Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Benteng Akidah di Kaki Gunung Sinabung

Benteng Akidah di Kaki Gunung Sinabung
Letusan Gunung Sinabung (foto: Kompas)
Letusan Gunung Sinabung (foto: Kompas)
Salah satu riset yang dilakukan berkat dukungan bantuan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Dit PTKI) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama RI tahun anggaran 2018 adalah oleh Rahmat Rifai Lubis berjudul Benteng Akidah di Kaki Gunung Sinabung.
 
Riset dilakukan sebagai respons dan strategi dai dan daiyah dalam membina religiusitas umat Islam korban bencana letusan Gunung Sinabung. Dai dan daiyah tersebut termasuk minoritas di sekitar Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Sumatera Utara.
 
Riset didasari karena berdasarkan hasil laporan dari lembaga pemantau isu-isu keagamaan seperti  yang dilakukan  the Wahid Institute, setiap  tahunnya, kelompok minoritas di Indonesia sejauh ini masih mengalami masalah  serius. Mereka  kelompok  paling  rentan  korban  tindakan intoleransi, diskriminasi, hingga aksi  kekerasan.
 
Berdasarkan hasil penelitian lembaga The Wahid Institute bahwa terminogi minoritas tidak selalu indentik dengan kuantitas. Menurut lembaga tersebut jumlah atau kuantitas bukan  satu-satunya  standar mendefinisikan minoritas. 
 
Menyikapi hal ini, dai dan daiyah merupakan ujung tombak perjuangan dakwah minoritas. Hanya saja yang menjadi permasalahan tentang minimnya jumlah pendakwah, sarana dan prasana keagamaan, akan semakin memperparah keadaan umat.
 
Sebagaimana data yang dirilis oleh PD Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Karo, dalam buku Profil Dakwah Ummat Islam Kabupaten Karo 2009 memberikan informasi yang memprihatinkan tentang kondisi dakwah di Kabupaten Karo. Dari 158 masjid, ada sekitar 45 masjid yang tidak melaksanakan Shalat Jumat, 105 masjid tidak memiliki perkumpulan atau pengajian remaja masjid, 102 masjid tidak ada pembelajaran Al-Qur'an bagi anak-anak Islam. Dari 261 desa yang ada di Karo, 1168 desa tidak memiliki dai atau ustadz, 223 desa tidak pernah dikunjungi/didatangi oleh dai/ustad dari luar desa. Kemudian,160 desa yang tidak memiliki pengajian/perwiridan jamaah, 223 desa tidak ada pengajian/perwiridan remaja, dan 211 desa tidak ada sarana belajar Al-Qur'an bagi anak-anak. 
 
Dengan kondisi seperti ini maka tak salah jika banyak tokoh Sumatera Utara yang menyebut kondisi ini mempritahatinkan. Azhari Akmal Tarigan misalnya menyebut ‘Dakwah di Tanah Karo Mati Suri’. Sebuah tulisan yang mensosialisasikan kondisi dakwah di Karo, sekaligus mempromosikan agar umat Islam tergugah semangatnya untuk bersama-sama berjuang untuk pengembangan dakwah.
 
Informasi terdahulu dari Beni Irawan juga menarik untuk dijadikan sebagai acuan, sebab menurutnya pergeseran perilaku beragamaan juga kerap muncul karena persinggungan antara adat dan agama. Berdasarkan hasil penelitiannya perbedaan antara adat dan agama merupakan satu keadaan yang sulit yang dialami oleh dai maupun pemeluk agama Islam di Kecamatan Kaban Jahe, Kabupaten Karo Sumatra Utara, di mana mayoritas penduduknya adalah suku Batak Karo dan beragama Kristen. Ketika pelaksanaan adat bertentangan dengan Islam, masyarakat muslim Batak Karo hanya bisa pasrah menghadapi hal tersebut. Banyak hal-hal yang dipakai dalam adat Batak Karo bertentangan dengan apa yang diajarkan atau digariskan oleh Islam itu sendiri. Standarisasi makanan halal makanan juga menjadi tantangan.
 
Dalam penelitian ini akan mengkaji tentang respons dan strategi para da’i dalam membina keberagamaan umat Islam di Kabupaten Karo, yang dianggap perlu minoritas dan perlu pendampingan pasca bencana letusan gunung Sinabung.
 
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif analisis deskriptif. Moleong menjelaskan bahwa penelitian  deskriptif  yaitu  penelitian yang menggambarkan dan melukiskan  keadaan  objek  penelitian  pada saat sekarang  sebagaimana adanya berdasarkan fakta-fakta. Penelitian  ini merupakan usaha menggambarkan secara sistematis data dan karakteristik objek datau subjek yang diteliti secara tepat. 
 
Pengumpulan data dalam penelitian ini dillakukan melalui beberapa cara. Pertama observasi, atau pengamatan terhadap kondisi dan perilaku keberagamaan umat Islam pasca bencana, strategi pembinaan religiusitas oleh para dai; Wawancara kepada warga dan dai dalam hal pembinaan religiusitas. Dan, dokumentasi atau catatan warga dan para dai yang dianggap relevan dengan penelitian
 
Analisis data dilakukan secara interaktif. Menurut Sugiyono bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai selesai. Maksudnya, dalam  analisis  data  peneliti  ikut  terlibat  langsung  dalam menjelaskan dan menyimpulkan data yang diperoleh dengan mengaitkan teori yang digunakan.  
 
Adapun yang menjadi lokasi dalam penelitian ini adalah daerah yang terkategori zona awas, dalam hal ini terdapat empat kecamatan (Kecamatan Payung, Tiganderket, Namteran, Simpang Empat). Namun, karena banyak dari desa dalam kecamatan tersebut telah direlokasi maka untuk setiap kecamatan diambil dua desa saja sebagai perwakilan. Adapun desa-desa tersebut ialah Perbaji dan Kutambaru (Kecamatan Tiganderket), Desa Payung dan Selandi (Kecamatan Payung), Desa Garang-garang dan Kutarakyat (Kecamatan Namanteran), Desa Perteguhen dan Surbakti (Kecamatan Simpang Empat).
 
 
Penulis: Kendi Setiawan
Editor: Kendi Setiawan
 


Diktis Lainnya

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya