Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Jumpa Sayyid Ahmad, Gus Ulil Berkisah tentang Ayahnya Bertemu Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki

Jumpa Sayyid Ahmad, Gus Ulil Berkisah tentang Ayahnya Bertemu Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki
H Ulil Abshar Abdalla dan Sayyid Ahmad. (Foto: FB Ulil Abshar Abdalla)
H Ulil Abshar Abdalla dan Sayyid Ahmad. (Foto: FB Ulil Abshar Abdalla)

Jakarta, NU Online

H Ulil Abshar Abdalla berkesempatan sowan langsung ke kediaman Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawi al-Maliki di Rusaifah, Makkah, Rabu (13/7/2022). Momen inilah yang sebetulnya sangat dinanti olehnya sejak puluhan tahun lalu.


“Waktu saat melaksanakan haji pada tahun 1990-an, ayah saya sempat sowan ke ndalem Sayyid Muhammad dan mendapatkan banyak kitab karya beliau. Sejak itu, saya bermimpi: kapan bisa sowan ke Sayyid Muhammad,” tulis Gus Ulil di akun Facebook pribadinya pada Kamis (14/7/2022).


Penantian panjang itu bermuara pada malam kemarin. Ia diberikan kesempatan untuk dapat sowan langsung dan bertemu dengan putra Sayyid Muhammad, yakni Sayyid Ahmad. “Malam ini, mimpi itu terkabulkan. Bersama para kiai dari PBNU, saya memasuki gerbang kediaman Sayyid Ahmad al-Maliki menjelang Maghrib,” lanjutnya.


Ia bersama rombongan tiba saat Maghrib dan melaksanakan jamaah Maghrib di sana. Setelah itu, mereka turut mengikuti pengajian dua kitab, yakni (1) kitab “al-Dzakha’ir al-Muhammadiyyah” karya Sayyid Muhammad, dan, kedua, kitab “Inarat al-Duja” karya Syaikh Muhammad ibn Hasan al-Massyat (lulusan Madrasah al-Shaulatiyyah). 


Setelah jamaah Isya’, terangnya, ada pembacaan semacam salawat dengan lagu yang indah sekali, diiringi dengan terbangan.


Di ujung acara, para kiai NU dipersilakan untuk mampir ke ruang khusus Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki. Saat itulah, ia membayangkan ayahnya sowan kepada Sayyid Muhammad.


“Saat memasuki ruangan ini, saya tak kuasa menahan tetesan air mata, karena merasakan sebuah berkah yang tak berhingga. Di ruangan ini, kemungkinan, ayah saya sowan kepada Sayyid Muhammad beberapa puluh tahun lalu,” tulisnya.


Gus Ulil menceritakan bahwa ia telah mendengar nama Sayyid Muhammad sejak usia 13 tahun. Saat itu, ia mendengar ceramah berbahasa Arab di kediaman kakeknya, Kiai Muhammadun Pondowan, Tayu, Pati.


“Itu adalah ceramah Sayyid Muhammad,” tulis Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini mengutip pernyataan ayahnya, KH Abdullah Rifa’i.


Meski telah mendengar namanya, tetapi ia belum betul-betul mengenal sosok ulama yang ceramahnya didengar itu. Dalam berbagai perbincangan maupun pengajian, kakeknya sering menyebut nama ulama asal Makkah tersebut.


Beberapa tahun kemudian, ia berusaha mengenal sosok yang kerap disebut kakeknya itu. Mula perkenalannya adalah saat itu membaca kitab yang berjudul, “Mafahim Yajibu An Tusahhah” (paham-paham yang harus diluruskan) karya Sayyid Muhammad. 


“Kitab ini menjadi bacaan favorit para warga NU karena memuat pembelaan atas amalan-amalan warga nahdliyin yang selama ini kerap dibidahkan oleh ulama Wahabi. Sayyid Muhammad dipandang sebagai pembela akidah ala Ahluassunnah wal Jamaah (kerap disingkat Aswaja) di Saudi Arabia secara khusus, dan di dunia Islam secara umum,” terang Gus Ulil.


Sayyid Muhammad merupakan ulama kelahiran Makkah pada tahun 1944 dari keluarga para ulama besar mazhab Maliki di Mekah. Leluhurnya adalah para ulama utama yang mengajar mazhab Maliki di Masjidil Haram.


Sejak tahun 1970an, terang Gus Ulil, Sayyid Muhammad sudah mendapatkan semacam ‘kursi’ untuk mengajar di Masjidil Haram. Namun belakangan, karena desakan dari ulama Wahabi yang tidak menyukainya, akhirnya dia tidak lagi bisa mengajar di sana, dan membuat semacam “halaqah” pesantren secara terpisah.


“Pesantren dan sekaligus ndalem-nya di kawasan Rushaifah (di daerah yang dikenal dengan Misfalah) menarik banyak santri dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia. Sayyid Muhammad memiliki banyak santri dari Indonesia,” katanya.


Sayyid Muhammad wafat pada tahun 2004. Pesantrennya saat ini diteruskan oleh puteranya: Sayyid Ahmad ibn Muhammad ibn Alawi al-Maliki yang ia temui bersama para kiai NU malam itu.


Sebelum pamit, semua rombongan diberi kehormatan sebuah sorban yang langsung dipasangkan oleh Sayyid Ahmad ke kepala masing-masing. Baginya, hal tersebut merupakan sebuah keberkahan.


“Semoga Sayyid Ahmad diberikan umur panjang dan kesehatan. Dia adalah “cagak” aqidah Ahlissunnah wal Jamaah di tanah Arab saat ini. Dialah yang menjadi “tali penghubung” antara tradisi keilmuan Sunni di masa sekarang dengan masa lampau, dengan generasi Ibn Hajar al-Haitami dll,” pungkasnya.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Internasional Lainnya

Terpopuler Internasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×