Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Sepekan Wafatnya Kiai Maimoen, Gusdurian Gelar Khatmil Qur'an 

Sepekan Wafatnya Kiai Maimoen, Gusdurian Gelar Khatmil Qur'an 
Almaghfurlah KH Maimoen Zibair.
Almaghfurlah KH Maimoen Zibair.
Sumenep, NU Online
Wafatnya ulama sepuh yang sekaligus Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat utamanya sejumlah pemuda di Sumenep, Jawa Timur.
 
Diprakarsai Gusdurian, sejumlah organisasi menggelar khatmil Qur’an dan tahlil bersama di hari ketujuh wafatnya Pengasuh Pondok pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah tersebut, Senin, (12/8). 
 
"Almaghfurlah KH Maimoen Zubair merupakan ulama paku bumi. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam bukan hanya bagi kalangan Muslim, banyak kalangan lintas iman juga merasa kehilangan," kata Zaynollah. 
 
Ketua Forum Pemuda Kerukunan Umat Beragama Sumenep ini mengajak untuk meneladani dan melanjutkan perjuangan dari almaghfurlah Kiai Maimoen Zubair. 
 
"Sebagaimana kecintaan kita pada Gus Dur, keteladan dan nilai yang diajarkan oleh Mbah Maimoen harus tetap dijaga,” ungkapnya di Musholah Nurul Huda Gingging Bluto. 
 
Dirinya mengajak jamaah bersyukur diberi nikat mencintai ulama di tengah memudarnya kecintaan anak muda kepada seorang guru belakangan ini. 
 
Nunung Fitriana Pembina OSIS Nurul Huda dalam sambutannya sebagai tuan rumah mengingatkan pentingnya mengingat nasihat Mbah Maimoen sebagai sandaran bagi anak muda.
 
"Mbah Maimoen merupakan jangkar dunia. Kepergian beliau bukan lantas menghilangkan ajaran dan nasihatnya,” ungkapnya. 
 
Justru setiap dari perjuangan Mbah Mailoen harus tetap menjadi acuan bagi anak muda. “Beliau ulama paku bumi, kepergiannya jangan sampai membuat kita meninggalkan perjuangannya," jelasnya. 
 
Sementara itu, Kiai Murham Syujai selaku Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda sebelum memimpin tahlil menyampaikan pesan untuk memperkuat keyakinan dengan menjadikan ulama sebagai sandaran. 
 
"Belakangan mulai muncul paham beragam. Jika paham baru ini sudah menguasai anak muda, maka para orang tua yang merugi,” terangnya. 
 
Karenanya jangan sampai ragu jangan bimbang ulama seperti sosok KH Maimoen Zubair. “beliau adalah contoh ulama yang harus kita ikuti, Namanya jauh lebih besar melebihi kala hidup. Ini menandakan beliau adalah wali," tandasnya. 
 
Kegiatan diawali dengan khatmil Qur'an yang dipimpin Kiai Muhammad yang juga Ketua Lembaga Bahtsul Masail Kecamatan Ganding, Sumenep.
 
Tahlil dan khatmil Qur'an ini terselenggara atas kerja sama OSIS Nurul Huda, Komunitas Rumah Kita dan Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kecamatan Bluto, Sumenep. (Ibnu Nawawi)
 


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×