Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Hikayat Tiga Lemari

Hikayat Tiga Lemari
Ilustrasi
Ilustrasi

Cerita Pendek Ari AJ

"Kapan kau pergi?"


Ia mengernyitkan kening. "Sudah kubilang jam sebelas siang ini."


"Dengan apa?"


"Itu yang aku tak tahu, mungkin truk atau mobil mewah. Aku benci naik truk karena panas."


Wajahnya memancarkan kekesalan.


"Memangnya kau akan mendapat tempat yang nyaman saat naik mobil mewah?"


"Tidak juga, aku benci kursi belakang. Konon, manusia suka mengeluarkan cairan kekuningan saat duduk di sana. Aku tak bisa membayangkan berapa banyak yang telah dikeluarkan di sana."


"Lalu?"


"Setidaknya kulitku tidak gatal-gatal saat terpapar sinar ultraviolet. Diam, ada yang datang."


Terdengar suara langkah kaki lima orang. Satu langkah di antara mereka terasa lebih berat.


"Awas, rak besi, awasssssssss!"


Terdengar suara benturan dengan dinding. 


"Ah, sedikit lagi, tinggal masuk. Dasar lemah!"


Anak kunci diputar, pintu pun terbuka. Empat orang bahu-membahu mengangkat lemari berwarna kuning. Lemari tersebut masih mengkilat, tak terlihat cacat garis-garis pada permukaannya.


"Taruh di ujung situ saja," perintah salah satu di antara mereka.


Tiga orang di antara mereka pun pergi.


"Berat gila! Ini risiko ukuran besar. Kau belum mengangkat yang lebih lagi, sekali-kali kecilkan lah!"


"Jangan, kita tak bisa seenaknya menurunkan ongkos produksi untuk..."


"Heyyy, tak perlu turunkan ongkos produksi, fifty-fifty saja."


Kedua lelaki itu tersenyum penuh arti, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Hey, anak baru! Siapa namamu?"


"Eh ... aku?"


"Iya kaulah, siapa lagi?"


"Aku, Si Kuning."


"Berat sekali ya dirimu, tapi kukira lebih berat juga Si..." ujar Si Merah.


"Kau menyindirku? Iya aku lebih berat, tapi aku lebih tua dan tidak seperti kau yang tak tahu warna," ujar si Hitam naik pitam.


"Aku memang benar Si Merah! Jangan sok tahu!"


'Cepatlah jam sebelas, cepatlah pergi, dasar bedebah!' ujar Si Merah dalam hati.


Hening, seseorang membuka anak kunci. Ia meneliti sekeliling, keringat masih mengucur di dahi setelah berjalan cepat. Ia menurunkan buku-buku yang ada di rak di atas lemari saat pintu diketuk. 


"Kang Yanto mau ke mana? Rapi gitu. Mau boyong? Kok mendadak sekali, Kang?"


"Aku sudah rencanakan ini sejak lama, kau saja yang tak tahu karena terlalu fokus urus organisasi. Organisasi saja yang kau urus, lemarimu sendiri kau lupakan, dasar aktivis!"


Lelaki ceking bernama Haris itu hanya tersenyum masam. Benar juga apa yang dikatakan Yanto, lemarimu sendiri kau lupakan. Ia segera mencari kain bekas untuk diberi percikan air untuk mengelap lemarinya. Tangannya yang lelah sampai bergetar. Yanto tersenyum.


"Tidurlah dulu, jangan dipaksa kalau lelah."


Yanto selesai memasukkan buku ke kardus saat jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Rasa lelah menjalari tubuhnya karena semalam ia tak bisa tidur, ia terpikirkan rencana pulangnya yang bersejarah. Ia ingin segera merebahkan diri menyusul Haris yang terlelap kelelahan.


"Sssttt hey anak baru! Namamu Si Kuning kan? Mana tuanmu?"


"Aku tak tahu, kudengar tadi ia masih di perjalanan."


"Lah, bagaimana caramu sampai di sini?"


"Aku dibawa mobil bak terbuka."


"Kuharap kau, Si Hitam, tidak mengalami hal yang sama dengannya. Kau sudah hitam, akan bertambah hitam jika naik mobil jenis itu dalam jangka waktu yang lama."


"Bagaimana rupa tuanmu, hey anak baru? Perangainya? Tindak-tanduknya?"


"Menurutku dia orang yang baik, sedikit ada perpaduan antara tuan kalian."


"Aku menyesal harus pergi dua jam lagi, aku punya rasa ingin tahu yang tinggi," ujar Si Hitam lirih.


"Hey anak baru, menurutmu mengapa tuanmu lebih memilih membawamu kemari? Mengapa tak membeli yang baru saja di sini? Lihatlah ukuranku dan Si Merah ini lebih besar daripada dirimu."


"Karena tuanku menyayangiku."


"Kau terlalu percaya diri, Nak."


"Memang, lagi pula lihatlah tubuhku, lebih ramping. Aku tidak akan memakan tempat terlalu luas."


"Sayangnya aku akan pergi. Jika tidak, kau akan kuhajar malam ini. Aku adalah pegulat yang ulung."


Si Kuning hanya bergeming dan tersenyum kecut.


"Ngomong-ngomong, bagaimana menurut kalian tentang wacana memperkecil ukuran kita ini?"


"Kukira tak masalah. Lihatlah aku, menurut para manusia itu, aku tidak terlalu besar dibandingkan yang lebih besar. Sepertinya kalianlah yang dimaksud."


"Enak saja! Lihat, di atasku ada benda yang dipakai manusia untuk menaruh buku, cukup berat!"


"Aku bisa mencobanya, lihat saja nanti," ujar Si Kuning tak mau kalah.


"Dasar anak baru! Merasa paling tahu saja! Tahukah kau betapa serakahnya manusia?"


"Maksudmu?"


"Para manusia itu sudah memiliki lemari sebesar aku, tapi masih saja membeli yang lain untuk bisa menampung kebutuhan mereka yang tak terhitung jumlahnya!"


"Ada-ada saja kau ini, argumentasimu sepertinya berlebihan," ujar Si Merah dengan sedikit sinis.


"Hey tidakkah kau lihat sekelilingmu?"


Si Merah dan Si Kuning saling menatap sekelilingnya.


"Para manusia itu senang membeli sesuatu untuk kebutuhannya yang semakin banyak, lihatlah penanak nasi itu! Juga dispenser di sampingnya! Mereka senang memanaskan air, setelah panas, mereka meniupnya supaya dingin. Mereka juga suka membeli barang baru yang sebenarnya tidak dibutuhkan dan mereka tidak bisa berhenti melakukannya. Lihatlah buku-buku itu! Tidak pernah dibaca, hanya jadi pajangan supaya terlihat pintar di depan manusia lainnya!


"Mereka juga senang membeli sesuatu yang bukan fungsinya, lihatlah rak buku di atasku ini! Rak itu harusnya dipakai menampung sepatu, tapi mereka dengan lancangnya menaruh di tempat tercela itu buku yang menurut mereka sumber pengetahuan. Itu pun jika buku itu dibaca, rata-rata mereka malas menggapainya karena tubuhku cukup tinggi. Hal itu pun jadi alasan mereka!"


Setelah mendengar khutbah Si Hitam, dengan sedikit segan Si Kuning pun mulai bicara lagi.


"Maaf, lalu apa yang sudah kau lakukan untuk mengatasi hal itu?"


"Oke, dengarkan baik-baik! Aku hanyalah pengamat. Aku tak bisa terjun memperbaiki situasi yang tidak mengenakkan itu. Menurut hematku, penyakit manusia itu begitu banyak, tidak hanya psikis seperti yang kusebutkan tadi, tetapi juga fisik. Si Merah, kau ingat waktu tuanmu itu sakit gigi? Keangkuhannya runtuh karena salah satu bagian tubuhnya yang perlu diperbaiki! Kesimpulanku, MANUSIA ITU MERASA BENAR SENDIRI DAN SELALU INGIN MENANG SENDIRI."


"Manusia memang serakah, dan kau sama saja dengan mereka."


"Maksudmu apa, hah?"


"Manusia pun ada yang hanya suka jadi pengamat. Menurut tuanku, pemerhati politik tidak sanggup menjadi aktor politik yang dihadapkan pada sulitnya situasi politik yang sering mereka kritik. Pemerhati hukum angkat tangan saat diminta mengadili perkara abu-abu padahal mereka senang menghujat kasus hukum yang sering terjadi. Begitu juga dengan pemerhati ekonomi yang hanya tahu solusi sebatas bibir, tak tahu cara menerapkannya."


"Ah kau ini, selalu merasa paling tahu saja, aku yang tertua di sini maka hanya aku yang benar!"


"Sudah sudah, lihatlah tuan-tuan kalian akan segera bangun!"


Yanto dan Haris terbangun bersamaan oleh dering telepon dari sopir mobil sewaan yang sampai di lokasi. Yanto segera menghubungi keempat kawannya untuk membantu mengangkut lemari. Empat orang ditambah Haris membantu mengangkut lemari milik Yanto. Si Hitam sudah di luar pintu.


"Jon, kau di depan! Malu aku saat nanti bertemu Sri di depan kamarnya."


"Tak mau, Herdi saja yang di depan. Dia kan tak tahu malu!"


"Sembarangan! Sepertinya Guntur tak mau di depan karena suka pada Sri, kan? Kau sajalah, cepat!"


"Usulku, Haris saja yang di depan, gimana?" ujar Mardi.


Haris pun mengalah. Namun sesaat kemudian, telepon genggamnya berbunyi, dari kawan satu organisasinya. Ia diminta datang secepat mungkin ke sekretariat karena rapat akan segera dimulai.


"Duh, kawan, aku harus pergi, maaf tidak bisa banyak membantu."


Keempat pengangkut lemari termasuk Yanto geram dibuatnya.


"Kau bantu aku sebentar saja sukar sekali, ini hari terakhirku di sini, bilang padaku kalau kau bosan tinggal sekamar denganku!" hardik Yanto sengit.


Haris tak menanggapi ocehan Yanto. Ia segera masuk kamar untuk bersiap-siap.


"Sudah kubilang, cepatlah Guntur, kau yang di depan!"


"Aku tak sudi! Mengangkut lemari ini juga tak sudi, beratnya minta ampun, malu pula!" bisik Guntur.


"Aku juga tak sudi!" ujar mereka serempak, masih berbisik.


"KALIAN MAU APA, HAH? SUDAH BERAPA KALI KUBANTU KALIAN SEBELUMNYA, AKU MINTA SATU HAL INI SAJA KALIAN TAK MAU!"


Mereka saling menatap dalam kebencian.


Terlihat Si Hitam tak sanggup menahan cobaan itu. Ia meringis kepanasan lalu air matanya menetes.


"Sudah kubilang kan? Manusia itu serakah! Dengarkan baik-baik!" ujar Si Merah.


"Ya, ada benarnya juga."

 

***

 

Ari AJ lahir di Cirebon, belajar menulis prosa, bergiat di GP Ansor Krangkeng Indramayu dan Forum Indramayu Studi dan menyukai film dan novel. Penulis bisa dihubungi surel [email protected] 
 



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Cerpen Lainnya

Terpopuler Cerpen

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×