IMG-LOGO
Daerah

Rais NU Jember: Jadi Pengurus NU Harus Didasari Keikhlasan

Sabtu 7 September 2019 19:0 WIB
Bagikan:
Rais NU Jember: Jadi Pengurus NU Harus Didasari Keikhlasan
Rapat PCNU Jember pembentukan lembaga
Jember, NU Online 
Menjadi pengurus NU memang gampang-gampang susah. Gampang karena untuk menjadi pengurus NU tidak sulit. Tidak melalui proses yang ruwet. Susah karena untuk bekerja tidak sesederhana yang dibayangkan. 
 
Demikian diungkapkan Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad saat menyampaikan pengarahan dalam Rapat Pembentukan Kepengurusan Lembaga NU di aula PCNU Jember, Sabtu (6/9).
 
Menurut Kiai Muihyiddin, yang terpenting adalah tanamkan niat dalam hati bahwa menjadi pengurus NU adalah untuk meneruskan perjuangan para ulama, sehingga terasa ringan dalam bekerja namun tetap semangat.
 
“NU ini kan warisan para ulama, seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbulllah, KH As’ad Syamsul Arifin, dan sebagainya. Jadi kita di NU untuk membantu meneruskan perjuangan mereka,” ucapnya.
 
Ia menegaskan, ketika para pengurus NU sudah memantapkan hati untuk  berkhidmah di NU, maka nawaitu untuk mengabdi dengan ikhlas harus didahulukan. 
 
Dikatakan, tugas pengurus NU sesungguhnya cukup banyak. Masyarakat butuh pendampingan dan pelayanan NU di berbagai bidang. Karena itu, butuh semangat dan kebersamaan untuk melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepada pengurus NU.
 
“Semuanya  harus dipikul bersama agar tidak terasa berat. Kalau sendiri-sendiri berat,” ungkapnya.
 
Ia berharap agar semangat untuk mengabdi di NU harus terus menggelora di jiwa para pengurus NU. Sebab tugas-tugas di NU itu sifatnya sukarela. Artinya tidak ada paksaan. Tidak ada sanksinya jika tidak dilaksanakan. Tapi kalau  punya semangat, maka semuanya terasa indah.
 
“Semangat itu adalah semangat mengabdi untuk kejayaan NU. Dan dari situ timbul untuk bekerja, memberikan pelayanan bagi  masyarakat. Inilah ladang pengabdian kita, dan nanti kita petik hasilnya di akhirat,” jelasnya.
 
Kiai Muhyiddin menegaskan, dewasa ini begitu banyak persoalan di masyarakat yang membutuhkan keterlibatan NU. Dari sisi akidah, masyarakat sudah lama disusupi ajaran-ajaran yang menyimpang. Para penyebar ajaran itu mempunyai semangat yang militan, bergerak ke sana ke mari tanpa kenal lelah meski sering ditolak oleh masyarakat. 
 
Dari sisi sosial, masyarakat juga mengalami persoalan keterbelakangan ekonomi dan pendidikan, banyak pengangguran, dan  sebagainya. “Itu semua beban sosial yang harus kita bantu mencari jalan keluarnya,” pungkasnya.
 
Pewarta: Aryudi AR 
Editor: Muiz
Bagikan:

Baca Juga

Sabtu 7 September 2019 23:30 WIB
Milenial NU Harus Jadi Inspirator di Tengah Masyarakat
Milenial NU Harus Jadi Inspirator di Tengah Masyarakat
Wakil Sekretaris PWNU Jatim, HA Hakim Jayli
Surabaya, NU Online
Generasi milenial Nahdlatul Ulama (NU) diharapkan mampu memberikan inspirasi kepada semua orang. Hal ini disampaikan Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, HA Hakim Jayli di hari pertama kegiatan NU Millenial Digital Camp, Jumat (6/9) malam.
 
Menurutnya, generasi milenial NU garus harus bisa membuat gerakan yang mana gerakan itu bisa menginisiasi semua orang. “Yakni gerakan yang tidak hanya menggerakkan warga NU saja, tapi gerakan yang bisa menggerakkan seluruh warga Indonesia,” jelasnya.
 
Pria yang menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) TV9 Nusantara ini mengatakan bahwa dalam mewujudkan hal itu, generasi milenial NU harus bisa mewujudkan persatuan dan kolaborasi antar organ yang ada di NU.
 
Showu sufufakum, fainna fissufuwi tamamil harokah. Rapatkanlah barisanmu, sesungguhnya di dalam rapatnya barisan itu adalah kesempurnaan suatu pergerakan,” ujarnya.
 
“Jadi, marilah kita bekerjasama untuk kemajuan NU. Sebagaimana maksud tali yang ada di dalam logo NU yang maksudnya adalah persatuan. Karena jika NU bersatu, maka akan sulit untuk dikalahkan,” imbuhnya.
 
Dikatakan, perkembangan teknologi yang terjadi saat ini, khususnya di bidang internet juga harus bisa dimanfaatkan oleh generasi milenial NU. Menurut pria yang merupakan alumni Universitas Indonesia (UI) ini mengharapkan semua warga NU bisa mengikuti perkembangan ini sehingga bisa memanfaatkan situasi yang ada. 
 
“Anda bisa melihat hari ini bahwa media internet sudah menjadi media kita semua. Sekarang semua urusan berurusan dengan internet. Mulai bidang media, bisnis, transportasi, dan masih banyak lagi lainnya,” tukasnya.
 
“Internet membuat peta persaingan bisnis berubah. Jika tidak mengubah strategi bisnisnya, mereka akan bertekuk lutut,” tambahnya.
 
Islam yang asalnya menjadi inspirasi. Akan tetapi, sekarang ini telah dikecilkan oleh segelintir kelompok dan telah berubah menjadi sebatas identitas belaka. Akhirnya banyak fenomena yang sering disebut dengan hijrah, namun salah kaprah.
 
“Hijrah saat ini merupakan politik identitas yang dipakai sebagai mobilisasi suatu gerakan tertentu. Dan mobilisasi itu diatasnamakan agama untuk tujuan tertentu,” bebernya.
 
Hakim berpesan kepada para peserta kegiatan yang berlangsung pada Jumat (6/9) hingga Ahad (8/9) di gedung PWNU Jawa Timur ini untuk senantiasa bersikap hormat dan berkhidmat. Sebab keduanya bisa memberikan manfaat kepada siapapun yang melaksanakannya.
 
Bil hurmati intafa’u. Wa bil khidmati, irtafa’u. Dengan bersikap hormat, kita akan bermanfaat. Dengan berkhidmah, kita akan meningkat,” pungkasnya.
 
Kontributor: Ahmad Hanan
Editor: Muiz
Sabtu 7 September 2019 17:30 WIB
Festival Gurun Sahara untuk Bentuk Karakter Siswa
Festival Gurun Sahara untuk Bentuk Karakter Siswa
Punakawan dalam festival gurun sahara, MAN 1 Kota Pekalongan, Jateng
Pekalongan, NU Online
Festival Gurun Sahara yang dihelat Madrasah Aliyah Negeri (MAN ) 1 Kota Pekalongan, Jawa Tengah merupakan festival untuk pertama kalinya  dilaksanakan tahun ini berbarengan dengan peringatan tahun baru Islam 1441 hijriyah.  
 
Kepala MAN 1 Kota Pekalongan H Ahmad Najid mengatakan, Festival Gurun Sahara dihelat dalam rangka menyambut 1 Muharram 1441 H. Dan ini merupakan momen yang tepat untuk menggali potensi peserta didik selama siswa belajar berbahasa Arab, sekaligus mengasah anak untuk tampil dan menunjukkan potensi yang dimiliki. 
 
“Pembentukan karakter itu sangat penting bagi peserta didik. Karena dengan itu peserta didik akan mempunyai jati diri, dan tentunya mempunyai akhlakul karimah dan sikap tawadlu kepada siapapun khususnya guru,” ungkapnya pada pembukaan festival, Rabu (4/9) malam. 
 
Dikatakan, dalam festival tahun ini ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan, yakni lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), lomba pidato, lomba melukis,  dan pertunjukan seni berbahasa Arab.
 
“Peserta tak hanya ikut arus hijrah yang sedang tren sekarang ini. Hijrah boleh tetapi semangat hijrah itu untuk perubahan yang lebih dengan meningkatkan takwa, peningkatan inovasi, kreasi, dan prestasi yang tentunya tetap dilandasi akhlakul karimah,” ujarnya.
 
Menurut Najid, program ‘Festival Gurun Sahara’ sangatlah penting dan dibutuhkan. Karena selama ini peserta didik belajar Bahasa Arab perlu ada wadah untuk menampung kemampuan mereka. “Nah, inilah wadah yang tepat,” tegasnya.
 
Ia juga mengingatkan kepada peserta didik, walaupun kita belajar bahasa Arab tetapi tidak semua yang kita lakukan harus kearab-araban. "Kita harus punya jati diri. Kita harus bangga dan bersyukur sebagai bangsa Indonesia yang dikaruniai bangsa yang mempunyai berbagai budaya dan bahasa yang Beragam,” ungkap Najid. 
 
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan Najibul Mahbub kepada NU Online, Sabtu (7/9) mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan sehari penuh di komplek MAN 1 Kota Pekalongan sangat diminati oleh peserta didik. 
 
“Beberapa penampilan yang diusung oleh beberapa kelas mampu memukau penonton. Ada musikalisasi puisi dari kelas XII Agama, Baca Puisi, Pidato Bahasa Arab,  Vokal Group, sampai dengan Pementasan Fir'aun dan Punakawan pun hadir dalam pementasan tersebut," paparnya. 
 
Tak hanya itu lanjutnya, beberapa cabang lomba dilaksanakan secara terpisah di beberapa tempat diikuti oleh seluruh perwakilan kelas.  Festival yang digagas oleh guru-guru MAN 1 ini mendapatkan respons dan suport yang positif dari civitas MAN 1 Kota Pekalongan. 
 
“Semoga tahun depan kegiatan ini bisa dilaksanakan lagi,” pungkas penggagas kegiatan Hj Rufaiyah dan Nida.

Pewarta: Muiz
Editor:  Musthofa Asrori
Sabtu 7 September 2019 15:0 WIB
Generasi Unggul Terukur dari Shalatnya yang Baik
Generasi Unggul Terukur dari Shalatnya yang Baik
Cafe Aswaja Milienial, Jumat (6/9) di Majlis Ta’lim Kanzul Ilmi Center Brebes, Jawa Tengah.
Brebes, NU Online
Pengasuh Majlis Ta’lim Kanzul Ilmi Center Brebes, Jawa Tengah, KH Ahmad Najib Affandi mengatakan untuk mencetak generasi unggul bukanlah hal yang sulit, karena keunggulan generasi dapat dilihat dari shalatnya.

"Jika shalatnya sudah benar maka semuanya akan benar. Ia akan menjadi generasi yang unggul, shaleh secara pribadi dan sosial," kata Kiai Ahmad Najib saat mengisi kajian Cafe Aswaja Milenial di Majlis Ta’lim Kanzul Ilmi Center Brebes, Jawa Tengah, Jumat (6/9).

Menurut Kiai Najib, menjadi nilai tersendiri tentang pentingnya menegakkan shalat. Banyak keunggulan shalat dibandingkan dengan amal ibadah lainya, di antaranya bahwa shalat adalah ibadah yang langsung disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Shlalat juga menjadi ibadah pertama yang diperintah Allah kepada Rasul-Nya itu, yakni di tahun kedua hijriah.
 
"Shalat juga merupakan wasiat terakhir Rasul Saw sebelum beliau menghadap Allah Swt," imbuh Pengasuh Pesantren Al-Hikmah 2 Brebes.
 
Selain itu, nilai penting shalat  selanjutnya adalah shalat menjadi sesuatu yang terakhir kali hilang dari Islam. Maksudnya, kata Kiai Najib, jika seseorang sudah berani meninggalkan shalat maka Islamnya sudah hancur. Artinya, semua kehidupannya akan tidak baik. Dengan kata lain, kiamatlah sudah orang tersebut karena telah berani meninggalkan shalat.
 
Rasulullah dalam salah satu haditsnya menjelaskan bahwa dari agama Islam yang pertama kali hilang dalam kehidupan kita adalah sifat amanah dan yang terakhir hilang adalah shalat. Karenanya dijelaksan bahwa shalat menjadi pilar agama. Dengan shalat segala amalan umat Islam digantungkan.
 
"Jika shalatnya baik maka setiap amal ibadahnya akan dipertimbangkan oleh Allah ta’ala. Namun jika amal shalatnya tidak baik maka semua amal ibadahnya tertolak. Demikian juga dengan kehidupan sosialnya, seorang yang shalatnya baik dan benar, maka bisa dipastikan bahwa kehidupan sosialnya juga baik. Ia akan menjadi pribadi yang unggul dan penuh tanggung jawab,” paparnya.
 
Oleh karena itu, Kiai Najib mewajibkan semua peserta acara Cafe Aswaja Millenial untuk tidak meninggalkan shalat. Dalam keadaan apa pun, shalat harus ditegakkan  sehingga akan menjadi pribadi yang unggul baik secara pribadi maupun sosial.
     
Acara Cafe Aswaja Millenial yang diikuti oleh beberapa sekolah dari wilayah Brebes Selatan seperti SMAN 1 Bumiayu, MAN 2 Brebes, SMAN 1 Bantarkawung dan SM Kerabat. Sebanyak 380 remaja mengikuti kegiatan itu. Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab yang beberapa di antaranya mempertanyakan tentang pelaksanaan dan hukum yang terkait dengan ibadah shalat. 

Kegiatan Cafe Aswaja akan menjadi agenda rutin bagi Majlis Ta’lim Kanzul Ilmi Center, yang mengusung tagline 'Pusat Ngajinya Masyarakat Brebes Selatan'.
 
Kontributor: Lili Hidayati
Editor: Kendi Setiawana  
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG