Lingkungan

Penanaman Sagu di Perdesaan Papua Menjaga Ekosistem Gambut

Ahad, 26 April 2020 | 01:30 WIB

Jakarta, NU Online
Badan Restorasi Gambut (BRG) terus memaksimalkan penanaman sagu di 12 Desa di Kabupaten Mappi dan Merauke, Provinsi Papua. Langkah tersebut diambil sebagai wujud komitmen BRG dalam merevitalisasi sosial ekonomi masyarakat Papua terutama mereka yang hidup di perdesaan gambut. 
 
Selain itu berdasarkan penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) komoditas sagu memiliki karbohidrat berkualitas tinggi dibandingkan dengan singkong dan tanaman umbi-umbian lainnya. Dorongan untuk menanam kembali sagu juga dilakukan dalam rangka mempertahankan pangan lokal asli Papua. Sebab, memasuki era modern seperti sekarang ini makanan pokok berbahan sagu terus mengalami penurunan. 
 
Dinamisator BRG Provinsi Papua, Markus Ratriyono, mengatakan di wilayah Provinsi Papua tepatnya di 12 Desa yang tersebar di Kabupaten Mappi dan Merauke kegiatan restorasi fokus pada peningkatan sosial ekonomi warga. Gambut di Papua, lanjutnya, cenderung masih muda sehingga tingkat kebakarannya masih terkendali. 
 
Terkait penanaman sagu, pihaknya sengaja memfokuskan penanaman mengingat tanaman sagu mulai hilang di perkampungan atau di pedesaan Papua. Bagi dia, menanam sagu adalah menjaga ekosistem gambut di Papua. Sebab, dengan penanaman sagu lahan gambut dapat bermanfaat untuk masyarakat dan dapat berdampak positif untuk kelestarian alam.
 
"Menjaga sagu sama juga sebenarnya dengan mejaga gambut yang mereka punya, karena selama ini sagu alam itu banyak tumbuh di lahan gambut yang jauh dari perkampungan," katanya kepada NU Online, Senin (20/4).
 
Perlu juga diketahui, struktur tanah gambut di Papua jauh berbeda dengan struktur tanah gambut di Sumatera dan Kalimantan. Menurut Markus, kondisi gambut di Papua rawanya masih banyak yang terendam sehingga tidak mudah terbakar.  
 
"Agak beda dengan di Kalimantan dan Sumatera yang pengeringan gambutya sudah sangat massif. Sehingga yang terbakar itu lapisan gambutnya, karena sudah kering sekali. Jauh lebih sedikit di Papua," katanya. 
 
Sebelumnya Kepala BRG RI Nazier Foead menginstruksikan agar kawasan gambut di Papua dijadikan lahan pertanian sagu. Menurutnya, lahan gambut di Papua  masih murni sehingga dapat juga dijadikan sebagai lokasi objek wisata yang dapat meningkatkan perekonomian warga setempat. Apalagi, kondisi tanah gambut di Papua 90 persen masih sangat aman. 
 
"Sehingga, tak ragu-ragu lagi bahwa hal ini bisa menjadi potensi yang bagus bagi Papua di masa mendatang. Sebab, apabila dikelola dengan baik, saya yakin nilai tambah dari keberadaan lahan gambut akan menjadi prospek yang cerah bagi provinsi ini," tutur dia.
 
Berdasarkan catatan BRG sendiri, gambut di Papua khususnya di Kabupaten Mappi telah melindungi dan merestorasi sekitar 500.000 hektar lahan gambut sebagai bagian dari rencana pembangunannya. Sebagian besar di antara wilayah yang akan direstorasi tersebut merupakan kawasan kubah gambut utuh.
 
Jika melihat struktur tanahnya sekitar 60-an persen dari wilayah Kabupaten Mappi atau 16.000 kilometer persegi tersebut memang termasuk wilayah berhutan dan sebagian besarnya ada pada lahan gambut. Cadangan karbon di kabupaten ini diperkirakan mencapai 177.999.978 ton. Sementara potensi kekayaan keanekaragaman hayati sangat kaya dengan spesies satwa seperti kakatua raja, kasoari, kanguru dan banyak spesies bernilai konservasi tinggi lain.
 
BRG pada tahun 2017 sampai dengan 2020 tahun ini telah melakukan pembangunan infrastruktur pembasahan gambut, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan penguatan kelembagaan dan kapasitas masyatakat. 
 
Kejadian alam yang merusak lahan gambut di Papua sendiri pernah terjadi 1 Juli 2015 hingga 20 Oktober 2015 lalu, dimana luas hutan dan lahan yang terbakar di Papua mencapai 354.191 hektar. Kebakaran banyak terjadi di Kabupaten Merauke dan Mappi. Di Kabupaten Mappi, sekitar 25.000 hektar lahan gambut rusak akibat kebakaran besar tersebut
 
Pewarta: Abdul Rahman Ahdori 
Editor: Kendi Setiawan