Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

5 Cara Menghindarkan Anak dari Trauma Masa Kecil 

5 Cara Menghindarkan Anak dari Trauma Masa Kecil 
Ilustrasi: Mengajak anak bercerita tentang kehidupannya di sekolah atau lingkungan pertemanannya adalah cara sederhana membangun komunikasi baik dan terbuka antara orang tua dan anak.
Ilustrasi: Mengajak anak bercerita tentang kehidupannya di sekolah atau lingkungan pertemanannya adalah cara sederhana membangun komunikasi baik dan terbuka antara orang tua dan anak.

Jakarta, NU Online
Pengurus Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKK PBNU), Ervi Siti Zahroh Zidni Ma’ani bagikan lima cara menghindarkan anak dari trauma masa kecil. 


"Pertama, validasi perasaan anak. Validasi adalah cara untuk memberi tahu seseorang bahwa kita memahaminya. Merasa dipahami adalah unsur penting untuk merasa terhubung dan didukung," kata Ervi lewat keterangan tertulis yang diterima NU Online, Kamis (23/6/22).


Ia juga mengungkapkan validasi perasaan anak sangatlah penting karena kemampuan seorang anak untuk mengatur emosi nantinya akan memengaruhi hubungan dengan keluarga, teman sebaya, prestasi akademik.


"Validasi perasaan juga turut pengaruhi kesehatan mental jangka panjang seperti mencegah dari trauma, hingga kesuksesan anak kelak," katanya lagi.


Kedua, lanjut dia, cara komunikasi yang terbuka. Mengajak anak bercerita tentang kehidupannya di sekolah atau lingkungan pertemanannya adalah cara sederhana membangun komunikasi baik dan terbuka antara orang tua dan anak.


"Sikap terbuka ini akan membuat keduanya saling memahami satu sama lain," jelasnya.


Selanjutnya, cara ketiga adalah hormati anak dengan menghargai keputusannya. Bagi Ervi, hal itu sangat penting dilakukan setiap orang tua, tidak menuntut anak untuk menuruti setiap keinginan orang tua melainkan mengapresiasi usaha dengan tetap mengarahkannya. 


"Orang tua perlu belajar untuk menghargai keputusan yang diambil anak. Itu penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak," jelas dia.


Keempat, selalu melibatkan anak dalam berbagai keputusan di rumah. Pelibatan anak dalam pengambilan keputusan, terang dia, membuat anak belajar untuk menyuarakan pendapatnya, selain itu orang tua juga akan terbantu untuk mengenal lebih dalam karakter dan kebutuhan anaknya.


"Cara ini mungkin terkesan sepele tapi berdampak besar," ujarnya.


Cara kelima, ungkap Ervi, terapkan pola asuh mindful parenting. Pola asuh ini berfungsi sebagai remot pengendali bagi orang tua dalam mengatur emosinya.  Artinya, bersikap mindful itu sama dengan melepaskan seluruh perasaan di masa lalu dan fokus pada apa yang ada sekarang. 


"Pola asuh ini dilakukan dengan kesadaran penuh tanpa adanya penghakiman.  Jadi, sebelum mengendalikan emosi usahakan mengendalikan emosi dan perilaku kita terlebih dahulu," jelasnya.


Pewarta: Syifa Arrahmah
Editor: Kendi Setiawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×