Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Pandangan Islam terhadap Ramalan Zodiak

Pandangan Islam terhadap Ramalan Zodiak
Bagaimana pandangan Islam terhadap ramalan zodiak?. (Foto: Istimewa)
Bagaimana pandangan Islam terhadap ramalan zodiak?. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online

Seseorang kerap diramal karakter dan nasibnya berdasarkan tanggal lahir dilihat dari zodiaknya. Hal ini erat kaitannya dengan astrologi atau ilmu perbintangan. Misalnya, orang yang tergolong dalam Virgo akan bernasib bahagia.


Syekh Ibrahim al-Baijuri, dalam kitab Tahqiqul Maqam ala Kifayatil Awam, menyebut setidaknya ada 4 sikap manusia memandang ramalan zodiak seperti di atas, sebagaimana dilansir NU Online dalam tulisan Bolehkah Mempercayai Ramalan Zodiak dalam Islam.

 
  1. Kelompok yang meyakini bahwa tidak ada pengaruh apapun pada benda-benda itu. Sebab, Dzat yang memberi pengaruh hanyalah Allah disertai kemungkinan bersalahan antara sebab dan akibatnya. Inilah kelompok yang selamat.
  2. Kelompok yang meyakini bahwa tidak ada pengaruh apapun pada benda-benda itu, tetapi meyakini kelaziman antara sebab dan akibat sekira tak ada kemungkinan bersalahan. Ini adalah kelompok yang tidak mengerti hakikat hukum adi, dan terkadang dapat membawa kelompok ini pada kekufuran. Mereka mengingkari sesuatu yang bertentangan dengan adat, misalnya kebangkitan.
  3. Kelompok yang meyakini bahwa segala benda itu dapat memberi pengaruh karena tabiatnya. Kekufuran kelompok ini disepakati ulama.
  4. Kelompok yang meyakini bahwa benda-benda itu memberi pengaruh karena kekuatan yang Allah titipkan di dalamnya. Perihal kekufuran kelompok ini, pendapat ulama terbelah menjadi dua. Pendapat lebih sahih menyatakan bahwa kelompok ini tidak kufur.


Ada pula yang menyebut ramalan zodiak sebagai bagian dari hukum adi. Dalam konteks hukum adi ini, ramalan zodiak lahir dari kebiasaan yang berulang-ulang dan terbukti sehingga kaitan antara nasib atau karakter tertentu dan bulan tertentu tampak erat.


Jika dalam konteks di atas, percaya ramalan tersebut sebagai suatu yang berulang boleh-boleh saja. Ini sama halnya dengan percaya bahwa parasetamol adalah obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri dan menurunkan panas.


Namun, hal ini perlu diingat bahwa hubungan ramalan tersebut merupakan sebab akibat dari sebuah kebiasaan. Artinya, mungkin saja ramalan itu tidak terbukti. Pun parasetamol juga tidak menghilangkan rasa nyeri dan menurunkan suhu tubuh.


Oleh karena itu, kepercayaan terhadap hubungan tanggal atau bulan kelahiran dengan nasib atau karakter seseorang ini tidak boleh bersifat mutlak. Senada, percaya terhadap parasetamol dan kesembuhan ini juga tidak mutlak.


Hal ini juga disampaikan Syekh Burhanuddin bin Firkah mengutip Imam Syafi’i, bahwa jika keyakinan hanya Allah yang memberi pengaruh dan Allah menjadikan kebisaan bahwa terjadi hal tertentu di waktu tertentu tidak menjadi soal. Celaan yang ada terhadap hal ini seyogyanya dibawakan dalam konteks jika yang diyakini memberikan pengaruh baik atau buruk itu adalah bintang-bintang itu atau makhluk lainnya. Demikian dilansir NU Online dalam Apakah Menghitung Hari Baik-Buruk Termasuk Syirik?.


Sementara itu, perlu diketahui juga, sebagaimana dilansir NU Online dalam Menebak Karakter Seseorang Berdasarkan Zodiak dalam Islam, bahwa karakter seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor zodiak atau tanggal lahirnya. Meskipun ada sebuah penelitian, bahwa tanggal dan bulan lahir seseorang dapat mempengaruhi sifat atau kepribadiannya. Sebab, para peneliti ini juga menolak hasilnya itu dijadikan sebagai acuan. Pasalnya, hal yang lebih dominan justru kebutuhan tertentu dari seorang manusia tersebut untuk kehidupannya di masa kini dan akan datang. Dalam hadits juga disebutkan, bahwa setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, ataupun Nasrani.


Terlebih, Imam Ghazali dalam magnum opusnya, Ihya Ulumuddin, menyebutkan bahwa dalam diri tiap-tiap manusia terdapat empat macam karakter yang saling mempengaruhi, yakni, Rubu’iyah (sifat ketuhanan), Syaithaniyah (kesetanan), Bahimiyah (kehewanan), dan Sabu’iyah (Kebuasan).


Oleh karena itu, ramalan zodiak tidak sepatutnya dijadikan sebagai suatu patokan untuk menilai karakter seseorang. Sebab, hal ini dikhawatirkan berujung pada penghakiman sepihak yang membuat terjerembab ke dalam jurang prasangka buruk.


Pewarta: Syakir NF
Editor: Muhammad Faizin





Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×