Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Generasi Z Memaknai Kemerdekaan: Bangsa Indonesia Harus Beranjak dari Persoalan SARA

Generasi Z Memaknai Kemerdekaan: Bangsa Indonesia Harus Beranjak dari Persoalan SARA
Ilustrasi generasi Z.
Ilustrasi generasi Z.

Jakarta, NU Online

Hasil sensus penduduk yang dirilis Badan Pusat Statistik tahun 2020 menunjukkan komposisi penduduk Indonesia sebagian besar berasal dari Generasi Z atau Gen Z atau generasi yang lahir antara tahun 1997 sampai dengan 2012.  


Generasi Z dinilai memegang peran penting dan memberikan pengaruh pada perkembangan Indonesia saat ini dan nanti.

 

Karena itu, semangat Gen Z dibutuhkan untuk mengisi kemerdekaan Indonesia terlebih saat ini usia bangsa Indonesia tak lagi muda, pada 17 Agustus 2022 mendatang memasuki usia ke-77 tahun. Lantas, apa sih makna kemerdekaan dalam kacamata generasi Z?


Mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Muhammad Ichsan Yahya (21) mengatakan, kemerdekaan Indonesia adalah capaian sebuah proses melawan penjajah dari setiap masanya.

 

Di mana seiring berjalannya waktu istilah penjajah ini berkamuflase. Misalnya, saat ini generasi Z tengah dihadapkan derasnya arus budaya dari luar yang mulai mengikis budaya asli Indonesia. 


“Ini mulai meredupkan kecintaan para generasi Z untuk mengenal siapa dirinya sendiri. Karenanya kemerdekaan ini harus kita capai bersama dan tidak akan pernah tercapai kalau tidak berusaha,” ujar Ichsan kepada NU Online, Senin (8/8/2022).


Secara de facto, kata Ichsan, Indonesia telah merdeka namun dalam berbagai hal Indonesia belum bisa dikatakan merdeka. Ia pun menyoroti persoalan kemiskinan, ketidakadilan, utamanya perbedaan yang kerap dinilai menghambat kreativitas anak bangsa.


“Masalah kita hanya berkutik pada perbedaan ras, suku, agama sehingga tidak bisa naik kelas pada masalah lain yang lebih besar seperti inovasi dan kreativitas anak bangsa,” kata penggerak komunitas Gusdurian Bekasi Raya ini.


Sebagai anak bangsa, pemuda yang pernah menamatkan pendidikan di Pesantren Al-Mahrusiyah Lirboyo ini mengaku belum memberikan banyak kontribusi namun ia bertekad akan terus melakukan perubahan demi tanah airnya. 


“Banyak hal yang belum saya lakukan untuk Indonesia, akan tetapi saya mencoba melakukan perubahan dari diri saya sendiri langkah awal dengan ikut dalam gerakan kemanusiaan, keadilan dari organisasi Gusdurian. Peningkatan ekonomi melalui organisasi Hipmi, organisasi anti korupsi. Ke depan saya akan terus berkontribusi lebih luas untuk negeri tercinta saya,” tuturnya. 


Jelang Hari Ulang Tahun ke-77 Kemerdekaan Indonesia (HUT RI) ia berharap setiap anak bangsa yang lahir dari generasi baby boomer, generasi X, generasi milenial, dan generasi Z bisa selaras dalam menciptakan inovasi, kreativitas dan karya-karya untuk bangsanya. 


“Dibutuhkan keselarasan dari generasi X generasi milenial, generasi Z serta generasi baby boomer dalam membangun Indonesia, menyatukan apa-apa yang tidak dimiliki generasi sebelumnya sehingga dapat menciptakan inovasi, kreativitas dan karya yang bisa membangun bangsa kita,” harapnya.


Senada, pemudi asal Jakarta Leni (20) berharap jelang perayaan kemerdekaan Indonesia ke-77 ini tidak ada lagi persoalan kemiskinan, korupsi, dan perpecahan antar-umat agama.

 

“Pokoknya, nggak ada lagi beda-bedain antar-agama, nggak ada lagi barrier (penghalang) antara satu agama dengan agama lain,” tegasnya. 


Kontributor: Suci Amaliyah

Editor: Fathoni Ahmad



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×