Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Membaca Sejarah Dinasti Umayyah Secara Lebih Objektif

Membaca Sejarah Dinasti Umayyah Secara Lebih Objektif
Kitab Al-‘Alamul Islami fil ‘Ashril Umawi Dirasah Siyasiyyah karya Prof Abdussyafi Muhammad Abdul Lathif.
Kitab Al-‘Alamul Islami fil ‘Ashril Umawi Dirasah Siyasiyyah karya Prof Abdussyafi Muhammad Abdul Lathif.

Sadar bahwa penulisan historiografi buku-buku sejarah Islam tidak seketat penulisan hadits dengan aturan riwayat lebih detail, memungkinkan adanya penyampaian data sejarah kurang objektif. Seperti halnya yang terjadi dalam penulisan sejarah Dinasti Umayyah dalam beberapa buku sejarah. Tidak sedikit ‘lawan politik’ dinastinya yang mencari celah untuk menjatuhkannya dan berbuntut pada pengaburan data sejarah.


Sebelum beranjak lebih jauh soal upaya penyimpangan historiografi Dinasti Umayyah, terlebih dulu penulis kemukakan disclaimer sejarawan tersohor Ibnu Jarir ath-Thabari dalam kitabnya, Tarikhul Umam wal Muluk yang mengatakan bahwa kitabnya tersebut masih memungkinkan adanya data-data sejarah yang masih membuka ruang diskusi atas kesahihannya.


فما يكن في كتابي هذا من خبر ذكرناه عن بعض الماضين مما يستنكره قارئه، أو يستشنعه سامعه، من أجل أنه لم يعرف له وجهًا في الصحة، ولا معنى في الحقيقة، فليعلم أنه لم يؤت في ذلك من قبلنا، وإنما أتى من قبل بعض ناقليه إلينا، وأنا إنما أدينا ذلك على نحو ما أدى إلينا.


Artinya: “Berbagai informasi sejarah orang-orang terdahulu yang terdapat dalam buku saya ini ada yang ditolak pembacanya dan ada pula yang dicela pendengarnya. Sebab, tidak diketahui kesahihan datanya atau tidak mempunyai pengertian yang sebenarnya. Maka, perlu diketahui bahwa semua itu tidak terdapat dalam diri orang-orang sebelum saya. Data ini saya peroleh dengan cara demikian. Saya hanya menyampaikan semua riwayat dan informasi tersebut apa adanya.” (Ibnu Jarir ath-Thabari, Tarikhul Umam wal Muluk, [Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, 2011], juz I, h. 13)


Pernyataan ath-Thabari di atas berangkat dari pakem periwayatan dan penulisan sejarah yang tidak seketat dalam diskursus hadits. Hal ini jelas memungkinkan adanya celah ketidakvalidan data. Kasus ini di antaranya terjadi dalam penulisan sejarah Dinasti Umayyah. 


Adalah Abdussyafi Muhammad Abdul Lathif, guru besar sejarah dan peradaban Islam Universitas Al-Azhar Mesir yang mencoba mengkaji kembali sejarah politik Dinasti Umayyah secara lebih objektif dan komparatif dalam bukunya yang berjudul Al-‘Alamul Islami fil ‘Ashril Umawi Dirasah Siyasiyyah. Dalam pengantar kitabnya ia menyayangkan soal tidak sedikitnya tulisan sejarah kontemporer yang seolah menghakimi Bani Umayyah.


Dalam pengamatan Abdussyafi, hal itu bisa terjadi karena para penulis (sejarawan) tersebut menggunakan data dari riwayat ‘musuh-musuh’ Bani Umayyah atau pendapat pakar sejarah yang cenderung memihak pada golongan tertentu (tidak objektif). Akibatnya, tidak sedikit penyimpangan bacaan sejarah terjadi. Selain pembaca sendiri yang dirugikan, tentu citra Bani Umayyah sendiri juga dipertaruhkan.


Ada beberapa hal yang menjadi celah bagi kubu kontra untuk menyerang Bani Umayyah. Pertama, sebelum masuk Islam, kalangan Bani Umayyah merupakan kelompok yang paling banyak menentang ajaran Nabi Muhammad saw selama lebih dari dua puluh tahun dan baru masuk Islam ketika peristiwa Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah) pada tahun 8 hijriah.


Kendati Bani Umayyah sudah masuk Islam, kelompok yang tidak suka dengannya sengaja menonjolkan ‘masa kelam’ Bani Umayyah sebagai alat untuk membikin citra buruk, tanpa melihat status Bani Umayyah yang sesudah Muslim sebagai citra positif.


Kedua, Bani Umayyah sempat terlibat konfrontasi dengan Ahlul Bait sejak terbunuhnya Utsman bin Affan. Jelas, secara emosional umat Muslim berpihak kepada Ahlul Bait, belum lagi ditambah dengan tragedi Karbala dan berbuntut pada terbunuhnya Husain bin Ali (cucu Nabi) yang semakin menemukan momentumnya. Isu ini kemudian menjadi framing buruk bagi Bani Umayyah dan ditulis apa adanya oleh sementara sejarawan.


Ketiga, sebagian kelompok Bani Umayyah pernah melakukan kesalahan fatal seperti menyerang kota suci umat Islam (Makkah dan Madinah) yang, sekali lagi, menyulut emosi umat Islam dan mengalami generalisasi isu pada Bani Umayyah. Yang bersalah sebagian orang, tapi seolah di-framing sebagai dosa dinasti.


Keempat, banyak kelompok yang memusuhi Bani Umayyah seperti Syiah, Khahwarij, dan para pendengki yang haus kekuasaan seperti Al-Mukhtar ast-Tsaqafi, Ibnul Asy’ats, Ibnul Muhallab, dan lainnya yang menjerumuskan Bani Umayyah dalam pertempuran sengit dengan mereka. Selain itu, banyak mantan hamba sahaya (mawâlî) Persia yang menganggap Bani Umayyah bertanggung jawab atas lenyapnya pemerintahan mereka di tangan bangsa Arab.


Kelima, informasi yang memberi citra negatif pada Bani Umayyah terus disuarakan hingga masa pembukuan (kodifikasi). Akibatnya, para pakar sejarah tidak sedikit menulis data itu apa adanya dengan seleksi yang kurang ketat.


Celah-celah itu kemudian dibuat untuk menciptakan kesan buruk pada Bani Umayyah. Melalui tangan para khatib, orator, dan perawi, framing tersebut dilancarkan sedemikian rupa dengan membesar-besarkan kesalahan Bani Umayyah, menyebar informasi palsu (hoaks) tentang periode Bani Umayyah beserta para tokohnya.


Berangkat dari semua itulah, Abdussayafi menulis kitab dengan pendekatan yang menurutnya lebih objektif. Dalam penulisannya, ia merujuk pada sumber-sumber sejarah utama seperti Tarikh Khalifah bin Khayyath, Futuhu Mishra karya Ibnu Abdil Hakam, Futuhul Buldan karya Al-Baladzri, Tarikh ath-Thabari karya ath-Thabari, At-Kamil fit Tarikh karya Ibnul Atsir.


Kemudian Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, Al-Bayanul Maghrib karya Ibnu Idzari, Tarikh, dan Muqaddimah Ibnu Khaldun, dan lain sebagainya.


Selain itu, digunakan pula kitab-kitab tentang biografi dan sejenisnya seperti Thabaqat karya Ibnu Sa’ad, Fadha’ilush Shahabah karya Ahmad bin Hambal, Usdul Ghabah karya Ibnul Atsir, Al-Ishabah fit Tamyizish Shahabah karya Ibnu Hajar, dan Siyaru A’laminnubala karya Adz-Dzahabi.


Pembahasan kitab ini hanya fokus pada sisi politisnya dengan terbagi menjadi enam bagian judul besar, yaitu:


Bagian pertama membahas proses bangkitnya Dinasti Umayyah, bagian kedua membahas profil dan sepak terjang para khalifah Dinasti Umayyah, bagian ketiga membahas berbagai ekspansi dan penaklukan Dinasti Umayyah, serta strategi mereka dalam mengelola daerah-daerah yang berhasil mereka taklukkan.


Bagian keempat membahas penyebaran dakwah Islam di daerah-daerah yang berhasil ditaklukkan oleh Dinasti Umayyah, bagian kelima membahas politik dalam negeri dan strategi Dinasti Umayyah dalam pengelolaan administrasi pemerintahan di dunia Islam, berikut aneka lembaga dan sistem organisasinya.


Bagian keenam membahas strategi Dinasti Umayyah dalam menghadapi berbagai kelompok yang menentang serta berbagai revolusi yang berujung pada keruntuhan pemerintahannya.


Peresensi Muhamad Abror, alumnus Pondok Pesantren Kempek Cirebon dan Ma’had Aly Saidusshiddiqiyah Kedoya Jakarta


Identitas kitab:

Judul: Al-‘Alamul Islami fil ‘Ashril Umawi Dirasah Siyasiyyah

Penulis: Dr. Abdussyafi Muhammad Abdul Lathif

Cetakan: 1, 2008

Penerbit: Darus Salam

Tebal: 526 halaman



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Pustaka Lainnya

Terpopuler Pustaka

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×