Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Secarik Kertas yang Menenangkan

Secarik Kertas yang Menenangkan
Ilustrasi
Ilustrasi

Cerita Pendek Rinanda Salsa Sabila

Perlahan embun menyelimuti pori-poriku. Udara dingin kini mendekap tubuhku. Pagi di Bogor memang terasa sangat dingin. Terlihat di sekitarku, kabut begitu tebal seakan menggambarkan negeri di atas awan.

 

Aku menatap dari atas balkon rumah yang lumayan dekat dengan jalan. Kulihat banyak orang yang sedang berjalan kaki. Seketika mataku membulat melihat seorang ayah yang tersenyum bahagia ketika melambaikan tangan kepada anaknya yang akan berangkat sekolah menggunakan angkutan umum.

 

Aku tersontak kaget melihat adegan itu. Memoriku yang dulu tumbuh lagi . Air mataku tiba-tiba terjatuh mengingat kenangan bersama ayah. Berbeda dengan sekarang, aku merasa sangat kesepian. Ayah dan ibuku selalu bertengkar, entah apa sebab mereka terus bertengkar. Sehari-hariku hanya mengobrol dengan bibi. Itu pun kalau bibi ada waktu luang. Selebihnya aku hanya berteman dengan pena mungilku dan secarik kertas yang selalu kutuliskan cerita setiap harinya.

 
"Bugh."

Seketika ragaku terkejut. Siapa yang menepuk pundaku sekeras ini?

 

"Eh, Ayah? Ada apa Yah?" kagetku saat menoleh ke belakang.

 

"Nak, maafkan ayah selama ini. Ayah selalu bikin kamu sedih. Ayah tidak sangka apa yang ibu kamu lakukan," kata ayah perlahan.

 

Aku penasaran. Apa yang telah ibu lakukan? Apakah masalah ibu yang menjadi sebab mereka selama ini sering bertengkar?

 

"Memang salah ibu apa, Yah? Kasih tahu aku, aku sudah besar, Yah," aku merengek.

 

"Tidak apa-apa, Nak. Ayah salah ucap. Ayah kerja dulu. Jangan lupa makan," ujar ayah sambil pergi setelah mengelus kepalaku dengan lembut.

 

Aku hanya menunduk dan mengiyakan. Setelah itu aku merasa ibuku tidak ada di rumah. Aku menanyakannya pada bibi.

 

"Bi, Bi," panggilku dengan nada sedikit keras.

 

"Iya Non, ada perlu apa?"

 

"Ibu mana, Bi?"

 

"Maaf, Non tadi ibu bilang ke bibi katanya ada urusan.
 

"Nggak biasanya ibu pergi di hari libur. Udah Bi, makasih," kataku dengan nada terheran-heran.

 

Aku memilih ke kamar. Aku sudah rindu dengan penaku melukiskan semua keluh kesahku. Saat tiba di kamar kulihat dari sudut ujung sana hingga ujung sini banyak sekali foto-foto kebersamaan keluarga kami dari mulai aku kecil hingga sebesar ini. Aku langsung mendekat foto, itu membuka kembali memori yang kian terkubur. Hatiku sangat bahagia bisa bernostalgia. Meski hanya dalam lamunan, berharap semua ini akan terulang kembali. 

 

Hari demi hari kulewati dengan senyuman terpaksa, seakan dunia ini berpaling dariku. Sekarang aku sudah kelas 12 SMA. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat dengan sedikit kenangan saja.

 

Pagi di sekolah sangat ramai, banyak siswa-siswi berlalu lalang dengan kelompoknya. Sedangkan aku hanya sendiri ditemani pena dan buku catatanku. Ya sudahlah, aku hanya ingin menyendiri, menanggung masalahku sendiri. Setelah tiba di ruang kelas aku melihat sosok pria yang sedang tersenyum kepadaku. Aku balas senyumnya dan langsung duduk di bangkuku sendiri.

 

Sejenak aku melamun ternyata dia itu sainganku ketika kenaikan kelas memperebutkan peringkat. Dia selalu nomor satu, aku selalu di bawahnya; kadang nomor dua, dan kadang juga tiga. Dia adalah Zaid, sang juara kelas yang selalu care kepada semua teman sekelasnya. Begitupun kepadaku. Sebenarnya dia pernah bertanya kepadaku mengapa aku selalu menyendiri. Waktu itu aku mengabaikannya dan langsung pergi. Mana mungkin aku harus bercerita tentang keluargaku kepada dia, apalagi dia seorang laki-laki.

 

Pelajaran akhirnya dimulai. Sekarang pelajaran PAI. Bu Guru Ami yang mengajarnya. Bu Ami dikenal sangat penyayang kepada murid-muridnya.

 

"Allah mencintai orang-orang yang sabar. Maka dari itu kita harus bersabar apapun yang Allah takdirkan," ujar Bu Guru Ami saat mengisi mata pelajaran PAI.

***

 

Pelajaran telah berlalu, saatnya kami pulang. Awan yang kian menghitam menandakan akan turunnya hujan. Angkot yang berlalu lalang kini kian menyepi. Memang susah angkotan umum yang menuju rumahku. Aku putuskan untuk menunggu di area tunggu di dekat jalan, berharap angkotan umum menuju rumahku cepat datang.

 

Suasana begitu sepi karena anak-anak lainnya sudah pulang. Tinggal aku seorang yang sedari tadi menunggu angkutan umum yang belum datang juga. Mengisi kebosananku kuambil si mungil sahabatku, kuceritakan kisah hari ini. Agak lama kemudian, angkot pun datang. Aku langsung bergegas menaikinya. Selama perjalanan, kulihat banyak sekali perkebunan teh yang tampak begitu segar meskipun cuaca sedikit mendung. Akhirnya aku tiba di rumahku. Terlihat dari gerbang, bibi sudah menungguku di teras. Seharusnya ibukulah yang melakukan seperti yang bibi lakukan ini. Tapi apalah daya ibu sekarang sudah berubah.

 

"Assalamualaikum, Bi."

 

"Waalaikum salam, Non. Kenapa baru pulang? Bibi sangat cemas. Lain kali Non SMS bibi ya kalau pulang terlambat," kata bibi dengan tatapan penuh kasih sayang. Aku langsung tersenyum menanggapinya, "Siapp, bibiku tercinta."

 

Suasana begitu hening. Hanya ada aku dan bibiku di rumah. Memang aku anak tunggal, tapi tidak seperti anak tunggal lainnya yang selalu mendapatkan kasih sayang dari orang tua mereka.

***

 

Malam berlalu seperti biasa. Mentari kian menampakan sinarnya. Seperti biasa aku berangkat sekolah pukul 07.00 pagi agar setiba di sekolah aku bisa mengulang kembali pelajaran yang akan berlangsung pagi ini. Memang ini sudah menjadi rutinitasku setiap pagi. Saat aku fokus dengan buku yang aku baca, tiba-tiba Zaid menghampiriku aku langsung menunduk kembali.

 

"Selamat pagi Hafshah. Kamu lagi apa tuh?" tanya Zaid sembari meletakkan tasnya di bangku. Bangkuku dan Zaid memang berdekatan.

 

"Pagi juga. Biasa baca buku pelajaran," kataku sambil berusaha menampakkan senyuman. 

 

"Yeee.... Akhirnya Hafshah tersenyum juga," timpalnya cengengesan.

 

 Aku tidak menggubrisnya hanya menampakkan senyuman lagi.

 

"Aku lihat kamu suka nulis ya? Kalau aku ke taman pasti kamu sedang menulis," katanya seperti penasaran.

 

"Iya, emang aku suka nulis, ya mengisi waktu kosong aja."

 

"Kamu ikut aja ekskul kepenulisan, aku juga ikut. Bakat kamu harus disalurkan," ujarnya.

 

"Iya nanti aku coba."
 

 

Akhirnya kami terus mengobrol seakan sudah berteman dekat. Padahal, aku tidak suka mengobrol, apalagi bercanda dengan orang lain. Obrolan kami pun selesai dan segera mengikuti pelajaran pada hari ini.

 

Pelajaran hari ini akhirnya selesai. Seperti biasa aku pulang sendiri. Aku mengerutkan wajahku. Terlihat sekumpulan siswa sedang berdesakan melihat mading sekolah. Aku heran dan langsung menghampiri mereka.

 

"Awas, awas anak sok pintar mau lewat. Kasih dia jalan," teriak seorang siswa yang sedang berkerumun.

 

Hatiku sangat sakit mendengar perkataan itu. Aku berusaha tidak menggubrisnya dan langsung membaca poster yang ditempel di mading. Ternyata ada informasi lomba kepenulisan. Setelah membaca aku langsung membalikkan badan. Sebagian siswa menyurak dan mentertawakanku saat aku hendak pulang. Rasanya aku ingin cepat pergi dari sini, bahkan langsung menghilang. Tak terasa air mataku jatuh begitu derasnya.

 

Aku langsung pergi ke taman untuk menenangkan diri. Di taman aku hanya bisa melamun. Aku merasa semua masalahku begitu rumit. Tak hanya di rumah, di sekolah pun aku tidak betah.

 

Pada saat aku termangu begitu, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. "Bugh."

 

Aku sontak terkaget, aku langsung menoleh. Air mata masih menempel di pipi. Ternyata dia adalah Zaid.

 

"Hafshah kamu kenapa? Kok nangis? Pasti karena temen-temen tadi ya? Memang kurang ajar tuh," Zaid berkata sambil mengepalkan tangan. 

 

"Emmm tidak apa-apa Zaid. Aku baik-baik saja," kataku.

 

"Kamu tertutup seperti ini karena permaslaha di rumahmu ya? Emm maaf ya aku lancang," kata Zaid.

 

"Kamu yang sabar ya. Di dunia ini, setiap orang tentu akan dihadapkan dengan suatu masalah yang datang silih berganti. Saat menghadapi permasalahan, sebaiknya seseorang bersikap tenang sembari mencari jalan keluar dari setiap permasalahan," sambungnya.

 

"Bersabar dan ikhlas dalam menghadapi cobaan memang tak mudah. Namun, semuanya pasti bisa dilalui asal ada niat yang kuat. Yuk, semangat temanku."

 

Senyum Zaid memang membuat semua orang terpana. Aku hanya menjawabnya dengan tundukan dan senyuman.

 

"Eh, btw ada lomba kepenulisan loh. Kamu mau ikut nggak?" ujar Zaid lagi. Aku masih diam saja.

 

"Ayo ikut. Ikut kan? Masa enggak?" tanya Zaid tersenyum. Aku tersenyum akhirnya.

 

"Yang sabar ya Hafshah. Pasti masalah keluargamu akan teratasi. Sekarang kamu harus semangat menggapai cita-citamu, jadi penulis kan?"​​​​​kata Zaid lagi. Aku masih membalas hanya dengan senyuman.

 

Aku melihat Zaid tersenyum senang. Mungkin dia senang karena aku mulai terbawa pada suasana senang yang ingin dia hadirkan untuku.

 

***

 

"Mas aku ini gak salah. Kamu aja yang gak becus ngurus Hafshah."

 

"Kenapa kamu nyalahin aku? Seharusnya kamu sebagai ibu yang mengurus Hafshah."

 

"Sudah, aku capek. Aku sudah mengurusnya sejak kecil. Giliran kamu sekarang."

 

"Kamu sadar, memang kodrat ibu seperti itu? Tapi kamu hanya peduli dengan duniamu sendiri."
 

"Terserahmu sajalah."

 

Pertengkaran mereka menyambut kepulanganku. Dengan nada keras ibu langsung keluar dari pintu, tanpa melirik aku sedikit pun.

 

Aku langsung ke taman belakang rumah dengan pakaian sekolah masih melekat di tubuhku. Aku hanya melamun dan menangis. Aku ambil si mungil sahabatku, menuliskan kisahku hari ini yang sungguh menyayat hati. Entah mengapa dengan menulis hatiku merasa lebih lega.

 

Setelah hatiku agak tenang, aku pergi ke kamar untuk shalat dan tidur siang. Hari ini telah berlalu dengan linangan air mata . 

 

***

 

Pagi di sekolah sungguh sangat sejuk. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku. "Hafshah, tunggu."


Aku berhenti lalu menoleh padanya.

 

"Kamu disuruh ke ruang Kepsek. Cepat ke sana," katanya segera.

 

 Dengan nada ngos-ngosan, aku menjawab dengan kegugupan. Kenapa Kepsek tiba-tiba memanggilku?

 

"Baik. Terima kasih."
 

Aku langsung menuju ruang Kepsek. "Assalamualaikum. Permisi, Pak."

 

"Waalaikum salam. Silahkan masuk."
 

 

Aku langsung duduk di kursi siswa di di depan kepala sekolah.

 

"Gini Hafshah, katanya kamu suka nulis dan tulisanmu bagus. Jadi, bapak akan rekomendasikan kamu sebagai perwakilan perlombaan menulis tingkat sekolah yang akan datang. Kamu setuju?"

 

"Emmm.... Baik Pak, insyaallah."

 

"Sekolah sudah menyiapkan tutor untuk membimbingmu. Nanti kamu dibimbing sama tutor. Silakan sekarang kembali ke kelas."

 

"Baik, Pak. Terima kasih."

 

Aku heran kenapa Pak Kepsek tahu dengan hobiku. Tapi dukungannya itu membuatku ingin membuktikan bahwa aku bisa mewakili sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Aku juga ingin cemoohan yang selama ini aku terima tidak akan ada lagi.

 

Aku langsung mengabari Zaid yang ternyata sedang ada di taman.

 

"Hai Zaid, kamu tau enggak, aku jadi perwakilan sekolah ini dalam lomba kepenulisan. Aku sangat senang sekarang hobiku bisa tersalurkan," kataku sambil tersenyum..

 

"Alhamdulillah, semangat ya gapai cita walaupun banyak badai menerjang," Zaid menyemangatiku.

 

"Baik. Terima kasih, Zaid."

 

Setelah itu, aku menjadi seorang yang bersemangat. Perlahan-lahan aku mendapatkan teman, karena menjadi ceria dapat disukai banyak orang. Pelatihan demi pelatihan sudah aku lewati. Lomba kepenulisan yaitu sejenis esai sudah dikumpulkan pada sepekan lalu. Hasil lomba aku tunggu dari hanphone-ku, karena lomba diadakan online. Tepat pada pukul sembilan pagi ini pemenang esai akan diumumkan. Hatiku dag dig dug sekali? Apa mungkin aku bisa lolos?

 

Satu dua tiga.

 

"Yeeee aku berhasil. Aku jadi juara pertama," ucapku hampir berteriak karena kegirangan. Aku berpikir harus segera menemui kepala sekolah 

 

"Assalamualaikum Pak. Saya berhasil," kataku dengan nada ngos-ngosan menyampaikan berita itu.

 

"Waalaikum salam. Iya, Nak. Selamat ya. Bapak bangga sekali. Sekarang kamu bersiap ya untuk tahap selanjutnya. Nanti kamu juga bisa sharing pengalaman menulis kamu dari mulai apa kamu bisa melaju tingkat nasional."

 

"Baik, Pak. Terima kasih atas bimbingannya."

 

Keluar dari ruang kepala sekolah, aku langsung menemui Zaid. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya karena dia aku dapat berubah seperti ini dan tabah menjalani cobaan.

 

Sekarang aku cukup dikenal oleh  pelajar dari sekolah dan kota lainnya, karena di usia muda bisa membuat esai yang baik, begitupun cerita fiksi. Beberapa bulan kemudian, beberapa bukuku diterbitkan.

 


Masalah di rumahku memanglah sulit. Ayah harus bercerai dengan ibu. Aku harus bisa berlapang dada, meskipun kenyataan ini sangatlah pahit.

 

Bangkit dari keterpurukan bukanlah hal yang mudah. Seperti aku, seringkali harus ada seseorang yang dapat membangkitkan dari keterpurukan. Namun aku menyadari, dunia tak sesempit yang kita tahu. Tidak bijaksana jika aku hanya memikirkan satu sisi ataupun masalah yang aku anggap tak sanggup menanggungnya, sehingga takut untuk memulai sesuatu. Aku menyadari, harus dapat melihat sisi lain karena ada banyak energi positif yang belum aku ketahui sebelumnya.

 

"Alhamdulillah. Apabila kita menginginkan sebuah kesuksesan dan kebahagiaan maka kita harus mempunyai suatu kesabaran yang besar. Mengeluh pun tidak akan pernah bisa memperbaiki keadaan. Bersemangatlah dalam menjalani hidup dengan penuh keikhlasan," kataku dalam acara Talk Show yang diadakan secara besar-besaran di sekolah. Acara itu dihadiri banyak guru, bahkan ada alumni yang datang. Mereka mengaku tertarik karena pada waktu itu sekalian diluncurkan buku kelimaku yang kebetulan juga best seller.

 

Titimangsa, Sukabumi 4 Mei 2021.



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Cerpen Lainnya

Terpopuler Cerpen

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×