Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Ratu Elizabeth II Meninggal: dalam 3 Hari, Inggris Berganti Perdana Menteri dan Kepala Negara Sekaligus

Ratu Elizabeth II Meninggal: dalam 3 Hari, Inggris Berganti Perdana Menteri dan Kepala Negara Sekaligus
Ratu Elizabeth II, Raja Charles III, dan Liz Truss. (kanan ke kiri)
Ratu Elizabeth II, Raja Charles III, dan Liz Truss. (kanan ke kiri)

Jakarta, NU Online

Meninggalnya Kepala Negara Inggris, Ratu Elizabeth II, menyisakan duka bagi sebagian besar warga Inggris dan negara-negara yang dikepalai oleh perempuan yang bertakhta selama lebih dari 7 dasawarsa itu. Elizabeth Alexandra Mary, demikian nama lengkap sang ratu, mengembuskan napas terakhir di Kastil Balmoral, kediaman favoritnya di Aberdeenshire, Skotlandia, pada Kamis (8/9/2022).


Sebelumnya, sejak Selasa (6/9/2022), sang ratu dinyatakan mengalami sakit keras dan seluruh anggota inti keluarganya hadir di Balmoral. Ia kemudian menyusul suaminya, Philip, yang meninggal tahun lalu.


Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengirimkan ucapan bela sungkawa atas meninggalnya Elizabeth II. Melalui akun Instagram @nahdlatululama, PBNU menyampaikan duka cita mendalam.


“Kami menyampaikan duka yang mendalam. Ratu Elizabeth II lebih dari sekadar pemimpin kerajaan tapi juga telah menentukan sebuah era,” catat akun resmi PBNU itu.


Kematian Elizabeth II diumumkan pertama kali dalam cuitan di akun resmi Twitter keluarga Kerajaan Inggris, @RoyalFamily, pada pukul 18.30 waktu setempat. Sebuah pernyataan yang sangat ringkas.


“Sang Ratu wafat dalam damai di Balmoral sore ini,” demikian bunyi cuitan tersebut.


Tiga puluh menit kemudian, muncul cuitan lagi di akun yang sama. Kali ini akun tersebut melampirkan pernyataan resmi dari Istana Buckingham yang mengatasnamakan “His Majesty The King”: 


“Wafatnya Ibunda tercinta saya, Yang Mulia Ratu, adalah momen kesedihan terbesar bagi saya dan seluruh anggota keluarga saya.”


“Saya” yang dimaksud dalam pernyataan itu tentu saja merujuk kepada Charles Philip Arthur George atau yang selama ini lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Charles, anak tertua Elizabeth II. 


Dengan meninggalnya Elizabeth II, takhta Kerajaan Inggris secara otomatis memang beralih kepada Charles. Dalam Garis Suksesi Kerajaan semasa Elizabeth II berkuasa, Charles menempati urutan pertama. Setelah Charles memiliki anak, posisinya dalam Garis Suksesi diikuti oleh anak tertuanya, William Arthur Philip Louis, dan disusul lagi oleh para anggota keluarga lain yang memenuhi syarat untuk menjadi calon ratu/raja. 


Dengan demikian, mulai 8 September 2022, Inggris memiliki raja baru yang mendapat gelar Raja Charles III. Di umur yang ke-73 saat ini, Charles mencatat rekor sebagai orang tertua yang menjadi penguasa Kerajaan Inggris.


Mendiang ibunda Charles dilantik sebagai ratu pada 6 Februari 1952 sehingga secara total ia berkuasa selama 70 tahun 6 bulan 8 hari. Dalam sejarah kerajaan tersebut, ini adalah waktu terpanjang berkuasanya seorang ratu/raja. Dengan kata lain, itulah rentang terlama bagi rakyat Inggris untuk mendapatkan kepala negara baru.


Menurut laporan BBC, hari ini pada pukul 18.00 waktu setempat (Sabtu pukul 00.00 WIB), Charles III dijadwalkan menyampaikan pidato pertama sebagai kepala negara. Ia juga akan mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris di London.


Perdana Menteri Baru

Hanya tiga hari sebelum Charles menjadi raja, parlemen Inggris menunjuk perdana menteri baru. Pada Selasa (6/9/2022), Ketua Partai Konservatif, Mary Elizabeth Truss, dilantik sebagai perdana menteri menggantikan Boris Johnson yang limbung karena berbagai skandal dan kegagalan.


Liz Truss, sapaan akrabnya, adalah orang yang berpengalaman di level tertinggi politik Inggris. Sebelum menjadi perdana menteri, ia beberapa kali menempati posisi menteri sejak era pemerintahan David Cameron. Ia juga merupakan perdana menteri perempuan ketiga setelah Margaret Thatcher (1979-1990) dan Theresa May (2016-2019).


Menariknya, dalam konteks hubungan dengan kerajaan, Truss di masa masa mahasiswa adalah penyokong penghapusan monarki. Pada usia 19 tahun, ketika masih menjadi anggota Partai Liberal Demokrat, ia pernah berpidato di suatu konferensi partai.


“Kita tidak percaya bahwa orang dilahirkan untuk berkuasa,” kata Truss kala itu sebagaimana dikutip Guardian.


Bertahun-tahun kemudian, sebagai perdana menteri, Truss yang saat ini berumur 47 menyatakan pendapatnya tentang mendiang sang ratu.


“[Elizabeth II adalah] salah satu pemimpin terbesar yang pernah diketahui dunia.”


Pewarta: Ivan Aulia Ahsan
Editor: Syakir NF



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×