Daerah

Begini Cara agar Murid Mendapatkan Berkah Guru

Ahad, 24 Juli 2022 | 12:00 WIB

Begini Cara agar Murid Mendapatkan Berkah Guru

Ilustrasi: Untuk mendapatkan keberkahan ilmu, santri harus menjaga tata krama kepada guru. (Foto: dok NU Online)

Jakarta, NU Online
Seorang murid, selain dituntut untuk rajin belajar agar memperoleh ilmu yang banyak, hendaknya dapat meraih keberkahan ilmu. Keberkahan itu didapat murid dengan selalu memperhatikan tata krama kepada gurunya.


Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lumajang, Jawa Timur, KH Ahmad Qusyairi mengatakan hal itu saat mengisi pengajian kitab Adabul Alim wal Muta’allim karya Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari awal Juli 2022.


Pada pengajian yang dilaksanakan di studio Media Center An-Nahdloh (MCN) di Gedung PCNU 1 timur Alun-alun Lumajang sebagaimana diberitakan NU Online Jatim, Kiai Qusyairi menegaskan seorang murid terhadap gurunya yang notabene menjadi pembimbing jiwa harus dijaga betul tatak rama saat berinteraksi.


"Di antaranya saat menerima atau memberikan sesuatu kepada guru. Yaitu, menggunakan tangan kanan atau kalau bisa bahkan memberikan dan menerima dengan kedua tangan," kata Kiai Qusyairi.


Ia meneruskan penjelasan, apabila yang diberikan seorang murid berupa lembaran atau kitab yang ingin dibaca guru, maka harus dibukakan terlebih dahulu. "Jangan sampai guru mencari sendiri (halaman kitab) kecuali memang keinginannya seperti itu," jelasnya.


Kiai Qusyairi menyatakan, agar sebisa mungkin seorang murid tidak membuat repot gurunya, walaupun dalam hal-hal yang terlihat sepele. Seperti mendekat kepada guru saat memberikan sesuatu agar guru tidak memanjangkan tangan untuk meraihnya.


"Apalagi dengan cara dilempar, jelas ini tidak punya akhlak. Dan menurut Mbah Hasyim di kitab ini, saat mendekat jangan terlalu berlebihan seperti merangkak. Dan ketika duduk dengan guru jangan terlalu dekat, sehingga orang lain menganggap kita bukan muridnya, dikira temannya," lanjut kiai kelahiran Banyuwangi ini.


Bahkan, seorang murid tidak boleh meletakkan apapun termasuk anggota badannya di atas barang yang biasa digunakan seorang guru, seperti tikar, bantal, sajadah, dan lain sebagainya. Serta, menyiapkan apapun milik guru agar bisa langsung dipakai, seperti mengatur posisi sandal dan lainnya.


"Dan, misal saat kita memberikan pisau kepada guru, jangan kemudian pegangannya kita yang pegang, sedangkan yang tajam diberikan kepada guru, harus kita balik. Dan saat memberikan sajadah yang mau dipakai guru, sekalian digelarkan agar langsung bisa ditempati," tuturnya.


Saat berjalan bersama guru, hendaknya seorang murid berada di depannya saat malam hari dan di belakangnya saat siang hari. Selain itu, hendaknya pula memperhatikan hal-hal sekitar untuk melindungi guru dari sesuatu yang membahayakannya, seperti kondisi jalan dan saat banyak orang.


Dengan begitu, guru tidak terjebak dalam berdesak-desakan. "Jangan berjalan sejajar kecuali saat dibutuhkan, seperti saat guru bicara kepada kita hendaknya mendekat dari sebelah kanan, ada yang mengatakan dari sebelah kiri. Serta, menyediakan pelindung dari panas dan hujan dan jangan sampai badan atau baju kita bergesekan dengan badan atau baju guru kita," beberanya.


Kiai Qusyairi juga berpesan bahwa hal itu hendaknya dilakukan dengan tetap semata-mata karena Allah dan memuliakan guru, bukan karena lainnya. "Hal itu agar guru kita itu senang dengan perlakuan seperti itu, dan kita akan mendapatkan ridha guru dan ilmu kita berkah," tegasnya.


Editor: Kendi Setiawan