangun arah baru NU. 


Sejak menjabat sebagai Ketua Lakpesdam, Gus Ulil mengaku kerap mendapat undangan dan diminta untuk menjelaskan arah baru PBNU. Ia bersyukur dan merasa beruntung ada buku yang ditulis oleh Gus Yahya itu. Buku PBNU yang terbit pada 2020 itu menjadi modal Gus Ulil untuk dibawa ke mana-mana. 


"Saya mohon nanti PBNU bisa mencetak buku ini kembali dan bisa jadi bahan bacaan se-Indonesia. Saya kalau ke mana-mana akan berbicara buku ini. Minimal di dalam waktu 10 tahun mendatang, saya sarankan untuk membaca, terutama bagian pertama," ujar Pengampu Ngaji Ihya Online itu. 


Proyek peradaban 

Membaca buku PBNU karya Gus Yahya itu sama dengan membaca NU sebagai proyek peradaban yang jauh lebih menarik. Jika mampu membaca NU sebagai proyek peradaban maka jihadnya tidak hanya sekadar furu’iyah fiqhiyah (ilmu cabang fiqih) semata. Akan tetapi, Gus Yahya memiliki rencana besar yang berujung pada peringatan satu abad NU pada Rajab 1444 H mendatang.


Pada peringatan satu abad NU itu, Gus Yahya ingin menggagas halaqah (pertemuan) untuk merumuskan fiqhul hadharah (fikih peradaban). Para pengurus kemudian akan membangun takwil ala NU terhadap peradaban.


"Saya berharap, mimpi Gus Yahya melalui buku ini dengan berdasarkan takwil atas berdirinya NU bisa menjadi energi gerakan baru. Berharap juga, dengan cara begini NU bukan hanya akan menjadi aktor politik yang terlibat dalam transaksi parsial dan sesaat, tetapi transaksi peradaban. Harganya bermartabat, solid, dan punya daya tahan yang panjang," pungkasnya. 


Pada diskusi buku PBNU itu, Gus Yahya berkesempatan hadir. Ia menjelaskan, sudah mulai menulis buku itu sejak 2013 tetapi baru benar-benar terlaksana pada 2019. Gus Yahya, dalam menulis, mengaku menumpahkan segala yang ada di kepala tanpa terlalu berusaha mencari data pendukung. 


"Sehingga bisa dilihat bahwa buku ini terlihat ilmiah hanya di bagian awal. Tapi saya menulis jujur, tidak dibuat-buat," jelasnya.


Selain Gus Ulil, hadir pula Dekan Fakultas Islam Nusantara (FIN) Unusia sekaligus Sekretaris Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT) PBNU Ahmad Suaedy yang menjadi narasumber kajian buku PBNU karya Gus Yahya itu. Katib Syuriyah PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali dan Wakil Ketua Umum PBNU H Nusron Wahid juga hadir dalam forum kajian Ramadhan itu. 


Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Kendi Setiawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×