Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Lebaran di Tunisia, Ini Makanan Khas yang Disajikan

Lebaran di Tunisia, Ini Makanan Khas yang Disajikan
Lebaran di Tunisia, Ini Makanan Khas yang Disajikan. (Foto: Istimewa)
Lebaran di Tunisia, Ini Makanan Khas yang Disajikan. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online 
Indonesia punya opor ayam sebagai makanan khas yang disajikan pada lebaran. 'Opor ayam'nya Tunisia adalah lubia. 


"Makanan yang hampir mirip opor ayam, yakni lubia," kata A'wan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tunisia Ahmad Tamami kepada NU Online pada Jumat (6/5/2022). 

 

Lubia, makanan yang hampir sama dengan dengan opor ayam


Kaldunya yang kental dengan potongan daging kambing dan campuran sejenis kacang tunggak, lanjut Tamami, menjadikan masakan ini wajib disajikan di hari raya Idul Fitri


Selain itu, ada Sup Mloukhiyah. Makanan tersebut berbahan dasar daun mloukhiyah yang direbus sampai hitam melekat dengan campuran daging sapi atau daging ayam, sehingga warnanya hampir mirip rendang di Indonesia.


"Namun cita rasa daunnya yang khas tentu memiliki nilai tersendiri," katanya. 

 

Bentuk Sup Mloukhiyah, berbahan dasar dauh mloukhiyah


Tidak ketinggalan pula cemilan atau kue khas yang orang Tunisia sajikan di hari tersebut, yaitu makroud. Kue ini berbentuk persegi empat dengan isi kurma atau kacang almon.


Di hari lebaran juga, masyarakat Tunisia saling bertegur sapa seraya mengucapakan selamat Idul Fitri, "Iedukum Mabrouk". Sementara orang yang diberi ucapan tersebut menjawab, "Kullu am wa antum bi khair", semoga kebaikan menaungimu sepanjang tahun.


"Dan sapaan hangat itu selalu diucapkan ketika berpapasan di jalan, baik kepada orang yang dikenal atau kepada orang asing," katanya. 


Tamami menyebut bahwa ucapan tersebut juga sebagai bentuk permohonan maaf satu sama lain.


"Semua orang berbahagia dan saling menebar senyuman. Dan juga memberikan uang jajan kepada anak-anak kecil, persis seperti tradisi di Indonesia," jelasnya. 


Tak beda dengan Indonesia, masyarakat Tunisia juga sibuk dengan berkunjung ke sanak famili dan kerabat terdekat. Bahkan tradisi mudik juga ada, meskipun tidak seantusias seperti di tanah air.


Tamami mengaku rindu tanah air mengingat suasana malam lebaran di Tunisia tak seperti di Indonesia. Pasalnya, tak ada takbir yang menggema dari masjid-masjid, apalagi takbir keliling. 


"Itu semua tidak ada, kecuali takbir yang menggema setelah shalat Subuh sampai menjelang shalat id dilaksanakan," kata Ketua PCINU Tunisia 2020-2021 itu. 


Masyarakat Tunisia juga tidak berziarah secara khusus di hari Idul Fitri. Sebab, jelas Tamami, notabenenya orang Tunisia sendiri rutin menziarahi leluhurnya setiap hari Jum'at. 


"Sehingga pas hari raya, mereka lebih cenderung ingin bercengkrama dengan keluarga dan saudara di rumah," terangnya. 


Adapun warga Indonesia di Tunisia hampir setiap tahunnya selalu membuat tradisi yang hampir sama seperti di Indonesia, yaitu berkumpul di satu tempat, mulai dari saling maaf-maafan, berpelukan sampai berswafoto bersama.


Sementara inti acara adalah beramah tamah dan menyantap hidangan lebaran khas Indonesia. Tahun ini menu yang disajikan adalah opor ayam, bakso, dan masakan-masakan khas yang menjadikan penawar rindu terhadap suasana lebaran bersama keluarga di tanah air.


Pewarta: Syakir NF
Editor: Syamsul Arifin 



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Internasional Lainnya

Terpopuler Internasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×