Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Ai Rahmayanti, Aktivis Perempuan Muda di Jajaran Wasekjen PBNU

Ai Rahmayanti, Aktivis Perempuan Muda di Jajaran Wasekjen PBNU
Ai Rahmayanti, Aktivis Perempuan Muda di Jajaran Wasekjen PBNU. (Foto: Istimewa)
Ai Rahmayanti, Aktivis Perempuan Muda di Jajaran Wasekjen PBNU. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online
Ai Rahmayanti merupakan seorang aktivis perempuan muda yang tercatat namanya di jajaran Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Perempuan kelahiran Garut, 8 November 1985 ini menyebut bahwa keterlibatan perempuan di dalam struktur PBNU, terutama di jajaran tanfidziyah merupakan langkah berani untuk memulai sebuah perubahan di lingkungan NU.


Menurut Ai, hal tersebut merupakan agenda Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang memiliki visi ‘Menghidupkan Gus Dur’. Ia mengatakan bahwa KH Abdurrahman Wahid sangat memberikan perhatian terhadap keterlibatan perempuan di dalam segala hal.


“Buktinya sebagai presiden, beliau (Gus Dur) mampu mewarnai seluruh kebijakan pemerintahan dengan adanya PUG atau pengarusutamaan gender dalam semua aspek yang hasilnya terasa hingga sekarang, juga keputusan dalam forum-forum besar di NU yang berbasis gender,” kata Ai, kepada NU Online, Sabtu (15/1/2022) siang.


Ia meyakini, PBNU di bawah kepemimpinan Gus Yahya telah menunjukkan komitmen kuat untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam seluruh aspek kehidupan. Menurut Ai, NU menegaskan komitmennya untuk ikut menginisiasi transformasi kultur kesetaraan yang kemudian mampu menjadi dinamisator pembangunan, dengan memberdayakan perempuan Indonesia pada proporsi yang sebenarnya.


Sebagai pengurus, Ai akan berusaha memahami visi Gus Yahya untuk diturunkan menjadi program-program strategis dalam merespons arus perubahan. Terutama pada dimensi kehidupan yang berkaitan dengan kebutuhan dan problematika keperempuanan.


“Dengan tetap berpegang pada kaidah al-muhafadhatu ‘alal qadimisshalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yaitu memelihara tradisi lama yang masih baik (relevan) dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik,” katanya.


Selama lima tahun ke depan, Ai akan menjalankan empat agenda Gus Yahya dengan perspektif perempuan di dalamnya. Pertama, melakukan konsolidasi organisasi (jam’iyyah). Harapannya, seluruh pengurus wilayah dan cabang NU terdapat pengurus perempuan. Begitu pula lembaga-lembaga agar bisa dipimpin oleh perempuan.


Kedua, Ai akan bekerja untuk memperkuat komitmen keberagaman. Ia menuturkan bahwa moderasi beragama berbasis perempuan dan keluarga menjadi bagian dari membangun peradaban.


Ketiga, perdamaian dunia dengan mengekspor Islam Nusantara, yang tentu di dalamnya ada peran perempuan khas Indonesia. Keempat, membangun kemandirian jam’iyyah melalui (gerakan) Nahdlatut Tujjar di lingkungan perempuan Nahdliyyin, pemberdayaan ekonomi dan pendidikan untuk perempuan,” pungkasnya.


Pengalaman organisasi Ai Rahmayanti
Nama Ai Rahmayanti sebenarnya sudah tidak asing di kalangan aktivis perempuan, baik di dalam maupun di luar NU. Ia merupakan Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) masa khidmah 2014-2017.


Ai juga berkiprah di Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) PBNU 2015-2021 pada bidang perlindungan perempuan dan anak, dilanjutkan menjadi koordinator demografi. Ia menjadi Koordinator Departemen Gender dan Budaya di Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) 2017-2022.


Selanjutnya, sejak 2020 hingga saat ini, Ai masih menjadi salah satu pengurus di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (K-Sarbumusi) yang menangani Pekerja Migran Indonesia (PMI).


Sementara itu, Ai juga memiliki perjalanan aktivisme di luar lingkungan NU. Pada 2006-2007, ia bertugas sebagai Koordinator Pelatihan dan Pemberdayaan di Pusat Studi Perempuan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung.


Kiprahnya dilanjut dengan menjadi Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan di Perhimpunan Mahasiswa Kota (Permata) Intan Garut, pada 2008-2009. Ai juga pernah menjabat sebagai Presidium Mahasiswa dan Pemuda Jawa Barat di Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), pada 2010-2012.


Lalu pada 2017-2020, Ai menjadi Wakil Ketua Yayasan Kowani Anak dan Remaja (YKAR). Pada periode 2020 hingga 2025 mendatang, ia menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Rumah Perempuan dan Anak (RPA) serta Wakil Sekretaris Bidang Agama di Kongres Wanita Indonesia (Kowani).


Tugas Ai semakin bertambah, setelah namanya tercatat untuk bertugas sebagai salah seorang Wasekjen PBNU masa khidmah 2022-2027 yang telah resmi diumumkan resmi pada Rabu (12/1/2022) lalu.


Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Muhammad Faizin



Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya