IMG-LOGO
Nasional

Belas Kasih Rasulullah​ Ketika Lebaran

Jumat 7 Juni 2019 9:30 WIB
Bagikan:
Belas Kasih Rasulullah​ Ketika Lebaran
Banyuwangi, NU Online
Islam demikian perhatikan kepada nasib fakir miskin dan anak-anak yatim. Bahkan yang menyia-nyiakan nasib anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada kaum miskin disebut mendustakan agama, sebagaimana dalam Al-Qur'an Surat Al-Maun.

Ustadz Ahmad, saat ceramah Idul Fitri di Masjid Baiturrahim, Desa Gambor, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Jawa Timur mengajak umat Islam menundukkan kepala, merenungi puasa yang sudah dijalani. Diajaknya jamaah untuk dapat berempati kepada para anak yatim yang ditinggal ayahnya, dan peduli kepada orang-orang miskin.

"Ujian bagi yatim dan miskin adalah dengan kesabaran. Ujian bagi yang kaya adalah syukur," ujarnya.

Dikatakan oleh Ustadz Ahmad, bahwa berlebaran itu harus peduli dan empati kepada sesama. Karena Lebaran bukanlah sekedar berbaju baru. Ia kemudian mengutip kisah lebaran Rasulullah dalam kitab An-Nawadir karya Syekh Qolyubi.

Rasulullah, kata Ustadz Ahmad, keluar Shalat Idul Fitri. Kemudian, Rasulullah melihat beberapa anak bermain dan di antara mereka ada anak yang duduk di seberang dalam keadaan menangis. Kemudian Rasulullah menghampirinya."

"Hai, anak, mengapa kamu menangis dan tidak mau bermain dengan mereka?" tanya Rasulullah.

Ternyata anak yang sedang menangis itu adalah seorang yatim. Rasulullah kemudian berkata, "Maukah engkau menganggapku sebagai ayah, dan Aisyah sebagai ibu?"

Ustadz Ahmad meneruskan, anak itu mau dan kemudian diajak oleh Rasulullah ke rumah Nabi. "Oleh beliau anak itu diberi sebaik-baik baju, diberinya makan, dan agar ia senang. Anak yatim itu pun kemudian bergabung dengan anak-anak lainnya," kisahnya.

Anak-anak yang sedang bermain bertanya kepada sang yatim, "Kenapa tadi menangis dan sekarang bergembira?" Anak yatim itu pun menjawab, "Tadi saya lapar, sekarang saya sudah kenyang. Tadi saya belum berpakaian (pantas), sekarang saya berpakaian. Sebelumnya saya yatim, sekarang Rasulullah menjadi ayahku, Aisyah ibuku, Fathimah saudariku, dan Ali pamanku."

"Demikianlah rasa belas kasih yang dicontohkan oleh Rasulullah. Beliau sangat mencinta anak anak yatim dan mencintai orang-orang miskin," tegas Ustadz Ahmad. (Yusuf Suharto/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Jumat 7 Juni 2019 13:0 WIB
Gus Muwafiq Beber Cara Ulama Memperindah Ajaran Islam
Gus Muwafiq Beber Cara Ulama Memperindah Ajaran Islam

Jakarta, NU Online
Puasa Ramadhan dan Idul Fitri di Indonesia cukup unik, bahkan mungkin yang terunik di dunia. Betapa tidak, cukup banyak kegiatan yang menyertai Ramadhan dan Idul Fitri. Misalnya halal bi halal, saling mengunjungi antar sanak famili, mudik, dan sebagainya.

“Jadi Ramadhannya satu, sampingannya yang banyak. Kolak, mercon, takbir keliling, itu sampingnnya. Itu kehebatan orang Indonesia. Kalau di Arab, habis shalat Id, ke kebun binatang sama keluarga, dan sebagainya. Tidak ada silaturrahim, apalagi hal bi halal ,” tukas Gus Muwafiq dalam ceramahnya di  Khazanah Islam di metrotv, Rabu (6/6) malam.

Menurutnya, secara syariah puasa simpel sekali. Yaitu menahan lapar sejak subuh hingga magrib tiba. Namun yang membikin tidak simpel adalah kegiatan sampingan yang menyertai Ramadhan dan Idul Fitri. Kegiatan sampingan tersebut, lanjut Gus Muwafiq, memang dibikin sedemikian rupa oleh para ulama agar puasa menjadi indah, dan tidak monoton sehingga menarik minat masyarakat.

“iniah cara yang dibangun oleh para ulama agar Islam itu menjadi indah,” ujarnya.

Dikatakannya, Indonesia jauh dari pusat turunnya Islam (Arab) sehingga para ulama membuat cara agar Islam semarak, dan tampak indah. Salah satunya adalah mudik, sebuah tradisi yang menyertai Idul Fitri. Dengan tradisi mudik, maka silatrurrahim menjadi lebih indah. Meski silatrurahim sering dilaksanakan di luar bulan Ramadhan, tapi silaturrahim setelah lebaran beda sekali rasanya.

“Kekuatan silaturrahim inilah yang menghasilkan kita tak mudah tercerai berai,” ucapnya.

Demikian juga haji yang asalnya di Arab, indah di Indonesia. Banyak sekali acara yang menyertai haji di Indonesia. Diantaranya syukuran, berangkatnya diantar ramai-ramai, hal yang sama juga terjadi saat yang berangkat haji pulang.

“Itu semua akhirnya membuat haji jadi indah,” ungkapnya. (Aryudi AR).

Jumat 7 Juni 2019 1:0 WIB
Tiga Level Nafsu dan Tiga Kelompok Orang dalam Al-Qur'an
Tiga Level Nafsu dan Tiga Kelompok Orang dalam Al-Qur'an
KH Adib Rofiuddin Izza
Cirebon, NU Online
Hari Raya Idul Fitri menjadi momentum penting guna menundukkan nafsu yang selama ini telah memperbudak diri. Terkait nafsu tersebut, Allah SWT membaginya ke dalam tiga bagian yang sudah difirmankan dalam Al-Qur'an.

"Al-Qur'an menggarisbawahi ada tiga nafsu yang disebutkan oleh Allah," kata KH Adib Rofiuddin Izza, Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren, saat menyampaikan khutbah Idul Fitri di Masjid Agung Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Rabu (5/6).

Pertama, nafsu ammarah yang termaktub dalam surat Yusuf ayat 53. Nafsu ammarah ini, kata Kiai Adib, seringkali tidak terkendali karena emosi mengalahkan akal pikiran dan syariat Allah. "Kedua, nafsu lawwamah yang tertulis dalam surat al-Qiyamah ayat 2. Nafsu yang bisa dikendalikan oleh manusia, bisa disetir oleh pengetahuan syariat yang telah dipahami oleh orang mu'min," tandasnya.

Ketiga, lanjut Kiai Adib, nafsu mutmainnah yang terdapat dalam surat al-Fajr ayat 27-30. Orang yang memiliki nafsu ini diundang oleh malaikat bahwa ia punya ketenangan dari Allah SWT dan tergolong dalam orang-orang saleh. "Tiga tingkatan nafsu itu, terangkum dalam surat Fathir ayat 32. Dalam ayat tersebut, Allah SWT menyebut tiga kelompok manusia berdasarkan tiga nafsu tersebut," jelasnya.

Pertama, kata Kiai Adib, orang dzolim linafsih, yakni orang yang masih memiliki nafsu ammarah. Ia mendzalimi dirinya sendiri dengan menentang aturan Allah, tidak menjalankan agama dan tidak mengerti syariat.

"Banyak orang yang tidak memahami syariat agama tapi menghukumi sesuatu, menyampaikan ceramah. Padahal isinya tidak pas dengan aturan syariat," jelas Pengasuh Pesantren Al-Inaroh, Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat itu.

Kedua, paparnya, orang muqtashid yang memiliki nafsu lawwamah. Ia memilih lebih baik melakukan amal saleh ketimbang amal buruk. "Ilmunya bisa menahan mengendalikan diri karena ilmunya dapat bermanfaat," ujarnya.

Kemudian ketiga, orang sabiqun bil khairat yang nafsunya sudah pada tingkatan nafsu mutmainnah. Orang yang sudah di level ini, banyak sekali melakukan kebaikan.

Sahabat Ibnu Abbas, jelas Kiai Adib, menyebut orang ketiga yang tingkatannya para nabi, wali, dan para ulama itu itu masuk surga tanpa hisab.  Sementara orang kedua, muqtashid, itu yang banyak melakukan amal saleh itu dapat masuk surga karena rahmat Allah, hisaban yasira, sedangkan orang pertama, dzolim linafsih, itu yang banyak melakukan dosa tapi masih punya iman itu masuk surga dengan syafaat Rasulullah.

"Insyaallah kita semua bisa meningkat sampai sabiqun bil khairat karena sudah melalui puasa Ramadhan, sudah dibersihkan jasadnya, ruhnya, hatinya sehingga bisa masuk surga dengan tanpa dihisab. Paling tidak jadi muqtashid, masuk surga dengan hisab yang minim," harap Kiai Adib.

Oleh karena itu, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut meminta kepada segenap jamaah agar dapat meningkatkan amal saleh, menyampaikan dan menerima maaf.

"Semoga atas berkah Allah SWT dengan datangnya Idul Fitri, puasa kita dapat diterima oleh Allah SWT dan segala kekhilafan diampuni oleh Allah sehingga ketika kita keluar dari dunia membawa iman, islam dengan husnul khatimah," pungkasnya. (Syakir NF/Muiz)
Kamis 6 Juni 2019 19:30 WIB
Habib Luthfi: Mari Belajar Toleransi dari Tubuh
Habib Luthfi: Mari Belajar Toleransi dari Tubuh
Acara open house Habib Luthfi di Pekalongan, Jateng
Pekalongan, NU Online
Rais 'Aam Idarah Aliyah Jam'iyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN), Habib Muhammad Luthfi bin Hasyim bin Yahya menjelaskan perihal toleransi sebenarnya bisa dipelajari dan dimulai dari kinerja anggota tubuh manusia. 

"Tidak usah jauh-jauh kalau mau belajar toleransi, karena sesungguhnya pada tubuh manusia penuh dengan contoh toleransi," ujar Habib Luthfi dalam acara halal bi halal (open House) di Kanzus Sholawat, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (6/6).

Dijelaskan, belajar toleransi dimulai dari bagaimana kita memperlakukan tubuh kita, apakah berdasar nafsu belaka atau benar-benar diperlakukan menurut baiknya seperti apa?. Dari makan saja, lanjutnya Habib Luthfi mencontohkan, bagaimana Nabi memperlakukan organ pencernaannya. Nabi Muhammad begitu sabar mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya butuh 40 kali kunyahan sampai benar-benar halus sehingga tidak merepotkan lambungnya.

“Ada pelajaran toleransi dari mulut kepada lambung, sebab sabar mengunyah, tidak menuruti nafsu sehingga tidak merusak organ pencernaan,” jelasnya.

Menurut Habib Luthfi dari contoh itu bisa diambil hikmah bagaimana kasih sayang Nabi terhadap pencernaannya. Dari situ berkembang kepada kasih sayang terhadap tubuhnya, lalu semakin berkembang menjadi kesadaran terhadap kesehatan orang di sekitarnya, lingkungannya, dan bangsanya.

“Itu toleransi, bagaimana Nabi memperlakukan dirinya sendiri, kemudian kepada orang sekitarnya, lalu juga lingkungannya dan pada lingkup yang besar adalah bangsanya,” jelas Habib Luthfi.

Sebelumnya, Ketua Forum Ulama Sufi Dunia ini menandaskan amanatnya untuk memanfaatkan momentum idul fitri sebagai sarana membangun jiwa. Setelah 30 hari dilatih dengan Ramadhan, selayaknya manusia lebih bisa meredam hawa nafsunya.

“Sehingga oleh-oleh dari Ramadan benar-benar bisa kita dapatkan, yaitu meningkat amal baiknya, kepada sesamanya, dan lingkungannya,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Habib Luthfi juga menyinggung soal zakat sebagai pilar membangkitkan kekuatan dan mental umat. Menurutnya zakat adalah cara Islam mengangkat martabat kemanusiaan antar sesamanya. “Zakat itu bukan kebanggaan bagi yang mengeluarkan bisa membantu yang menerima, justru sebaliknya, yang mengeluarkan harus mau mengantarkan dan berterima kasih karena ada yang mau menerima,” tegasnya.

Dengan begitu, jelasnya, mental umat ini akan maju. Yang miskin tidak lantas merasa tersisih karena dipandang sebagai peminta-minta. Begitu juga yang kaya tidak lantas merasa dia bisa memberi sesuatu sehingga lupa siapa yang memberi dan untuk apa sejatinya harta itu.

“Kalau sudah miskin, masih disuruh antre, susah payah begitu, bagaimana umat ini akan memiliki mental yang maju?,” tanyanya kepada jamaah.

Habib Luthfi mengajak kepada tamu yang hadir untuk bersyukur bahwa kita diberi kepercayaan oleh Allah SWT untuk menyalurkan zakat sebagai sarana menyucikan harta kita dari kotoran-kotoran. "Allah sangat sayang dengan kita, yakni diberi kepercayaan untuk menyucikan harta kita melalui zakat," tandas Habib Luthfi.

Hadir pada acara tersebut Kapolres Pekalongan Kota AKBP Ferry Sandi Sitepu, Kapolres Pekalongan AKBP Wawan Kurniawan, sejumlah habaib, ulama serta tokoh TNI-Polri Kota Pekalongan. Acara kemudian ditutup dengan doa oleh Habib Luthfi dilanjutkan dengan musafahah yang diiringi shalawat secara serempak. (Muiz)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG