Nasional

PBNU: Hilal Ramadhan Tidak Terlihat di 33 Titik Rukyah

Ahad, 10 Maret 2024 | 19:00 WIB

PBNU: Hilal Ramadhan Tidak Terlihat di 33 Titik Rukyah

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). (Foto: NU Online)

Jakarta, NU Online

Anggota Pengurus Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU), Rusli Arsyad, menyampaikan hasil rukyatul hilal yang masuk sebanyak 33 titik tidak berhasil melihat hilal awal Ramadhan 1445 H. 


“Dari 33 titik rukyah melaporkan tidak berhasil melihat hilal karena ada cuaca mendung dan awan tebal,” kata Rusli kepada NU Online, Ahad (10/3/2024).


Ia menjelaskan, LF PBNU sendiri telah mengoordinasikan lembaga-lembaga falakiyah PCNU di seluruh Indonesia untuk melakukan rukyah hilal awal Ramadhan. Hasil pantauan dari 33 titik rukyah yang aktif menunjukkan bahwa hilal tidak berhasil terlihat karena kondisi cuaca yang mendung dan awan tebal.


Rusli Arsyad menjelaskan bahwa dari 60 titik rukyah yang terdapat di seluruh Indonesia, hanya sekitar 33 titik yang aktif dalam kegiatan rukyatul hilal. Namun, seluruh titik rukyah yang telah melaporkan hasil observasinya menyatakan bahwa hilal tidak dapat terlihat karena kondisi cuaca yang tidak mendukung.


"Cuaca ada yang gerimis, ada yang mendung, ada juga yang tertutup awan tebal. Karena awan tebal itu, ada yang pada jam 4 sore matahari sudah tidak nongol sampai maghrib," ungkap Rusli.


Meskipun telah dilakukan pantauan di berbagai wilayah, termasuk Pelabuhan Ratu yang melaporkan hilal tidak terlihat, namun kemungkinan besar hilal juga tidak berhasil terlihat di wilayah Sabang.


“Dilanjutkan ke titik terakhir di Aceh. Kita juga ada di Sabang sekarang ini sudah melewati Jakarta dan Pelabuhan Ratu. Pelabuhan ratu melaporkan hilal tidak terlihat tinggal nanti sampai ke Sabang sekitar jam 7. Kemungkinan besar hilal tidak berhasil terlihat,” kata dia.


Saat ini, belum ada laporan yang menyatakan berhasilnya melihat hilal di seluruh titik rukyah yang telah dilaporkan.


Dengan demikian, penetapan awal bulan Ramadhan masih menunggu hasil akhir dari koordinasi lembaga falakiyah di seluruh Indonesia.