Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Pesan bagi Para Penghafal Qur’an: Sedikit tapi Mendalam Lebih Baik dari Banyak tapi Menghilang

Pesan bagi Para Penghafal Qur’an: Sedikit tapi Mendalam Lebih Baik dari Banyak tapi Menghilang
Ilustrasi: Dalam menghafalkan Al-Qur’an agar mengedepankan kualitas hafalan. Bukan hanya kuantitas dengan mengejar jumlah hafalan.
Ilustrasi: Dalam menghafalkan Al-Qur’an agar mengedepankan kualitas hafalan. Bukan hanya kuantitas dengan mengejar jumlah hafalan.

Pringsewu, NU Online
Animo umat Islam di Indonesia untuk menghafalkan Al-Qur’an saat ini mengalami tren positif. Seiring dengan tren ini, banyak orang dan komunitas yang membuat lembaga tahfidzul Qur’an untuk menampung keinginan masyarakat khususnya orang tua yang menginginkan anaknya menjadi hafiz ataupun hafizah. 


Banyak yang berlomba menawarkan berbagai metode cepat menghafal Al-Qur’an selain memberikan berbagai macam fasilitas agar dalam proses menghafalkan, para calon penghafal bisa istiqamah dan nyaman. Bukan dalam hitungan puluhan tahun, dalam hitungan beberapa tahun para penghafal Qur’an dijanjikan bisa hafal.


Terkait dengan fenomena ini, Pengasuh Pesantren Nurul Ummah Gemah Ripah Pagelaran Pringsewu, Lampung KH Sujadi mengingatkan agar dalam menghafalkan Al-Qur’an untuk mengedepankan kualitas hafalan. Bukan hanya kuantitas dengan mengejar jumlah hafalan.


Ia mengingatkan dengan sebuah pesan dari KH Arwani Amin Kudus, yang saat ini tertulis di maqbarahnya yang berbunyi: قليلٌ قَرّخيرٌ من كثير فَرّ yang artinya lebih kurang: "Sedikit tapi mendalam, lebih baik dari banyak tapi mengambang (lari) atau Sedikit tapi membekas lebih baik dari pada banyak tapi menghilang."


Kalimat bijak ini menurut Abah Sujadi, sapaan karibnya, memang oleh Kiai Arwani ditujukan bagi para penghafal al Quran. Kalimat introspektif ini mengingatkan bahwa dalam menghafal al Quran tidak perlu terburu-buru. Sedikit tapi lancar serta betul-betul memahaminya, lebih baik dari pada banyak tapi cepat lupa dan tak memahaminya. 


"Kiai Munawir Krapayak bisa jadi contoh. Beliau mengutamakan kualitas hafalan sampai 21 tahun lebih," ungkapnya saat memberikan kajian Tafsir Al-Qur’an Kitab Jalalain, Ahad (18/9/2022).


Selain mengutamakan kualitas hafalan dengan tidak terburu-buru fokus pada hafal 30 juz, para penghafal Al-Qur’an termasuk para orang tua penghafal juga harus memasang dan menata niat yang benar. Jangan sampai niatan menghafal Al-Qur’an untuk hal-hal bersifat duniawi seperti untuk mencari pekerjaan dan sejenisnya.


"(Menghafal Qur’an) Ini tentu sangat bagus dan mulia. Tetapi kalau hafalannya nantinya dijadikan profesi untuk meraih hajat dunia tentu harus diluruskan. Karena menghafal Al-Qur’an adalah upaya mendekatkan diri pada Allah untuk menjaga ayat-ayat Allah," jelasnya pada Kajian Tafsir Al-Qur’an rutin yang diasuhnya dan dilaksanakan setelah shalat shubuh secara virtual.


Setelah menghafalkan dengan niat yang benar, para penghafal Al-Qur’an juga harus mampu memahami makna ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan benar, baik secara teks maupun konteks. Pemahaman yang tidak komprehensif terhadap ayat Al-Qur’an akan bisa membahayakan khususnya bagi para generasi muda. 


Pewarta: Muhammad Faizin 
Editor: Kendi Setiawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×