Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Kiai Badri Mashduqi, Khalifah Tarekat Tijaniyah Indonesia

Kiai Badri Mashduqi, Khalifah Tarekat Tijaniyah Indonesia
Kiai Badri Mashduqi. (Foto: Istimewa)
Kiai Badri Mashduqi. (Foto: Istimewa)

Tarekat Tijaniyah tersebar begitu cepat sejak masuknya pada awal 1920-an melalui Pondok Buntet Pesantren. KH Anas Abdul Jamil, adik KH Abbas Abdul Jamil, menjadi penyebar pertama tarekat yang didirikan oleh Syekh Ahmad bin Muhammad al-Tijani itu.


Kiai Anas mengangkat KH Hawi Buntet Pesantren menjadi muqaddam (mursyid). Sementara Kiai Hawi mengangkat KH Yusuf Muhammad dari Surabaya sebagai muqaddam. Dari sosok nama terakhir itulah, KH Badri Mashduqi mengambil sanad tarekat ini.


Kiai Badri lahir pada 1 Juni 1942 di Prenduan, Sumenep, Madura, Jawa Timur. Ia merupakan putra tunggal pasangan Kiai Mashduqi dan Nyai Musyarrah. (Saifullah, KH Badri Mashduqi: Kiprah dan Keteladanan karya Saifullah. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. 2008).


Ayahnya sejak sebelum menikah sudah terbilang majdzub. Sejak usia Kiai Badri tujuh bulan dalam kandungan, Kiai Mashduqi sudah 'hilang'. Sampai masa putranya lahir dan berusia dua tahun, tak banyak orang mengetahui keberadaan Kiai Mashduqi.


Saat usia dua tahun itu, Kiai Mashduqi menemui putranya sembari memberi surban dan delima kering. Setelah itu, ia kembali menghilang. Ia diyakini menjadi salah seorang rijalul ghaib.


Pendidikan
Masa kecilnya dihabiskan dengan belajar kepada keluarganya, yakni ibunya, kakeknya (KH Miftahul Arifin), dan pamannya (Kiai Sufyan). Selain mengaji Al-Qur'an, ia juga mengaji kitab-kitab dasar. Di samping mengaji, Kiai Badri kecil juga belajar secara formal di Sekolah Rakyat (SR).


Mulai tahun 1950-an, Kiai Badri melanjutkan studinya di Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, Jawa Timur, di bawah asuhan Kiai Hasan.


Setelah itu, Kiai Badri meneruskan ngajinya ke Pesantren Bata-bata, Pamekasan, Madura. Di sinilah, ia merampungkan hafalan kitab Alfiyah ibnu Malik, sebuah kitab dasar mengenai tata bahasa Arab. Bahkan, di pesantren ini konon ia belajar secara sirri kepada ayahandanya, Kiai Mashduqi.


Dirasa belum cukup, Kiai Badri belajar di Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur pada tahun 1956-1959 dan di Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.


Sebelum pindah ke pesantren terakhir itu, Kiai Badri menyempatkan pulang ke kampung halamannya di Prenduan, Sumenep, Madura pada waktu liburan. Saat itu, Pendiri Pesantren Al-Amin KH Djauhari mengutus seorang santri seniornya untuk menguji kemampuan putra Kiai Mashduqi.


Dua kali diuji oleh santri senior itu, dua kali itu juga Kiai Badri dengan mudah menjawab segala pertanyaan yang diajukan kepadanya. Mendengar kemampuannya yang luar biasa itu, Kiai Djauhari justru khawatir Kiai Badri menjelma seperti sosok ayahnya yang menjadi rijalul ghaib.


Tarekat Tijaniyah
Tarekat yang diamalkan Kiai Badri ini sejak mula kedatangannya di Indonesia sudah dipersoalkan. Bukan saja dari Muslim yang bukan pengamal tarekat, tetapi juga dipermasalahkan mereka dan Nahdliyin. Sanadnya diragukan terhubung sampai ke Rasulullah.


Persoalan ini dijawab dalam forum Bahtsul Masail pada pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama. Forum tersebut menyepakati kemu'tabarahan Tarekat Tijaniyah.


Namun, ada beberapa orang yang masih mempermasalahkan hal tersebut sehingga mengajukan agar kembali dibahas. KH Abbas Abdul Jamil Buntet tak segan untuk mufaraqah dari NU jika Tarekat Tijaniyah itu kembali dibahas.


Sikap serupa diambil oleh KH Badri Mashduqi. Ia rela melepas amanahnya sebagai Rais Tsalits di Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ketimbang harus melepaskan diri dari Tarekat Tijaniyah yang amat dicintainya itu.


Sikap Kiai Badri itu muncul manakala Tarekat Tijaniyah kembali diragukan kemu'tabarahannya pada 1980-an. Hal ini menjadi pembahasan pada Kongres Ke-6 Jam'iyah Ahlit Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyah (Jatman) di Pesantren Nurul Qadim, Probolinggo menjelang Muktamar Ke-27 Tahun 1984 di Situbondo.


Dalam rangka memperteguh kemu'tabarahan Tarekat Tijaniyah, Pondok Buntet Pesantren menggelar Ied al-Khatmi li al-Quthbi al-Maktum al-Tijani pada 1987. Pada kesempatan itu, Kiai Badri menegaskan bahwa Tarekat Tijaniyah merupakan tarekat yang absah sebagaimana tarekat mu'tabarah lainnya. Hal tersebut disampaikan secara lisan dan tulisan dalam bentuk makalah berjudul Keabsahan Tarekat Tijaniyah di Tengah-tengah Tarekat Mu'tabarah Lainnya.


Pada 1995, Pengasuh Pesantren Badridduja, Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur itu diangkat oleh Sayyid Idris al-Iraqi dari Fes, Maroko sebagai khalifah Tarekat Tijaniyah di Indonesia.


Tujuh tahun setelahnya, kiai yang juga dikenal sebagai Singa Podium dan 'Pendekar' Bahtsul Masail itu wafat, tepatnya pada Senin Pon, 14 Oktober 2002, pukul 01.45 WIB di kediamannya. Kiai Badri dimakamkan di halaman samping Masjid Darussalam Pesantren Badridduja, Kraksaan, Probolinggo.


Penulis: Syakir NF
Editor: Musthofa Asrori



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Tokoh Lainnya

Terpopuler Tokoh

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×