Konferensi Pemikiran Gus Dur, Greg Barton Sebut Gus Dur Jadikan Islam Lebih Kontekstual
Jumat, 29 Agustus 2025 | 20:00 WIB

Greg Barton dalam Konferensi Pemikiran Gus Dur, Jumat (29/8/2025) di Pondok Gede, Jakarta. (Foto: dok. Tunas Gusdurian 2025)
Jakarta, NU Online
Para tokoh agama dan akademisi menyampaikan bahwa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mewariskan pemikiran yang terus relevan hingga masa kini, salah satunya mengenai humanitarian Islam.
Akademisi asal Australia, Greg Barton menyampaikan bahwa Gus Dur menjadi pelopor dalam mengubah pendekatan Islam agar lebih kontekstual dengan kehidupan masyarakat.
“Gus Dur sangat aktif dalam perubahan sistem pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan Islam di Indonesia bisa disebut paling lengkap di dunia, dan itu merupakan warisan pesantren yang turut diteruskan oleh Gus Dur,” ungkap Greg dalam acara Konferensi Pemikiran Gus Dur dengan tema Agama sebagai Etika Sosial di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur pada Jumat (29/8/2025).
Greg menyampaikan, meskipun Gus Dur telah wafat, pemikirannya tidak berhenti, bahkan terus meluas ke seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang agama maupun suku.
“Meskipun Gus Dur sudah wafat, pemikirannya tidak berhenti. Jaringan Gusdurian masih kuat, bahkan meluas juga ke warga NU, Muhammadiyah, gereja. Islam insaniah (Islam kemanusiaan) yang diwariskan Gus Dur menjadi fondasi penting untuk membangun masa depan,” tegasnya.
Gus Dur, pemimpin yang memimpin dengan Nurani
Aktivis Perempuan, Dewi Kanti Setianingsih melihat Gus Dur sebagai teladan yang memimpin bangsanya dengan nurani. Menurutnya, perjuangan Gus Dur selalu mengedepankan kemanusiaan, bahkan visi dan misi hidupnya selaras dengan nilai kemanusiaan yang universal.
“Kesatria seperti Gus Dur memimpin bangsanya melalui nurani. Inilah yang membuat masa depan kita bisa menjadi lebih baik,” ujarnya.
Senada, Pengasuh Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun, Cirebon, KH Husein Muhammad menggambarkan Gus Dur sebagai pohon yang tumbuh di tanah subur, memberikan kebaikan bagi semua orang. Akarnya yang kuat membuatnya mampu menghadapi segala tantangan dan rintangan.
“Bagi saya, Gus Dur adalah wali Allah karena beliau selalu mengutamakan kemaslahatan umat,” tuturnya.
Sementara itu, imam Jesuit asal Indonesia Romo Gregorius Soetomo, menekankan pentingnya semangat eksperimen dalam melanjutkan perjuangan Gus Dur. Ia melihat bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga warisan pemikiran Gus Dur dengan cara yang kreatif.
“Kalau kita hanya belajar kepada yang lebih berpengalaman tanpa mencoba, hidup tidak akan berkembang. Anak muda saat ini penuh dengan eksperimen, dan dari eksperimen itu pasti ada yang berhasil. Itulah yang harus ditonjolkan,” katanya.