Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Dalil Cinta yang Tak Wajar

Dalil Cinta yang Tak Wajar
Ilustrasi
Ilustrasi

Cerita Pendek M Qurrotul Ainul Chotib

Di salah satu pinggiran kota besar amat penuh dengan hiruk-pikuk aktivitas manusia yang seolah tiada henti-hentinya. Kerap kali suasana itu mengakibatkan jalanan macet dan pasar padat. Belum lagi suara-suara gaduh dari para penjual dan pembeli, suara bising knalpot; ditambah anak-anak kecil bermain bola di jalanan yang kian menambah kemacetan. Serasa lengkap untuk menggambarkan Cisendat. 


Daerah ini memang terletak di wilayah ibu kota. Tapi tidak seperti di pusat-pusat kota yang dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi, menara-menara mercusuar serta hotel-hotel berbintang, daerah Cisendat sebaliknya. Ia suatu daerah terpencil.


"Assalamualaikum," ucap Rafa ketika sampai di rumah kakek dan neneknya.


"Waalaikumussalam," jawab sang nenek sambil terus mengoseng masakannya hingga ia bertanya, "Siapa?" dengan suara agak dikeraskan.


Sambil mencopot sepatunya, Rafa menjawab, "Rafa, Nek."


Nenek terkejut tapi senang dan menyahut, "Eehh, ya Allah. Rafa, sini masuk, Nang, Nenek lagi masak."


Begitu selesai melepas sepatunya segera Rafa menghampiri lalu bersalaman mencium tangan neneknya dan menanyakan kabar. "Kakek dan Nenek sehat?"


"Alhamdulillah, sehat," jawab nenek tersenyum senang sambil terus mengoseng-oseng masakannya.


"Rafa, ayah, ibu dan adik-adik sehat?"


"Alhamdulillah, semua sehat, Nek," jawab Rafa bersamaan dengan suara nenek yang terlalu bahagia hingga memanggil-manggil kakek. Kakek sebenarnya sedang membereskan barang-barang yang ada di gudang. 


"Kek, sini ada Rafa nih."


Seketika kakek menyahut, "Eehh, Nang, sebentar Nang. Kakek lagi beresin gudang. Masyaallah, dari rumah jam berapa, Nang? Sendirian? Pada sehat semua?"


Bersamaan dengan itu, Rafa langsung menghampiri sang kakek di gudang, bersalaman, lalu menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh kakek.

 

"Berangkat jam tujuh Kek. Iya sendirian, ngeteng (menggunakan transportasi umum). Alhamdulillah semua pada sehat, Kek,"


"Alhamdulillah. Alhamdulillah pada sehat semua, ya sudah ditaruh dulu barang-barangnya di kamar sana, terus siap-siap kita makan siang. Nenek juga sepertinya sudah selesai masak," kata kakek sambil memerintah Rafa agar bersiap-siap makan siang.

 

"Masyaallah. Sudah bujang cucu kakek, hihihi," kata kakek sambil tertawa seraya menepuk-nepuk pundak Rafa. Rafa hanya menunduk tersipu malu.


Begitu masuk kamar, segera Rafa menurunkan barang-barang bawaannya dan lantas menjatuhkan dirinya di atas kasur.


"Huftt, akhirnya sampai juga," desah Rafa.


Saat Rafa hampir-hampir terlelap karena kelelahan, kakek pun memanggilnya untuk makan siang bersama. "Rafa, ayo kita makan siang dulu. Setelah itu baru istirahat."

 

Akhirnya Rafa pun terbangun dan menyahut ajakan sang kakek sambil lekas beranjak dari tempat tidur.


*

Rafael Hafidz Ali, seorang remaja yang satu bulan lalu tepat berusia 21 tahun. Ia memiliki dua adik laki-laki. Walaupun kedua orang tuanya asli Jakarta, Rafa dan adik-adiknya tidak dilahirkan di sana, melainkan di daerah provinsi Jawa Barat. Sebab sedari muda ayahnya telah tinggal dan menjadi buruh pabrik di sana.


Saat Rafa menginjak usia enam tahun, ayahnya mulai memasukkannya ke pondok pesantren. Tempatnya tak begitu jauh dari rumahnya. Di sana Rafa tidak hanya mengenyam pendidikan di pesantren, namun juga disambi dengan pendidikan formal.


Setelah selesai di pendidikan dasar formal selama enam tahun, Rafa tidak hanya pindah sekolah formal, namun juga pindah pondok pesantren. Di tempat yang kedua ini, sama seperti yang pertama, ia pesantren sambil sekolah.
Setelah menyelesaikan pendidikan formalnya dan hendak melanjutkan studinya di perguruan tinggi, dengan ditemani sang ayah, Rafa meminta izin berpamitan dan doa restu kepada kiainya.


Demikianlah Rafa, sejak kecil sudah belajar hidup mandiri di pondok pesantren. Dan sejak tiba di rumah kakek neneknya, ia pun dituntut agar bisa beradaptasi hidup di kawasan metropolitan. Sebab mulai saat itu pula ia harus menjalani hari-harinya di ibu kota Jakarta. Karena itu semua adalah pilihannya. Ia memilih melanjutkan studi di Jakarta, maka ia pun harus bisa menerima konsekuensi yang timbul atas pilihannya.


Tidak ada alasan pasti mengapa Rafa melanjutkan studinya di Jakarta, mungkin hanya seleksi alam. Ia mengambil jurusan Sejarah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, karena pikirnya dari sejarah dirinya bisa mengambil pelajaran dari setiap orang dan semua peristiwa dari zaman dulu dengan secerdik mungkin untuk bisa memfilternya. Sejarah yang kurang baik cukup dijadikan pembelajaran dan jangan sampai diulang, dan sejarah yang baik harus bisa selalu dijadikan sebagai inspirasi. 


Alasan lain ia mengambil program studi Sejarah adalah dengan bertolak pada ungkapan tokoh favoritnya, yakni Bung Karno, yang pernah berpesan berbentuk akronim Jasmerah, kependekan dari "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah."

 

Walaupun mengambil program studi Sejarah, Rafa juga sangat gemar membaca buku-buku bergenre Filsafat. Tak sedikit pula para filsuf yang ia gemari. Baginya filsafat sangat membantu dirinya agar bisa belajar berpikir lebih kritis.


Hari sudah menjelang Maghrib, senja kala akan tiba. Tak terasa sudah setengah tahun Rafa di Jakarta. Kini ia hanya menjadi santri kalong, santri yang tidak bermukim,  di pondok pesantren yang berjarak lebih kurang satu kilometer dari rumah kakek neneknya. Usai berjamaah Maghrib ia harus segera berangkat seperti biasanya ke pondok untuk mengaji. Tapi kali ini ia merasakan perasaan yang tidak seperti biasanya lantaran ia sedang berada dalam asmaraloka, asmaradahana di dalam hatinya kian hari terus berkobar-kobar. Bersamaan dengan itu ia sedang dilema karena wanita yang disukainya menuntut sesuatu yang begitu tidak wajar.


Ananiyah, biasa dipanggil Niyah. Salah seorang santriwati yang bermukim di tempat Rafa mengaji. Ia berasal dari provinsi yang sama dengan Rafa, namun dari daerah yang berbeda. Ananiyah seorang wanita yang sangat mudah menerima pelajaran dan tajam pikirannya, mungkin karena hal ini juga yang membuat Rafa tertarik padanya. Namun memang, Tuhan menganugerahkannya rupa wajah yang begitu tak bersahabat, pendek kata judes. Sehingga orang yang baru pertama kali melihat wajahnya kerap kali akan memiliki prasangka kalau dirinya agak sombong, padahal tidak.


Niyah lebih muda dari Rafa, selisih umurnya lima tahun. Mungkin karena ini juga Niyah masih memiliki sifat kekanak-kanakan. Kabar baiknya Niyah masih ada ikatan keluarga dengan pengasuh pondok.


Baik Rafa maupun Niyah, keduanya sudah saling akrab, tak jarang keduanya selalu berkomunikasi walaupun lebih banyak melalui WhatsApp, entah via pesan atau panggilan telepon. Tampaknya keduanya memang saling menyukai.
Namun, beberapa hari terakhir Niyah berperilaku cukup aneh, entah apa yang sedang melandanya. Akhir-akhir ini dirinya begitu sensitif. Beberapa kali Rafa selalu bertanya ada apa jawabannya selalu sama. Tak apa.


Saat hendak berangkat ke pondok, Rafa menatap cermin yang ada di kamarnya dalam-dalam sambil membatin, "Ada apa dengan dia? Mengapa dia menuntutku seperti itu? Bukankah itu sangat tidak wajar? Dasar anak-anak. Salahkah aku menjawab demikian? Aku memang mencintainya tapi bukan berarti dia berhak mengatur-atur hidupku. Apakah sebaiknya aku tarik ucapanku dan kuabaikan saja dia? Tapi aku sangat mencintainya…."


Kepalanya terus-menerus dipenuhi kecamuk tanya yang tak henti-henti dan terus-menerus teringat akan percakapannya dengan Niyah via pesan WhatsApp tadi pagi.

 

Niyah: "Rafa, apa benar kau sungguh mencintaiku?" 


Rafa: "Tentu. Aku begitu mencintaimu, Niyah. Karena bagiku kau adalah atribusi dari segala cinta," balas Rafa sambil memuji seraya mengirimi emoji senyum kecil.

Niyah: "Dasar gombal. Kalau begitu aku mau minta satu hal sama kamu."


Rafa: "Kamu mau minta apa emang?” Rafa antara heran dan senang. Ia heran karena sejauh yang ia kenal Niyah bukanlah tipe wanita peminta. Dan senang lantaran baru kali ini dirinya diminta sesuatu oleh sang terkasih.


Niyah: "Aku mau kamu jauhin semua santri yang sedang ada masalah denganku."


Sontak Rafa terkejut dan membalas: "Hah? Kamu itu lagi kenapa sih?"


Niyah: "Aku enggak apa-apa."


Rafa: "Kenapa? Ceritain aja. Nanti aku coba bantu buat menyelesaikan semua masalah antara kamu dengan teman-temanmu."


Niyah: "Udah, enggak perlu, Fa. Cukup kamu ikutin aja permintaanku."


Rafa: "Tapi enggak bisa seperti itu, Niyah."


Niyah: "Rafa, selama kita saling kenal dan lalu menjalin hubungan, aku sama sekali enggak pernah kan minta sesuatu pun ke kamu? Oleh karenanya aku mohon Rafa. Kali ini aja aku minta sama kamu. Please."


Setelah membaca pesan Niyah, lahir satu pertanyaan skeptis dalam relung hati Rafa atas ketetapan Niyah. "Bagiku kau atribusi dari segala cinta. Tapi mengapa kau mengajariku untuk mencintaimu dengan cara membenci selainmu?" batin Rafa.


Rafa belum membalas pesan. Ia masih termenung dan bertanya-tanya sendiri dalam hati, "Kalau begitu demi menjaga tali-perkawananku, bolehkah dan bisakah aku mencintaimu dengan cara membencimu? Namun jikalau demikian apakah nantinya itu masih tetap dinamakan cinta?"


Setelah tenggelam dalam renungannya, dirinya teringat akan sebuah syair:
 
Artinya: "Tanpa engkau semua begitu hampa bagiku. Sebab itu tidaklah mengapa andaikan semua orang tak menemaniku asal engkau selalu di sisiku."


Akhirnya dengan bertolak pada syair, Rafa memutuskan dan membalas singkat pesan Niyah: "Baik kalau itu maumu."


Rafa mengetik lagi dan menambahkan, "Benar atau salah itu urusan nanti, yang penting aku sudah membuat keputusan dan berprinsip: kepada selainmu aku berkata ‘tidak’, sebab ‘iya’ ku hanya kamu," lalu mengirimi emoji senyum tulus.


Cukup lama Rafa termenung menatap cermin. Neneknya pun memanggilnya dan mengingatkan Rafa agar segera berangkat ke pondok. Mendengar panggilan neneknya, Rafa tersentak dan tersadar dari lamunannya lalu menyahut panggilan neneknya dan segera berangkat.
 

M. Qurrotul Ainul Chotib lahir di Karawang pada 29 Juli 2001. Sedari dini diarahkan oleh sang ayah untuk menjadi santri. Belajar dan bertumbuh kembang di Pondok Pesantren Al-Mudriky, Cilamaya, Karawang, Jawa Barat. Saat ini sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, mengambil Program Studi Sejarah Peradaban Islam.



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Cerpen Lainnya

Terpopuler Cerpen

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×