Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Melihat Sisi Lain Muktamar NU di Cipasung

Melihat Sisi Lain Muktamar NU di Cipasung
Momen Muktamar ke-29 NU di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: dok. istimewa)
Momen Muktamar ke-29 NU di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: dok. istimewa)

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar rapat kerja nasional (Rakernas) di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 24-25 Maret 2022 mendatang. Selama dua hari itu, PBNU memiliki sejumlah agenda.


Bagi saya sendiri, yang suka menelisik kembali informasi tentang sejarah NU, ketika mendengar nama Pesantren Cipasung, tentu akan teringat setidaknya kepada dua hal. Pertama, KH Ilyas Ruhiat, seorang tokoh kiai dari Pesantren Cipasung yang pernah menjadi Rais Aam PBNU pada tahun 1992-1999.


Memori kedua, yakni sebuah peristiwa yang terjadi di Cipasung pada tanggal awal Desember 1994. Tepatnya pada tanggal 1-5 Desember 1994 atau bertepatan dengan 27 Jumadil Akhir sampai dengan 2 Rajab 1415 H. Peristiwa tersebut kemudian kita kenal sebagai Muktamar ke-29 NU yang diselenggarakan di Cipasung.


Entah kebetulan atau tidak, tampaknya pemilihan Cipasung sebagai tuan rumah ini, sejatinya meneruskan pada Muktamar sebelumnya di Krapyak Yogyakarta, di mana pesantren yang diasuh oleh Rais Aam KH Ali Maksum yang dipilih menjadi tuan rumah.


Terkait tempat dan jadwal penyelenggaraan Muktamar, jauh hari telah ditetapkan. Pondok Pesantren Cipasung, Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat yang diasuh oleh Pelaksana Rais Aam, KH M. Ilyas Ruhiat menjadi tuan rumah penyelenggaraan Muktamar ke-29.


Melalui informasi yang terdapat dalam buku Agenda dan Panduan Muktamar ke-29 Nahdlatul Ulama, saya ingin mengajak para pembaca untuk berkenan membaca kembali peristiwa tersebut. Kilas balik penyelenggaraan Muktamar NU di Cipasung, yang biasanya ditulis sarat konflik, terutama pada momen suksesi kepemimpinan, namun kali ini saya ingin menyajikan dari sisi lain.


Terkait rangkaian kegiatan untuk memeriahkan Muktamar. Meski sudah dijadwalkan pada tanggal 1 Desember 1994, yang kemudian dibuka secara resmi pada tanggal 2 Desember, sejak hampir sepekan sebelumnya, yakni pada tanggal 26 November 1994, Pesantren Cipasung sudah mulai ramai dipadati pengunjung, terutama warga sekitar yang ingin datang ke bazar dan pameran.

 

Hampir setiap hari mereka disuguhi tontonan menarik, mulai dari pertunjukan seni qasidah, atraksi Pagar Nusa, hingga mendengarkan tabligh akbar yang disampaikan antara lain oleh KH Zainuddin MZ dan Hj Maria Ulfah.


Adapun para penampilannya, mulai dari yang lokal seperti Qasidah Tis’atun Nujum Cipasung, Qasidah Modern Al-Hikmah Tasikmalaya, Nasidaria Parahiyangan Tasik, Qasidah Modern At Tarbiyah Cilendek, Qasidah Al-Wardah Cintawana, hingga grup qasidah modern yang kala itu tengah populer Nasidaria Semarang.


Selain penampilan seni, digelar pula kegiatan lain seperti bakti sosial operasi katarak dan khitanan masal, dan santunan anak yatim. Menurut Ketua Panitia Muktamar ke-29 KH Munasir Ali hal tersebut sudah disiapkan jauh hari.


“Diproyeksikan banyak juga pengunjung yang akan turut mendatangi perhelatan itu. Karenanya tidak jauh dari arena Muktamar telah disiapkan berbagai acara pendukung yang akan disuguhkan selama Muktamar berlangsung,” terang Kiai Munasir sebagaimana tercantum dalam teks sambutannya sebagai Ketua Panitia Muktamar.


Penegasan Khittah NU

Hal kedua yakni terkait tema Muktamar. Dijelaskan pula oleh Kiai Munasir, bahwa tema yang diangkat pada gelaran Muktamar ke-29 yakni ‘Mengembangkan Prakarsa dan Ikhtiar Kolektif sesuai Tuntunan Khittah NU, untuk Meningkatkan Kualitas Pembangunan’


Terkait dengan tema tersebut Pelaksana Rais Aam yang juga Pengasuh Pesantren Cipasung, KH M. Ilyas Ruhiat dalam teks sambutannya mengatakan, tema yang menyertakan kata khittah NU ini menjadi penting untuk kembali diangkat dalam Muktamar Cipasung.


“Sebagaimana dimaklumi bahwa dengan ditegaskannya ‘Kembali kepada Khittah 1926’ sejak Muktamar Situbondo 1984, berarti NU telah mengukuhkan kembali kedudukannya sebagai Jam’iyyah Diniyah/Ijtima’iyah, dengan harapan agar lebih memberikan manfaat yang besar bagi warganya, dan memberikan tuntunan agar NU dalam perjalanan pengabdiannya tidak menyimpang dari Khittahnya,” tegas Kiai Ilyas.


Terakhir namun tak kalah penting, menjelang pembukaan Muktamar, rombongan dari panitia pusat dan lokal berziarah ke makam pahlawan nasional KH Zaenal Mustofa dan ulama lain di Cipasung seperti Kiai Ruhiat dan lain sebagainya.

 

Kiai Zaenal merupakan tokoh kiai pimpinan Pesantren Sukamanah yang gugur pada masa pendudukan Jepang. Sedangkan Kiai Ruhiat yang merupakan ayah dari KH Ilyas Ruhiat, merupakan pendiri Pesantren Cipasung pada tahun 1930.


Kegiatan ziarah ke para tokoh ulama di Cipasung dan sekitarnya ini barangkali yang membuat acara Muktamar tetap ‘terkendali’, meskipun kita tahu, banyak pihak yang ingin mengacaukannya.


Penulis: Ajie Najmuddin

Editor: Fathoni Ahmad



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Fragmen Lainnya

Terpopuler Fragmen

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×