Opini

Perkawinan, Seks, dan Cinta dalam Islam

Rab, 3 Mei 2017 | 08:30 WIB

Oleh Muhammad Ishom

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an, Surah Ar-Rum, Ayat 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ 
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian semua istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Ayat di atas cukup populer dan sering dibacakan oleh para qari’ dalam acara resepsi perkawinan. Demikian pula para kiai atau ustadz juga sering mengutip ayat itu untuk memberikan wejangan atau taushiyah kepada pengantin baru yang sedang melaksanakan walimatul ‘ursy.

Tulisan ini saya maksudkan sebagai sebuah refleksi dari perkawinan kami yang pada tanggal 28 September lalu merupakan ultah perkawinan kami yang ke-25, atau sering disebut ultah perkawinan perak. Refleksi ini juga saya maksudkan sebagai sharing pembelajaran tentang hidup berumah tangga kepada para pemuda yang belum atau akan menikah; sekaligus mengingatkan kembali komitmen para pasutri (pasangan suami istri) dalam membangun rumah tangga.

Sebagaimana saya nyatakan di atas bahwa 25 tahun lalu kami memulai hidup baru. Tetapi pernikahan kami tidak melalui proses berurutan sebagaimana lazimnya di zaman sekarang, yakni: cinta – perkawinan – seks. Terus terang hubungan kami berawal dari perkawinan, seks, lalu cinta. Jadi kami menikah dulu tanpa pacaran dan langsung menjadi suami istri.

Pertanyaannya adalah proses atau pola urutan manakah yang lebih sesuai dengan tuntunan Islam dalam membangun rumah tangga? Apakah seperti yang lazim di masyarakat di zaman sekarang, yakni cinta - perkawinan – seks, ataukah seperti pengalaman kami yang itu sering terjadi di zaman dulu, yakni perkawinan - seks - cinta?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, marilah kita kembali pada ayat yang di awal telah saya sebutkan. Ayat tersebut akan saya uraikan sesuai dengan kandungan maknanya. Secara sederhana dapat saya uraikan bahwa ayat di atas memiliki sedikitnya 3 (tiga) makna penting sebagai berikut:

1. وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا 

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah menciptakan istri-istri untuk kamu semua dari jenismu sendiri.”

Salah satu makna terpenting dalam penggalan ayat ini adalah bahwa sebuah rumah tangga diawali dengan perkawinan. Tidak boleh sebuah rumah tangga diawali dengan seks tanpa perkawinan, karena inilah yang disebut kumpul kebo. Kumpul kebo itu sendiri seringkali barawal dari cinta. Oleh karena itu kita patut berhati-hati dengan cinta yang datangnya sebelum perkawinan karena ia bisa menjerumuskan jika tidak dikelola dengan baik.

Sudah banyak terjadi apa yang sering disebut dengan “kecelakaan” di mana seorang perempuan mengalami kehamilan, atau seorang laki-laki menghamilinya sebelum perkawinan. Ini artinya mereka telah menempatkan seks sebelum perkawinan. Jelas hal ini tidak sesuai dengan penggalan ayat di atas yang menegaskan bahwa hubungan laki-laki dan perempuan dalam suatu ikatan keluarga atau rumah tangga dimulai dari perkawinan.

Melalui perkawinan, seorang laki-laki dan seorang perempuan melakukan akad nikah dengan syarat dan rukun tertentu. Sekali lagi prosesi perkawinan merupakan awal terbentuknya rumah tangga di mana hubungan mempelai laki-laki dengan mempelai perempuan kemudian menjadi hubungan suami istri secara sah. Hubungan ini penting karena memberikan legitimasi terbentuknya sebuah rumah tangga sebagai tempat berlabuh untuk mencapai ketentraman hidup atau yang disebut dengan kehidupan yang sakinah.

2. أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهاَ 

Artinya: “Allah menciptakan istri-istri untuk kamu semua dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.”

Penggalan ayat di atas mengandung makna bahwa tempat berlabuh berupa rumah tangga dimaksudkan oleh Allah agar manusia dapat mencapai ketenteraman hidup atau kehidupan yang sakinah. Kita semua tahu bahwa manusia dianugerahi Allah SWT dengan syahwat atau hawa nafsu sebagaimana dinyatakan dalam penggalan ayat 14 dalam Surah Ali Imran berikut ini:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ ....

Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak...”

Penggalan ayat di atas menegaskan bahwa dalam hidup ini manusia dibekali dengan nafsu tertentu, seperti laki-laki memiliki kecenderungan untuk menyukai perempuan dan sebaliknya perempuan memiliki kecenderungan menyukai laki-laki. Mereka juga cenderung menyukai anak-anak sebagai darah dagingnya sendiri. Untuk itulah maka manusia dibekali dengan nafsu seks untuk mendapatkan keturunan. Nafsu seks seperti itu harus mendapatkan tempat penyaluran yang benar, yakni dengan memiliki pasangan hidup yang disebut istri atau suami melalui perkawinan.

3. وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً 

Artinya: “Dan dijadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”

Dengan adanya tempat berlabuh yang jelas melalui perkawinan yang sah, maka di situlah nafsu seks yang kemudian berkembang menjadi rasa kasih atau cinta birahi menemukan salurannya secara benar. Cinta birahi (mawaddah) adalah rasa kasih yang pengungkapannya melalui seks. Sebagaimana diuraikan di atas, seks itu sendiri hanya boleh disalurkan setelah perkawinan. perkawinan tanpa seks sulit untuk mencapai cinta, dan seks tanpa perkawinan adalah perzinahan dan tidak akan menghasilkan cinta sejati yang dalam bagian ayat itu disebut sayang (rahmah). Sayang atau cinta sejati atau rahmah menjadi puncak dari perkawinan dan seks.

Dengan demikian berdasarkan pada Surah Ar-Rum, ayat 21, saya berkesimpulan proses atau pola urutan membangun rumah tangga yang sesuai dengan tuntunan Islam adalah perkawinan – seks – cinta.

Apa yang saya uraiakan di atas secara tidak langsung menegaskan bahwa dalam Islam tidak dikenal pacaran dimana laki-laki dan perempuan menjalin hubungan dengan dorongan cinta. Sebagaimana saya uraikan di atas cinta yang tumbuh dan berkembang sebelum perkawinan bisa menjerumuskan ke dalam kemaksiatan apabila tidak dikendalikan atau dikelola dengan baik. Namun demikian, Islam membolehkan ta’aruf, yakni perkenalan antara laki-laki dan perempuan sebatas pada hal-hal mendasar, seperti identitas diri dan asal usul keturunan masing-masing.

Pertanyaannya kemudian, bisakah perkawinan atau pembentukan rumah tangga tanpa ada cinta sebelumnya?

Jawabnya adalah seseorang bisa membangun rumah tangga meski tanpa didasari cinta. Dalam Islam, niat beribadah kepada Allah sesungguhnya merupakan pondasi yang lebih mendasar dan kokoh bagi sebuah perkawinan dari pada sekedar cinta yang sewaktu-waktu bisa meredup di tengah jalan, atau hanya menggebu-gebu di awal, atau bahkan berubah menjadi kebencian yang mendalam. Sebetulnya tidak menjadi masalah ada cinta sebelum perkawinan selama cinta itu dapat dikelola dengan baik, tetapi janganlah cinta itu menjadi hal satu-satunya yang mendasari perkawinan karena sekali lagi ada hal yang lebih luhur dan mulia dari pada sekitar cinta, yakni niat beribadah kepada Allah SWT.

Perkawinan yang didasari ibadah akan menghasilkan cinta sejati yang bersumber dari cinta ilahi. Maka seyogianya ibadah itu menjadi dasar perkawinan dan cinta sejati menjadi puncaknya. Cinta yang tumbuh dan berkembang setelah perkawinan dan seks memang memiliki karakter yang sangat berbeda dengan cinta yang tumbuh sebelum kedua hal itu. Dalam perkawinan terdapat rahmat Tuhan. Di sana berkah-Nya dilimpahkan kepada suami dan istri karena perkawinan adalah sunnah Rasulullah SAW. Melalui perkawinan terjadilah sebuah revolusi. seks yang sebelumnya diharamkan serta merta dihalalkan dan bernilai idadah karena diperintahkan setelah berlangsung perkawinan. Dengan seks yang diberkati Tuhan, suami dan istri saling membahagiakan untuk mencapai ridha-Nya. Di titik itu cinta insani dan cinta ilahi bertemu, lalu menyatu menjadi cinta seutuhnya – cinta manunggal. 

Semoga apa yang saya sampaikan di atas dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita semua khususnya dalam kaitannya dengan perkawinan. Kita diingatkan bahwa puncak dari perkawinan adalah cinta. Maka cinta harus selalu ada dan hidup dalam rumah tangga kita karena itu merupakan rahmah atau cinta sejati yang bersumber dari Allah SWT. Jika akhir-akhir ini kita sering mendengar akronim samara, yang merupakan kependekan dari sakinah, mawaddah wa rahmah, maka implementasinya adalah melalui perkawinan – seks – cinta sebagaimana dijelaskan dalam Surah Ar-Rum, ayat 21 di atas.


Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta