Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Upaya Gali Gagasan Santri untuk Atasi Problem Bangsa melalui Simposium

Upaya Gali Gagasan Santri untuk Atasi Problem Bangsa melalui Simposium
Upaya Menggali Gagasan Santri untuk Atasi Problem Bangsa. (Foto: Istimewa)
Upaya Menggali Gagasan Santri untuk Atasi Problem Bangsa. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online

Dalam rangka mengaktualisasikan gagasan dan pemikiran para santri sebagai solusi untuk mengatasi problem bangsa, Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) akan menggelar Simposium Khazanah Pemikiran Santri dan Kajian Pesantren atau Al-Multaqo ad-Dawliy lil-Bahts ‘an Afkar at-Thullab wa-Dirasat Pesantren (MU’TAMAD).


Kegiatan yang menjadi bagian dari Peringatan Hari Santri 2022 ini akan digelar pada 12-14 Oktober 2022 di lokasi yang akan ditentukan kemudian.


“Latar belakangnya bagaimana santri dengan keahliannya dalam berbagai sisi pemikiran dapat terbaca, tersosialisasi kepada masyarakat lebih luas. Santri bisa memikirkan memberikan solusi atas problem bangsa. Makanya temanya selalu kontekstual,” ujar Direktur PD Pontren Prof Waryono kepada NU Online pada Senin (19/9/2022).


Oleh karena itu, Waryono mengajak para santri untuk dapat terlibat berkontribusi dalam melahirkan gagasannya sebagai bagian dari langkah solutif atas problem zaman. “Saya mengajak mengundang kepada seluruh santri untuk menuangkan pikiran, gagasan cerdasnya, bagaimana menjawab isu-isu terbaru,” katanya.


“Saya percaya masyarakat menunggu pikiran genuine santri, untuk menulis dengan baik dan kemudian,” imbuh Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.


Adapun subtema yang akan diangkat pada Mu’tamad tahun 2022 ini adalah pertama, Sui Generis dalam Tradisi Pendidikan Pesantren. Waryono menyebut, bahwa tema ini bagian dari cara merefleksikan diri bagaimana pesantren di tengah arus perubahan besar.


“Ini relevan dengan isu RUU Sisdiknas dan mengupayakan Pesantren rethingking berpikir ulang seperti apa ke depannya,” katanya.


Kedua, Pesantren dan Ketahanan Pangan dan Energi. Waryono menyebut, bahwa komunitas pesantren jumlahnya cukup banyak dan tentunya berdampak pada tingginya kebutuhan pangan. “Diharapkan pesantren bukan hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi pelaku ketahanan pangan,” ujarnya.


Ketiga, Strategi dan Kontribusi Pesantren dalam Penguatan Moderasi Beragama. Tema ini, katanya, tentu saja ditujukan sebagai menghidupkan kembali nilai pesantren yang sudah hidup lama. Tema ini mengangkat bagaimana pesantren mengimplementasikan nilai-nilai tawazun, tasamuh atau toleran.


Keempat, Pesantren Ramah Anak dan Disabilitas. Tema ini berkait erat dengan isu yang berkembang mengenai dunia pesantren, seperti kekerasan dan asusila. Tradisi pesantren bukan hanya ramah dengan anak dan disabilitas, tetapi juga manusia. Kasus yang muncul hanyalah wajah dari pelaku tidak bisa digeneralisasi secara umum. Sebab, pesantren sudah hadir membantu dan membina masyarakat sejak dahulu.


“Ketika negara belum hadir, pesantren sudah hadir di tengah masyarakat, mencerdaskan bangsa. Sebenarnya ini, peneguhan saja. Sebab pesantren itu lembaga pendidikan yang terbuka untuk siapapun,” katanya.


Kelima, Pesantren dan Lingkungan Hidup. Tema ini diangkat mengingat umumnya pesantren dibangun di pedesaan dengan lingkungannya yang masih bagus nan asri. “Diharapkan pesantren menjadi penjaga dan pelestari lingkungan,” katanya.


Keenam, Kemandirian Ekonomi Pesantren. Tema ini diangkat untuk menegaskan fungsi dakwah pesantren yang bisa dilakukan secara independen.


Ketujuh, Pesantren dan Tantangan Fiqih Minoritas. Waryono menyebut, bahwa ada banyak minoritas Muslim di berbagai pelosok dunia. Mereka memiliki latar belakang yang beragam, baik profesi maupun suku bangsanya. Karenanya, tema ini penting diangkat untuk menjaga komitmen keislamannya di tengah ketiadaan tempat wudhu dan shalat, ataupun waktu shalat yang berbarengan dengan waktu kerja atau jam kuliah.


“Saya pikir (tema) ini sesuai kebutuhan (saat ini),” pungkasnya.


Adapun pendaftaran dan informasi lengkap mengenai penyelenggaraan Simposium Khazanah Pemikiran Santri Tahun 2022 ini dapat dilihat melalui tautan ini.


Pewarta: Syakir NF
Editor: Muhammad Faizin





Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×