Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Ramadhan Momentum Bermunajat untuk Usir Covid-19

Ramadhan Momentum Bermunajat untuk Usir Covid-19
Nyai Hj Aisyah Ajhury, muballighah asal Jember. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Nyai Hj Aisyah Ajhury, muballighah asal Jember. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Jember, NU Online
Puasa Ramadhan dipastikan dimulai Jumat (24/4). Karena itu, kehadiran bulan yang  lebih utama dari seribu bulan itu, hendaknya disambut dengan gembira meskipun  bangsa Indonesia, bahkan dunia saat ini tengah dihunjam keprihatinan karena dampak Covid-19.

“Bulan Ramadhan harus kita sambut dengan suka cita meskipun kondisi kita serba terbatas dan dibatasi,” ujar muballighah asal Jember, Nyai Hj Aisyah Ajhury kepada NU Online  di kediamannya, kompleks Pesantren Fatihul Ulum, Desa Klatakan, Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember Jawa Timur, Kamis (23/4) malam.

Menurut Ning Aisyah, sapaan akrabnya, kehadiran bulan Ramadhan saat ini ibarat oase di tengah kegundahan masyarakat akibat menumpuknya permasalahan karena dampak Covid-19. Ramadhan, katanya, perlu dijadikan momentum untuk bermunajat kepada Allah, memohon agar Covid-19 segera ‘angkat kaki’ dari bumi Nusantara.

“Mari kita tingkatkan munajat kepada Allah, kita ramaikan bulan suci Ramadhan meskipun tetap di rumah,” jelasnya.

Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora IAIN Jember ini, mengeluarkan dua tips untuk beradaptasi dengan puasa Ramadhan. Pertama, melatih diri berpuasa di bulan Rajab dan Sya’ban atau puasa sunnah lainnya seperti Senin Kamis dan sebagainya untuk menyambut Ramadhan. Kebiasaan berpuasa sebelum Ramadhan itu penting dilakukan agar sistem metabolisme tubuh juga siap merespons pola makan yang berbeda selama Ramadhan.

“Kalau sudah terbiasa puasa sunnah, maka tubuh dan jiwa tidak kaget saat menjalani puasa Ramadhan,” ujarnya.

Kedua, puasa Ramadhan adalah ibadah yang lebih banyak mengandalkan kekuatan fisik, sehingga butuh menjaga kesehatan jasmani. Makanya, orang  yang lemah secara fisik tidak diwajibkan berpuasa tetapi wajib membayar fidyah. Oleh karenanya, dalam menjalani puasa Ramadhan perlu istirahat yang cukup, dan makanan yang masuk ke dalam perut, harus proporsional.

“Kalau pas buka puasa, biasanya nafsu makan tinggi, tapi jangan dituruti karena di situlah ujian orang berpuasa,” jelasnya.
 
Ning Aisyah menegaskan, Ramadhan adalah bulan di mana pintu-pintu surga dibuka dan pintu pintu neraka ditutup. Ramadhan merupakan bulan training bagi umat Islam di mana Allah sebagai trainer-nya dan para malaikat sebagai fasilitatornya.

“Sertifikat sebagai hamba Allah yang bertakwa akan kita terima jika sukses dalam training Ramadhan ini,” ungkapnya.

Di tempat terpisah Sekretaris Aswaja NU Center Jember, Ustadz Moch Kholili mengatakan bahwa Ramadhan adalah bulan yang mempunyai keistimewaan waktu. Oleh karena itu, umat Islam harus aktif untuk memanfaatkan waktu tesebut agar keistimewan bisa diraih.

“Makanya kita tidak boleh pasif, tapi harus aktif untuk menggunakan waktu yang istimewa itu dengan memperbanyak ibadah. Virus Corona insyaallah akan segera lenyap atas keistimewaan doa di bulan Ramadhan,” ucapnya.

Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×