Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Serangan Israel di Pusat Kebudayaan Disebut untuk Menghapus Kehadiran Palestina

Serangan Israel di Pusat Kebudayaan Disebut untuk Menghapus Kehadiran Palestina
Anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Hanan Ashrawi, menyebut, serangan Israel ke Pusat Kebudayaan Yabous bertujuan untuk menghapus kehadiran Palestina di Kota Yerusalem.
Anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Hanan Ashrawi, menyebut, serangan Israel ke Pusat Kebudayaan Yabous bertujuan untuk menghapus kehadiran Palestina di Kota Yerusalem.

Yerusalem, NU Online
Pasukan Israel menggerebek Pusat Kebudayaan Yabous dan Konservatori Musik Edward Said di Yerusalem Timur hari ini, Rabu (22/7). Mereka juga menahan direktur pusat Rania Elias dan Suheil Khoury, serta merusak rumah Direktur Jaringan Seni Yerusalem Shafaq, Daoud al-Ghoul.


Anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Hanan Ashrawi, menyebut, serangan Israel tersebut bertujuan untuk menghapus kehadiran Palestina di Kota Yerusalem.


“Kampanye bengis dan sistematis Israel terhadap Palestina di Yerusalem bertujuan untuk menghapus kehadiran Palestina dan mengubah susunan demografis dan budaya kota melalui banyak pembongkaran rumah, penggusuran paksa, dan menargetkan mata pencaharian sehari-hari warga Palestina Palestina,” kata Ashrawi, dilansir kantor berita Palestina, Wafa, Rabu (22/7).

 

Baca juga: Israel Hancurkan Pusat Tes Virus Corona Palestina, Satu Orang Terluka


“Baru-baru ini dan telah berulang kali (Israel) telah menahan pejabat Palestina seperti Gubernur Yerusalem Adnan Ghaith, Menteri Yerusalem Fadi al-Hidmi, aktivis, dan warga sipil setiap hari," lanjutnya.


Sebagai informasi, Gubernur Yerusalem Adnan Ghaith telah ditangkap Israel lebih dari sepuluh kali, dengan dakwaan yang beragam. Baru-baru ini dia ditangkap karena dituduh terkait dengan terorisme. Pada kasus-kasus sebelumnya, dia ditahan selama satu atau dua hari untuk dimintai keterangan sebelum akhirnya dilepaskan kembali.


Kembali ke Ashrawi, PLO menekankan bahwa komunitas internasional harus meminta pertanggungjawaban atas tindakan Israel tersebut. Secara khusus, dia menyerukan UNESCO dan Direktur Jendralnya, Audrey Azoulay, untuk memenuhi mandatnya. Yaitu melindungi budaya dan warisan Palestina.

 

Baca juga: Palestina Dihapus dari Google Maps, Warganet Arab Geram


“Komunitas internasional harus menghimpun keberanian untuk menerjemahkan pernyataannya menjadi tindakan nyata untuk menghentikan kejahatan dan pelanggaran Israel yang terus-terusan,” tegasnya.


Dua hari sebelumnya, Senin (21/7) kemarin, tentara Israel menghancurkan pos pemeriksaan keamanan Palestina yang digunakan untuk tes virus corona (Covid-19) di Tepi Barat. Dilaporkan bahwa mereka menggerebek kota dan kamp pengungsian pada pagi harinya untuk menangkap aktivis saat terjadi bentrokan dengan warga. Mereka kemudian melepaskan tembakan dan mengenai kaki seorang warga Palestina. Selain itu, mereka juga menahan dua orang, sebelum meninggalkan kota.


Pewarta: Muchlishon
Editor Fathoni Ahmad

BNI Mobile